Setelah terkumpul, setiap satu bulan atau setiap ada pertemuan jimpitan itu kemudian diuangkan. "Dan uang itu nantinya dimasukkan ke kas RT," kata sekretaris RT 33 Semaki Kulon ini.
Ia mengakui sejak SMA sudah ikut muter mengambil jimpitan beras. Dulu tempat untuk jimpitan beras diseragamkan. Di setiap RT dikasih tempat khusus untuk menaruh beras itu. Bahannya terbuat dari triplek.
Untuk beras, Suryadi menjelaskan setiap warga menaruh jimpitan beras biasanya sebanyak satu genggam tanggan. "Dulu kriterianya paling banyak satu kaleng susu kecil itu. Dan paling sedikit satu genggam tangan. Dan itu wajib dilakukan setiap malam," jelasnya.
Seiring berkembangnya zaman, sekarang jaramg dijumpai jimpitan beras. Kini di kampung-kampung sudah banyak yang menggunakan jimpitan berupa uang. Menurut Suryadi, pergeseran jimpitan beras menjadi uang ini karena sekarang berasnya tidak seragam.
"Berasnya jadi campur-campur. Ada yang kualitasnya biasa, ada yang mahal sepeti rojolele, dan lain-lain. Lha kalau berasnya dijual kan jadi kualitasnya beda," terangnya.
Dari permasalahan itu, lalu masyarakat mulai berinisiatif mengganti dengan uang. "Dulu awalnya mulai dari Rp 100, tapi sekarang sudah menjadi Rp 1.000," tuturnya.
Suryadi mengatakan kalau jimpitan uang lebih praktis ketimbang jimpitan beras. Sebab, itu tidak membuat para warga bekerja dua kali.
"Kalau beras kan nantinya dijual untuk jadi uang. Itu membuat warga kerja dua kali. Kalau sudah wujud uang, kan bisa langsung kita simpan dan untuk kas RT," cetusnya.
Diakui dari jimpitan uang itu, menurut Suryadi, bisa mendukung semua kegiatan RT. "Jadi RT tidak melibatkan atau meminta bantuan lagi dari warga kalau ada kegiatan. Cukup mengandalkan kas dari RT saja yang antara lain sumbernya dari jimpitan itu," tandasnya. (cr2/laz/sat)