Memanfaatkan potensi wilayahnya itu, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) Kementerian Pertanian (Kementan) Mukhamad Bagas Kurniawan, 20, berhasil meramu produk pertanian menjadi minuman sehat yang dikemas kekinian. Bagas melabeli produk buatannya itu dengan brand Jamali.
Semua itu berawal ketika Bagas mengikuti praktik kewirausahaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari. Bagas melakukan identifikasi produk selama dua minggu.
Selain itu, Bagas juga rutin melakukan pengujian terhadap produknya guna menjaga kualitas rasa. “Semester empat lalu saya mendapatkan mata kuliah pengujian. Itu yang saya terapkan pada Jamali. Saya juga memerhatikan kebersihan alat, ruang produksi, pemilihan bahan utama, serta pencucian dan sterilisasi alat bahan dengan metode uap air panas," paparnya.
Jamali diracik dengan bahan utama jahe, yang merupakan komoditas unggulan dengan produktivitas relatif tinggi di Dusun Jurangsari, Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung, jahe merupakan salah satu jenis tanaman biofarmaka yang sangat berpotensi di Kecamatan Pringsurat. Hal ini terbukti dari produksi jahe yang selalu meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 637.500 kg pada 2021.
Selain jahe, Bagas menambahkan madu dan lidah buaya. Racikan yang membuat minuman mahasiswa semester lima ini makin istimewa adalah potongan lidah buayanya itu. “Menurut informasi dari BPP Soropadan, Dusun Jurangsari punya potensi jahe. Sehingga saya gabungkan dengan lidah buaya untuk menciptakan suatu minuman kesehatan. Sehatnya dapat, tapi tetap mengikuti tren,” ujarnya.
Bagas sangat serius menggarap Jamali. Saat ini dia pun rutin melakukan analisis peluang pasar.
Dari analisanya didapatkan segmentasi pasar. Sehingga kini dia lebih mudah melakukan penetrasi pasar sesuai dengan target yang menyukai produknya.
Dengan Jamali, Bagas ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap wedang jahe, yang sejak dulu sampai sekarang lebih dikenal sebagai jamu, menjadi minuman kesehatan yang kekinian. “Saya mau angkat bahwa jamu itu masih bisa dikonsumsi di era seperti ini dan tetap menyehatkan. Setelah diminum, hangat jahenya, ada rasa mint-nya, sehingga melegakan tenggorokan. Ada juga sensasi kenyal dari aloe vera-nya itu sendiri," jelas Bagas.
Gayung bersambut, hasil karya mahasiswa Program Studi Agribisnis Hortikultura itu pun mendapatkan respons yang baik dari konsumen.
Sejak dirilis di Soropadan Agro Festival pada 24 Oktober lalu sampai dengan saat wawancara, Kamis (10/11/2022), Jamali telah terjual 60 botol.
Melihat antusiasme pasar, Bagas mulai memproses izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dan merancang diversifikasi produk lanjutannya.
Produktivitas Bagas menunjukkan optimisme petani milenial terhadap sektor pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengaku senang, kehadiran anak muda mampu memperkokoh harapan rakyat dan memperkuat kesiapan-kesiapan yang ada dalam menghadapi tantangan global bidang pertanian. “Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman mereka,” tutur Mentan SYL.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan, petani milenial sebagai socioagripreneur harus melakukan inovasi dan mengubah mindset dengan pemanfaatan teknologi. Dari produksi hingga pengolahan hasil dan distribusi.
"Inovasi tidak hanya dari hasil penelitian laboratorium. Tetapi juga bisa dari uji coba pengalaman para petani-petani sukses . Hal ini yang menjadi contoh untuk generasi muda pertanian lainnya," katanya.
Menurut Dedi, petani yang rajin mengadopsi inovasi teknologi akan berkembang lebih maju dan modern dibandingkan dengan petani yang tidak mengadopsi teknologi.(*/yog) sumber: osi wida/polbangtan yoma Editor : Editor Content