Diketahui bahwa Pemerintah pusat telah menghapuskan libur cuti bersama. Pertimbangan utama adalah munculnya lonjakan kasus Covid-19 setelah libur panjang. Kondisi yang sama pernah terjadi pada pertengahan 2021. Berupakan lonjakan kasus pasca libur panjang.
“Libur Nataru dihapus saya berharap tidak ada klaster. Mungkin menghadapi hari raya tahun baru dan natal bisa mudah diprediksi. Mestinya kejadian itu (lonjakan kasus medio 2021) tidak akan terjadi pada tahun baru maupun natal,” jelasnya ditemui di Komplek Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (27/10).
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini meminta masyarakat memahami atas pengambilan kebijakan. Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya menekan munculnya lonjakan kasus Covid-19. Terutama yang datang dari kerumunan khususnya para wisatawan.
Dia mencontohkan kondisi pariwisata saat ini. Terjadi lonjakan wisatawan hampir di seluruh tempat wisata. Apabila penerapan protokol kesehatan tak optimal, maka berpotensi menjadi epsientrum penularan Covid-19.
“Nyatanya dengan pembebasan, tidak bisa kontrol wisatawan ke Jogjakarta. Harapan saya di tahun baru pun kondisi lebih baik. Harapan kita ya selama ini semoga tidak ada klaster sehinngga melandai saja lalu memasuki tahun baru dan natal,” katanya.
Terkait kunjungan wisata, HB X menyadari untuk mengontrol para wisatawan tidaklah mudah. Dia hanya berpesan agar penerapan protokol kesehatan berjalan secara ketat dan disiplin. Tak hanya bagi wisatawan tapi juga peran aktif pelaku usaha dan pengelola jasa dan tempat wisata.
“Saya kira protokol kesehatan tetap dijaga, tetap kunci tapi ya tidak bisa membatasi siapa yang mau datang dalam jumlah berapa tidak bisa. Disuruh di rumah terus ya engga kuat, podo wae sebenarnya, mereka juga sesek (jenuh) kalau dirumah terus ya susah,” ujarnya.
Wakil Bupati Bantul mJoko Budi Purnomo memastikan telah ada antisipasi. Pihaknya telag berkoordinasi dengan kepala daerah yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantul. Seperti Pemkot Jogja, Pemkab Gununghkidul dan Pemkab Kulonprogo.
Dari pertemuan ini lahirlah kesepakatan penutupan destinasi wisata pantai. Harapannya dapat menekan angka kerumunan di pantai kawasan pesisir selatan. Wacana kebijakan sebagai antispasi lonjakan wisatawan saat masa libur Natrau.
“Tadi sudah ngobrol dengan Bupati Gunungkidul, Bupati Kulonprogo dan Wakil Wali Kota Jogja. Sepakat untuk menutup pintu masuk selama libur nataru. Khususnya di kawasan pantai. Ini antipasi Nataru, mumpung masih Oktober maka antisipasi dari sekarang,” katanya.
Joko turut menyampaikan evaluasi wisata pasca PPKM Leve 2. Pantai menjadi lokasi wisata terfavorit bagi wisatawan. Terbukti adanya lonjakan kunjungan wisatawan setiap akhir pekan.
“Kalau sekarang wisatawan masuknya sudah enggak nyolong-nyolong. Sebenarnya buka secara formal juga belium. Di Bantul yang buka non pantai seperti di kawasan Hutan Pinus Mangunan. Masih kami ajukan lewat Dispar (Dinas Pariiwisata). Kalau kita inginnya semua dibuka,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News