Ketua Panitia Ramadan Masjid Syuhada 2023 Izza Wildan menyebutkan konsep ini untuk menyajikan kekayaan kuliner Indonesia. Selain itu juga menyiratkan keberagaman di Masjid Syuhada. Bahwa jamaahnya berasal dari seluruh Indonesia.
“Yang mau cari Soto Kudus ada, mau cari khas Jogja ada, Sate Madura juga ada. Lalu dari NTT ada Sei Sapi. Memang ambil dengan tema nusantara,” jelasnya ditemui di Masjid Syuhada, Jumat (24/3).
Tak bekerja sendiri, pengurus Masjid Syuhada juga turut memberdayakan UMKM setemmpat. Khususnya para pelaku usaha kuliner khas nusantara. Untuk kemudian menyajikan makanan berbuka puasa di Masjid Syuhada.
Untuk setiap harinya, pengurus Masjid Syuhada menyajikan 500 porsi. Jumlah ini konsisten selama 30 hari kedepan. Tentunya dengan menu yang beragam dari seluruh nusantara.
“Untuk masakannya kita ada yang dari Syuhada catering juga beli dari luar untuk takjilnya. Hari ini beli dari luar beberapa dari 2 gerobak dari luar sate Madura,” katanya.
Santap berbuka puasa kali ini juga berbeda. Pada tahun sebelumnya kerap menggunakan nasi kotak dan dibawa pulang. Pertimbangannya adalah kondisi pandemi Covid-19.
Tahun ini berlangsung normal layaknya sebelum pandemi. Santap berbuka puasa dilakukan bersama-sama di serambi masjid. Tentunya diawali dengan kajian sebelum berbuka puasa.
“Makanan disajikan dalam piring lalu diutamakan yang ikut kajian dulu. Cuma buka puasa saja, kalau sahur tidak,” ujarnya.
Beragam kegiatan menghiasi Masjid Syuhada selama bulan Ramadan 1444 H. Diantaranya tabligh akbar, festival hadroh, festival anak-anak hingga bedah buku. Adapula kajian sore dan itiqaf sepuluh hari terakhir.
“Kalau penceramah juga ada tokoh-tokoh. Ada pak Mahfud MD rencannya 1 April dan sejumlah rektor di Jogja jadi penceramah saat tarawih,” katanya. (Dwi) Editor : Editor News