Kirab ini dimeriahkan dengan drumband, mobil hias, pembawa bendera, api dharma, air berkah, hasil bumi, para biksu, disusul para umat Buddha, hingga barisan kesenian. Kirab ini memang menjadi satu prosesi yang dinantikan warga. Mereka siap mengabadikan momen satu kali dalam setahun tersebut.
Ketua DPP Walubi Jateng Tanto Soegito Harsono mengatakan kirab ini merupakan satu prosesi yang menjadi kebiasaan umat Buddha. Prosesi kirab tersebut merupakan suatu gerakan bersama dalam rangka meditasi atau kerap disebut meditasi berjalan. Prosesi ini menjadi momentum religius bagi umat.
Selain itu, juga melatih kesadaran sehingga pikiran menjadi tenang dan seimbang. Dengan menguasai diri dan fokus terhadap keheningan dalam kesadaran, lanjutnya, manusia menjadi lebih tenang. Juga melambangkan perjalanan Sang Buddha.
"Jika ditarik garis lurus, ada tiga candi, yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur yang saling berkaitan," ujarnya di sela kegiatan, Minggu (4/6).
Dia menyebut, perayaan Waisak tahun ini lebih meriah ketimbang tahun lalu yang notabene masih terdapat sejumlah pembatasan. Kali ini, antusiasme umat Buddha pun lebih tinggi. Mengingat umat yang diperbolehkan mengikuti detik-detik Waisak di zona I berjumlah 4.500 orang. Selebihnya berada di Taman Lumbini.
Sementara itu, warga dari Jakarta Sally Maitimo mengaku sudah kali kedua mengikuti prosesi Waisak di Candi Borobudur. Menurutnya, kirab ini tidak hanya sekadar kegiatan religi, tapi juga budaya. Apalagi mereka melakukan meditasi dengan berjalan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.
Meski dia bukan seorang umat Buddha, tapi baginya, hal itu dapat menyerap energi positif dari Sang Buddha.
"Saya memang sengaja datang dari Jakarta untuk mengikuti prosesi Waisak ini sejak Jumat (2/6). Jawa ini (agamanya) kuat sekali, bisa menyatu dengan agama lain," paparnya. (aya/dwi) Editor : Editor News