Naila Nihayah, JOGJA, Radar Jogja
Di abad ke-21 ini, banyak yang melupakan sejarah. Tak ayal jika masyarakat cenderung mengingat cuitan di media sosial ketimbang sejarah para pahlawan yang berusaha keras melawan tentara sekutu kala itu. Demi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Gambaran itu pula yang terasa saat memasuki komplek Asrama KOREM 072/Pamungkas di Kotabaru, Gondokusuman, Jogja, kemarin (6/10). Terasa sepi. Padahal hari ini adalah peringatan Serbuan Kotabaru. Yang prasastinya berada di komplek tersebut.
"Generasi saat ini ketika ditanya mengenai sejarah, mereka diam," keluh S. Sujono, Sekretaris Dewan Harian Cabang (DHC) 45 Jogjaa saat ditemui di Asrama KOREM 072/Pamungkas, kemarin (6/10).
Dia prihatin dengan pemuda-pemudi zaman sekarang. Padahal, dari sejarah perjuangan para pahlawan, dapat dijadikan motivasi untuk mengobarkan semangat juang. Terutama dalam melawan virus korona. Pandangan Sujono lurus ke depan. Seakan ikut andil bersama para pahlawan untuk melawan pasukan tentara Jepang saat itu.
Tepat 76 tahun lalu, tercatat adanya sebuah pertempuran senjata pertama setelah Presiden RI Ir. Soekarno mengumumkan Kemerdekaan RI. Tepatnya 7 Oktober 1945. Pertempuran tersebut dikenal dengan nama Serbuan Kotabaru. Peristiwa itu terjadi ketika elemen masyarakat melawan para tentara Jepang yang masih bertahan di Kota Jogja."Dulu itu mereka berdiskusi, kok masih ada bendera Jepang, berarti masih belum tercapai kedaulatan penuh,” jelas Sujono.
Guna melengkapi kedaulatan rakyat, diperlukan peralihan kekuasaan dari pihak Jepang. Upaya terus dilakukan, seperti aksi serentak rakyat yang dipelopori oleh para pemuda pada 22 September 1945. Berupa pengibaran bendera Merah Putih di depan gedung-gedung pemerintahan sepanjang jalan Malioboro hingga Gedung Seminari Kotabaru.
Kala itu, para pemuda menemui pasukan Jepang untuk menyerahkan senjata secara damai pada 6 Oktober 1945. Namun, sifat Jepang yang licik dan terus mengulur waktu, para pejuang memutuskan untuk menyerbu komplek markas tentara Jepang di Kotabaru. Hingga pukul 21.00, tersiar kabar yang isinya ajakan kepada segenap lapisan masyarakat untuk ikut dalam penyerbuan. “Dulu karena TNI baru terbentuk 5 Oktober, persediaan senjata masih belum memadai,” terang Sujono.
Hingga muncullah inisiatif untuk menggunakan senjata yang sekadarnya. Bambu runcing, tombak, dan keris. Ketika siap menyerang, Jepang kembali licik. Mereka memasang barikade kawat berduri di sekitar markasnya. Bahkan dialiri listrik. Kenyataan itu membuat pimpinan serangan memberikan siasat agar memadamkan aliran listrik dari gardu induknya.
Tepat menjelang subuh, 7 Oktober 1945, aliran listrik padam. Terdengar ledakan granat dan dimulailah penyerbuan dari segala penjuru. Pertempuran sengit terjadi. Banyak menelan korban jiwa dari kedua belah pihak. “Komandan pasukan Jepang bersedia menyerah, tapi tidak berhasil,” ungkap Sujono.
Perlawanan semakin tak terelakkan. Pasukan Jepang kian melemah. Sekitar pukul 10.30, Jepang kibarkan bendera merah putih sebagai tanda menyerah. Kemudian, dilucuti senjatanya dan para tentara Jepang digiring ke tempat tawanan di Wirogunan, Jogja.
Sebanyak 21 pemuda gugur dalam pernyerbuan Kotabaru. Abu Bakar Ali, Achmad Zakir, Ahmad Djazuli, Atmosukarto, Bagong Ngadikan, Djoemadi, Djuhar Nurhadi, Faridan M Noto, Hadi Darsono, I Dewa Nyoman Oka, Djerhas Mohammad Wardani, Oemoem Kalipan, Sareh, Sadjiyono, Sabirin, Soenaryo, Soeroto, Soepadi, Soehodo, Soehartono, dan Trimo.
Jenazah para pahlawan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kusumanegara, di belakang Masjid Besar Kauman, Makan Gajah di Glagah Sari, dan di Sleman. “Kalau yang dimakamkan selain di TMP, dipasang bambu runcing,” ucap Sekretaris Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Jogja Wirantono.
Wirantono menjelaskan, para pahlawan yang gugur didominasi oleh para pemuda. Masih duduk di bangku menengah atas. “Karena baru saja merdeka, jiwa nasionalisnya tinggi, jadi mereka turut serta melawan para tentara Jepang,” jelasnya.
Sejak Oktober 1958 dalam musyawarah pembangunan kotapraja Jogja, pemerintah mengusulkan untuk menggunakan nama pahlawan yang gugur dalam penyerbuan Kotabaru menjadi nama jalan di wilayah Kotabaru. Menggantikan nama jalan-jalan zaman Belanda. (pra) Editor : Editor Content