Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Peluang Usaha Kuliner Korea di Jogjakarta

Editor News • Jumat, 2 Juni 2023 | 00:57 WIB
SOSOK : Hendrik Lie saat ditemui di salah satu outlet kuliner Korea di Jalan Kaliurang Kilometer 7,8, Kamis (1/6). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
SOSOK : Hendrik Lie saat ditemui di salah satu outlet kuliner Korea di Jalan Kaliurang Kilometer 7,8, Kamis (1/6). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Drama Korea dan musik-musik Korea telah menjadi tren Indoneisa. Keduanya turut berimbas pada viralnya kuliner-kuliner Korea di Indonesia. Tren ala Korea ini juga terasa hingga ke Jogjakarta. Belum lagi, banyak Gen Z dan Milenial yang menuntut ilmu bahkan tinggal di Jogjakarta.

Ini tentu menjadi peluang emas bagi para pengusaha kuliner untuk membuka unit bisnis. Salah satu yang turut berkecimpung adalah Hedrik Lie. Menurutnya, selama K-Drama dan K-Pop masih bergema di Indonesia, selama itu pula kuliner Korea akan terus eksis.

“Tren kuliner Korea bisa dilihat dari K-Drama dan K-Pop. Selama masih ada terus saya rasa K-Food masih akan mengikuti dan akan besar. Komunitasnya juga makin lama makin besar. Tadinya komunitas Korea mungkin adanya hanya di Jakarta, tapi di Jogja juga besar,” jelasnya saat ditemui di salah satu outlet makanan Korea di Jalan Kaliurang KM 7,8, Kamis (1/6).

Meski terlihat menjanjikan, bagi Hendrik tak semudah itu mengembangkan usaha kuliner Korea di Indonesia. Kendala paling utama adalah penyediaan bahan baku. Menurutnya, ada beberapa bumbu yang harus didatangkan langsung dari Korea.

Bukannya tak ada di Indonesia, beberapa bahan yang diadaptasi di Indonesia kerap kali mengubah cita rasa. Bahan-bahan yang didatangkan langsung dari negara asalnya ini mau tidak mau juga akan mempengaruhi harga jual. Misalnya bubuk cabe lokal dan gochugaru Korea itu beda sehingga wajib impor.

"Proses dan raw materialnya memang beda karena beda suhu, beda temperature, secara geografi juga beda. Secara tidak langsung mempengaruhi harga, tapi bagaimana caranya kami tetap mnyesuaikan harga di pasaran,” katanya.

Selain penyediaan bahan baku, memperkenalkan menu-menu Korea yang mudah dipahami juga menjadi kendala tersendiri. Hendrik menyebut menu-menu asli Indonesia kebanyakan diberi nama singkat dan mudah dalam penyebutannya.

Orang Indonesia juga banyak yang belum terbiasa dengan rasa khas makanan Korea. Misalnya saja, Kimchi yang bercita rasa asam dan pedas. Sehingga, Hendrik perlu dilakukan penyesuaian rasa dengan lidah orang Indonesia.

“Kalau dari penamaan sebenarnya kebantu sama K-Drama itu. Untuk beberapa anak muda sudah paham dan familiar,” ujarnya.

Hendrik menjelaskan kebanyakan penggemar makanan Korea adalah anak-anak muda. Selain makan, mahasiswa hingga pekerja kantoran juga banyak yang menghabiskan waktu di restoran Korea untuk sekedar nongkrong. Ini karena kebanyakan resto Korea menawarkan konsep tempat yang nyaman.

Seiring berjalannya waktu, kuliner Korea tak hanya digemari oleh kalangan muda saja, tetapi juga orang tua dan anak-anak. Beberapa menu makanan Korea terbilang ramah untuk dikonsumsi orang tua dan anak-anak. Misalnya, menu odeng, ramyeon, atau steamed egg yang cenderung berkuah dan bercita rasa gurih.

“Awalnya emang anak muda atau pasangan pulang kerja. Mampir ke tenda Korea dulu sambil ngobrol sama temannya, pacarnya sambil ngegrill, atau minum soju. Tapi ke sini banyak orang tua juga datang beberapa yang anak kecil,” katanya.

Kini Hendrik telah mengembangkan beberapa resto Korea yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, dan Jogjakarta. Jauh sebelum itu, pria berusia 38 tahun ini memulai kiprahnya di dunia kuliner sebagai chef.

Berawal sebagai Chef de Partie di salah satu hotel pada tahun 2009. Hendrik juga berpengalaman sebagai Sous Chef, Kitchen Manager, hingga Head Chef di hotel dan beberapa perusahaan.

“Saya berkecimpung di dunia kuliner sekitar 15 tahun. Awalnya mengembangkan resto di beberapa kawasan seperti di PIK, Jaksel. Lebih ke arah barbeque Korea pernah juga. Sekarang memilih mengembangkan resto dengan konsep tenda. Beda konsep tapi arah kulinernya masih sama, hanya disesuaikan dengan cita rasa lokal,” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#kuliner korea #Hendrik Lie #khas Korea #budaya Korea