Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Unesco Belum Terima Proposal Resmi Soal Kebaya Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Editor Content • Sabtu, 26 November 2022 | 19:44 WIB
PERSIAPAN KURBAN: Depo hewan ternak milik Muhtarom ini menyediakan puluhan kambing maupun domba untuk Idul Adha. Dia tidak menyediakan sapi atau kerbau lantaran ragu dengan banyaknya kasus PMK.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
PERSIAPAN KURBAN: Depo hewan ternak milik Muhtarom ini menyediakan puluhan kambing maupun domba untuk Idul Adha. Dia tidak menyediakan sapi atau kerbau lantaran ragu dengan banyaknya kasus PMK.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
RADAR JOGJA – Lembaga khusus Perserikatan Bangsa Bangsa yang menangani urusan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) belum menerima secara resmi proposal pengajuan Singapura bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Dalam rangka menominasikan pakaian kebaya dalam daftar warisan budaya tak benda manusia.

Kepala Unit Budaya Unesco Jakarta Moe Chiba menuturkan, meski informasinya sudah beredar luas, namun belum ada informasi resmi terkait hal itu. "Sebenarnya belum ada informasi resmi karena belum ada proposal yang diterima Unesco)," jelasnya, Jumat (25/11).

Menurutnya, negara-negara tersebut masih dalam tahap perencanaan. Bahkan, ada isu soal pertemuan antara Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Indonesia untuk konsultasi satu sama lain. Tapi, kata dia, sampai sekarang belum terlaksana.

Dia juga mengetahui rencana tersebut. Namun, nyatanya belum ada pengajuan resmi dari yang bersangkutan. Indonesia bahkan belum mengkonfirmasi, apakah mereka bergabung dengan negara-negara tersebut atau tidak. Dia menilai, di antara mereka belum menyelesaikan konsultasi nasional. "Dan pertanyaannya kenapa Indonesia tidak masuk dalam grup ini? Tapi ini semua informasi informal yang saya dapatkan dari berbagai sumber yang tidak bisa dikonfirmasi," kata Moe.

Namun, dia menekankan, Unesco selalu mempromosikan adanya kolaborasi. Menurutnya, budaya bukan tentang persaingan. Daftar warisan budaya tak benda Unesco ini tentu harus saling menghormati dan mempromosikan dialog.
Unesco tidak ingin hal ini menjadi sumber pertarungan dan kompetisi.

Sehingga, dia mendorong, agar negara-negara tersebut menominasikan kebaya menjadi warisan budaya tak benda. Termasuk kerja sama dengan Indonesia.
Terlebih, daftar warisan budaya tak benda ini bukan perkara keunggulan saja. Dia menambahkan, Unesco belum memeriksa apakah hal ini merupakan tradisi yang baik atau tidak. Tapi, lanjut dia, syarat penting untuk prasasti adalah komunitas yang memakai kebaya dapat menyetujui prasasti tersebut.

Dengan kata lain, Unesco tidak menerima keputusan yang hanya diambil oleh pejabat pemerintah saja. Panitia pun akan segera memeriksa keseluruhan, apakah komunitas itu benar-benar memakai kebaya atau tidak untuk mendapatkan prasasti.

Dia menjelaskan, setiap negara memiliki hak komunitas besar yang melibatkan produksi dan pemakaian kebaya. Moe menegaskan, nominasi kebaya itu bukan tentang daerah mana yang lebih baik. Tapi, tentang merangkul keragaman praktik dan mengagumi satu sama lain. Itulah syarat terpenting dan menjadi tujuan dari Unesco.

"Jadi sekali lagi, jangan masukkan bisnis menjadi kompetisi, karena itu sangat bertentangan dengan semangat Unesco dan saya kira juga Indonesia mengacu semangat gotong royong," tegasnya. (aya/pra) Editor : Editor Content
#UNESCO