Metode yang dilakukan di Kota juga berbeda. Tidak door to door lagi. Namun menggunakan metode snow ball. Dimulai dengan meminta informasi kepada ketua Rukun Tetangga (RT) atau pejabat kampung setempat. Sehingga diharapkan terbuka dan jujur."Tapi ada 14 RT, mereka door to door karena daerah ini konsentrasi pertanian. Misal Umbulharjo karena banyak pertaniannya," jelasnya.
Sasaran sensus pertanian di Kota Jogja tidak hanya lahan konvensional saja. Namun termasuk urban farming seperti hidroponik, kampung sayur, dan tanaman hias dan lainnya. Misalnya ada budidaya sayur bayam. Apabila dikonsumsi sendiri maka tidak dihitung. Namun jika dijual ada nilai ekonomi maka "Ada unsur budidaya dan bersifat komersil," ujarnya.
Hasil sensus pertanian dapat digunakan untuk mendukung kebijakan strategis pemerintah, khususnya bidang pertanian. Di antaranya reformasi penyaluran subsidi pupuk.
Teknisnya melalui perbaikan data targeting, perbaikan tata kelola basis data pertanian, hingga pengendalian laju konversi lahan pertanian khususnya lahan sawah."Kita akan punya direktori pelaku usaha, data siapa saja petani, bisa melihat potensi pertanian kita apa masih padi palawija atau beralih ke tanaman hias mungkin," ujarnya. "Juga bisa mendapatkan struktur demografinya, apakah banyak petani milenial? Termasuk indikator SDGs (indikator global)," lanjutnya.
Sensus di Kota Jogja sudah berjalan mulai 1 Juni dan diitargetkan selesai 30 Juni dengan petugas lapangan 78 orang, pengawas 14 orang dan koordinator 4 orang.
Sekda Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengatakan sensus pertanian memiliki peranan penting dalam pembangunan. Serta memajukan perekonomian agar menjadi lebih baik dan berkembang. "Dengan adanya sensus ini dapat dihasilkan data pertanian yang akurat dan terkini yang nantinya akan dibutuhkan oleh pemerintah dalam menentukan kebijakan strategis dalam pembangunan nasional," jelasnya. (lan/din/sat)