CEO Racik Sari, Astrid Putri menjelaskan usaha ini berawal dari hobinya nongkrong di kafe. Lantas, terbesit di pikirannya untuk menciptakan sendiri bubuk minuman dengan kualitas yang sama seperti di kafe. Namun tentunya dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Ide ini juga sebagai upaya membantu para UMKM. Tepatnya dalam mendapatkan bahan minuman dengan harga miring, tetapi tetap berkualitas.
"Awalnya saya sering nongkrong di kafe. Kemudian saya kepikiran, ingin para UMKM bisa menjual minuman-minuman seperti di kafe dengan harga yang tidak terlalu mahal. Makanya, saya menciptakan bubuk minunan itu," jelasnya saat ditemui di offline store Racik Sari, Minggu (5/6).
Astrid membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk riset hingga proses pengurusan izin. Saat ini, Racik Sari telah tersertifikasi halal MUI dan BPOM. Menurutnya, inilah yang membedakan Racik Sari dengan minuman bubuk sejenis yang banyak dijual di e-commerce.
"Kami pakai standar halal MUI dan BPOM itu. Jadi, untuk dikonsumsi jangka panjang aman," katanya.
Racik Sari memiliki lebih dari 80 varian rasa. Terdiri dari kualitas premium dan reguler. Rasa kopi dan cokelat masih menjadi varian yang paling diganderungi oleh pembeli.
Minuman bubuk ini juga tersedia dalam berbagai ukuran. Mulai dari 50 gram, 250 gram, 500 gram dan 1 kilogram. Semuanya dibandrol dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 100 ribuan.
Selain minuman bubuk dengan berbagai rasa, di toko offline Racik Sari juga terdapat minuman kesehatan wanita, minuman kolagen, dan suplemen peningkat imunitas tubuh. Kedepan Astrid berencana akan terus melebarkan sayap usahanya. Dengan membuka kafe yang nantinya akan tersedia di mall-mall di Jogjakarta.
"Semoga terkabul dalam waktu dekat membuat kafe. Dan saya juga berharap, produk Racik Sari bisa membantu para pelaku UMKM untuk menjaga kualitas rasa minumannya," harapnya. (*/isa/dwi) Editor : Editor News