NAILA NIHAYAH, MAGELANG, Radar Jogja
Linda Timorita Hamzah, mahasiswi S1 Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi wisudawan terbaik pada Wisuda Pascasarjana, Sarjana, dan Ahli Madya, Universitas Tidar (Untidar) ke-62 Tahun 2022. Ia mendapat IPK 3,93 dengan waktu kelulusan 3 tahun 9 bulan 29 hari.
Sebenarnya, kata dia, tidak ada keinginan untuk mendaftar kuliah di Untidar usai dinyatakan lulus dari SMA-nya. Justru dia ingin mendaftar di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, prodi Pendidikan IPA. “Tapi, entah kenapa saya tukar. Yang Untidar pilihan satu, UNS jadi pilihan kedua. Akhirnya keterima di Untidar,” ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (28/11).
Padahal, Linda sempat berpikir untuk tidak meneruskan kuliah di Untidar. Lantaran keluarganya ingin dia berkuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN. Mengingat dia ingin setelah lulus bisa langsung kerja. Dia juga menyadari jika berasal dari keluarga kurang mampu.
Saat proses daftar ulang SNMPTN di Untidar, dia sudah tes STAN dan berharap bisa lolos. Tapi, dia harus menelan pil pahit karena dinyatakan tidak lolos seleksi. Ia juga sempat berpikir untuk gapyear dan mengejar STAN di tahun berikutnya.
Kendati demikian, ia tidak diizinkan oleh sang ayah. Pada semester 3, ia kembali mencoba peruntungan untuk mendaftar STAN. Namun, lagi-lagi gagal. Justru semester 1-3, ia mendapat IPK 4,00. Padahal, ia mengaku, tidak terlalu giat belajar.
Lantas, perlahan ia mengikhlaskan impiannya untuk berkuliah di STAN. Setelah itu, Linda mulai serius untuk kuliah. Aktif di himpunan, mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM), program hibah bina desa (PHBD), hingga kompetisi bisnis mahasiswa Indonesia (KBMI). Selain itu, ia menjadi penerima pendanaan PMW universitas tahun 2019 dan 2020, KBMI pada 2020, KIBM pada 2020
Selama itu, kuliahnya dibiayai oleh orang tuanya. Tapi, pada semester 3 ada penerimaan bidikmisi gelombang terakhir dan beruntung, ia diterima. Dengan begitu, tidak terlalu membebani orang tua. “Waktu belum diterima bidikmisi, orang tua sampai bilang, 'kalau misal bapak udah nggak kuat (biayain), berhenti aja nggak papa' gitu,” jelasnya.
Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Aris dan Yuliati ini mengaku cocok dengan lingkungan Untidar. Pada semester 5, ia tertarik mengikuti program mahasiswa pertukaran pelajar permata sakti di dua universitas. Kemudian, menjadi asisten dosen, asisten penelitian dan pengabdian, sekretaris UKM, pemateri workshop, dan sebagainya.
Pada semester 6, ia tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus. Tapi, pada 2021, ia pernah mengikuti lomba kisah inspiratif di tim Diksi Nasional yang diadakan Universitas Mataram (Unram) dan menjadi finalis. Harusnya, ia diberangkatkan ke Lombok, tapi karena regulasi kampus dan aturan lainnya, ia terpaksa harus melakukan presentasi secara online.
Sewaktu semester 7, ia menjalani kuliah seperti biasanya. Bahkan, sempat mengajukan KBMI lagi, tapi tidak lolos. “Kuliah ambil skripsi karena ada mata kuliah seminar proposal. Jadi saya ajukan, akhirnya saya bisa seminar skripsi di semester 7,” ujarnya penuh semangat.
Saat mengikuti KKN pada semester 7, banyak teman-teman maupun kakak tingkatnya yang melakukan seminar proposal skripsi. Lantas, terbesitlah ide untuk membuat buket bunga.
Dengan mengandalkan beasiswa bidikmisi, Linda memutuskan untuk survive dengan mencari uang tambahan sendiri.
Mengingat pekerjaan ayahnya yang hanya sbegai petani dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Padahal, dia masih mempunyai dua adik yang perlu dibiayai sekolah. Linda pun mantap untuk berwirausaha.
Keputusan ini juga muncul setelah Linda mendapat pendanaan program wirausaha mahasiswa dengan produk kaos dan totebag. Namun, usaha pertamanya ini kurang berjalan dengan baik. Lantaran kurang diterima oleh orang-orang di sekitarnya.
Linda pun mencoba peruntungan dengan membuat buket. Banyak juga teman-temannya yang membeli. Lambat laun usahanya mulai dikenal dan diterima, baik mahasiswa Untidar maupun lainnya.
Awalnya, ia melihat cara pembuatan buket dari Youtube. Saat bahan bakunya habis, ia beli di tempat lain dan melihat-lihat buket. Ia mulai mengamati dan belajar untuk membuat buket lebih baik lagi.
Usahanya ini ia rintis bersama teman lelakinya. Selama enam bulan pertama, ia membuat buket di kos milik temannya. Lantaran tidak enak hati karena banyak barang yang tercecer, akhirnya mereka memutuskan untuk menyewa kios.
Kiosnya pun dari uang hasil iuran berdua. Usaha buket yang telah berjalan lebih dari satu tahun ini, telah memiliki omzet Rp 6 juta-Rp 12 juta per bulan. Buket yang dihasilkan bukan hanya buket bunga, namun bisa dikreasikan dengan perbagai macam barang sesuai pesanan pelanggan.
Harganya pun beragam. Untuk buket snack mulai Rp 20 ribu, buket balon mulai Rp 50 ribu, buket bunga artifisial mulai Rp 25 ribu, dan buket bunga edelweis mini mulai Rp 15 ribu. Sedangkan jasa buket uang mulai Rp 35 ribu, buket bunga asli mulai Rp 45 ribu, dan figura 3D mulai Rp 30 ribu.
“Penghasilan bersih sekitar Rp 3 juta-Rp 4 juta cukup untuk membiayai sewa kos, sewa toko, operasional toko, makan sehari-hari, sharing profit dengan rekan usaha dan di tabung kalau ada sisa,” jelas perempuan kelahiran 31 Agustus 2000 ini.
Tanpa mengurangi semangatnya untuk terus mengembangkan usahanya, Linda juga menyimpan mimpi untuk menjadi seorang dosen. “Sambil melihat peluang, nanti ke depan bagaimana karena saya ingin melanjutkan studi. Syukur-syukur dapat beasiswa LPDP,” tambahnya.
Linda ingin menjadi sukses, ingin membanggakan orang tua, dan membuktikan kepada orang-orang yang memandang sebelah mata. Bahwasanya ia bisa lebih dari yang mereka pikirkan. “Saya juga ingin buka toko lebih gede lagi,” tandasnya. (laz) Editor : Editor Content