RADAR JOGJA - Penularan Antraks mewabah di Kabupaten Gunungkidul, DIJ. Kasus penyakit Antraks ini menyebabkan seorang warga Semanu, Gunungkidul, meninggal dunia dengan diagnosis suspek Antraks.
Penularan Antraks ini salah satunya dipicu karena adanya tradisi Brandu atau Porak di Kabupaten Gunungkidul. Tradisi ini merupakan memotong secara paksa hewan ternak baik sapi maupun kambing karena sakit atau mati mendadak. Daging hewan ternak ini kemudian dijual ke tetangga dengan harga murah atau di bawah standar.
Tradisi Brandu ini dilakukan disebabkan peternak tak ingin merugi karena hewan ternaknya mati mendadak dan harus dikubur.
Menanggapi hal tersebut politisi asal Partai Gerindra, Yuni Astuti menyarankan agar pemerintah memberi ganti rugi atau membeli hewan ternak yang sakit karena Antraks. Pembelian hewan ternak ini disebut Yuni Astuti bisa menjadi solusi untuk melawan tradisi Brandu.
"Saya memahami para peternak inikan sebenarnya tidak ingin rugi karena hewan ternaknya mati. Makanya peternak ini lebih memilih menyembelih hewannya saat sekarat dan menjual dagingnya dengan harga murah. Peternak berpikir agar kalau rugi ya tidak rugi bangetlah istilah Jawanya eman-eman kalau sapinya dikubur begitu saja," kata Yuni Astuti, Sabtu (8/7).
"Ketakutan merugi inilah yang melanggengkan tradisi Brandu. Saran saya hewan yang ada ciri-ciri sakit karena terkena Antraks ini dibeli pemerintah atau kalau tidak ada anggarannya ya minimal diganti rugi sehingga peternak mau menguburkan hewan ternaknya yang mati karena sakit dan tak lagi melakukan Brandu," sambung Yuni Astuti.
Perempuan yang akan maju sebagai caleg DPR RI Dapil DIJ dari Partai Gerindra itu menjelaskan selain masalah ganti rugi atau membeli hewan ternak yang sakit, pemerintah juga harus memberikan edukasi yang baik pada peternak maupun warga tentang Antraks baik itu gejalanya maupun penularannya.
"Masyarakat ini harus diedukasi. Kasus Antraks ini kan sebenarnya tidak hanya kali ini saja muncul di Kabupaten Gunungkidul. Edukasi terhadap penyakit Antraks yang baik tentu akan membuat masyarakat lebih waspada dan berhati-hati," urai Yuni Astuti.
Komandan Komando Inti (Koti) Mahatidana Pemuda Pancasila DIJ ini menambahkan lewat edukasi yang baik ini pula peternak juga bisa tahu bagaimana ciri-ciri hewan ternak yang terkena Antraks sehingga tahu cara menanganinya. Termasuk tahu jika hewan ternak yang terkena Antraks ini berbahaya jika dikonsumsi dagingnya.
"Edukasi yang baik ini bisa sebagai salah satu cara meredam penularan Antraks. Pengetahuan tentang Antraks yang menyeluruh pada peternak maupun warga masyarakat membuat mereka tahu apa yang harus dicegah dan dilakukan untuk menanggulangi penularan Antraks ini," tutup Yuni Astuti.
Editor : Amin Surachmad