Kupat kikil CakJo yang terletak di Tamanan Wetan Banguntapan Bantul,berbeda dengan kupat kikil pada umumnya, yang disajikan dengan kuah bening atau encer, Kupat kikil CakJo ini disajikan dengan kuah kental lengkap dengan kikil sapinya yang khas.
Kupat kikil ini berbeda dengan menu sejenis lainnya. Jika kebanyakan kuliner seperti ini disiram kuah kental bersantan, namun Warung Kupatkikil CakJo menggunakan kuah kaldu yang kental cita rasa rempah di dalamnya.
Kikil maupun jeroan sapi diolah dengan resep rahasia khusus sehingga aroma khasnya terasa dan tetap kenyal saat di lidah. Selain ketupat dan taburan kacang, semangkok Kupat Kikil akan dilengkapi dengan sambal khas yang dibuat dengan campuran kemiri.
Rahardja Gilang Dewangkara yang sejak kecil akrab disapa CakJo selaku Owner yang kebetulan juga Mahasiswa semester 7 Jurusan Teater Institus Seni Indonesia (ISI) ini, melakukan Performing Art bersama Komunitas Teater ISI untuk mengenalkan Warung Kupat Kikil miliknya, di empat titik perempatan di Jogjakarta.
Gilang menuturkan satu porsi Kupat kikil bisa dibeli dengan harga 25 ribuan sudah termasuk minuman penetralisir kolesterol kombinasi dari jahe, Salam, dan Sereh (Jasareh). Untuk kantong mahasiswa di kota pelajar Jogjakarta harga tersebut tergolong murah meriah.
“Selain karena enak, porsinya pun lumayan banyak, ditambah dengan kuah berempah yang gurih melengkapi lezatnya hidangan legendaris dengan cita rasa yang khas ini,”ujarnya.
Gilang menjelaskan, Rajanya Kupat kikil Jeroan Sapi yang lezat diracik dengan dengan aneka bumbu dan bahan yang merupakan resep rahasia turun temurun milik keluarga.
Meskipun di Jogja menu sajian kikil cukup banyak dan beragam, tetapi kata orang beda tangan beda pula rasanya. Jadi walaupun jenis racikan dan takaran bumbunya sama, Kupat kikil CakJo dijamin memberikan pengalaman kuliner yang berbeda cita rasa dari olahan kikil sejenisnya.
Kupat atau ketupat biasanya menjadi menu khas saat Lebaran dan Idul Adha yang disajikan dengan rendang atau opor. Menu wajib di setiap acara keluarga ini melegenda di Surabaya Jawa Timur (Jatim). Isinya ada kikil dan jeroan sapi, ditemani potongan kupat dengan toping bumbu kacang renyah,”katanya.
Gilang menambahkan menu Kupat Kikil ini bukan hanya sekedar menjual makanan, namun melestarikan menu dari keluarga kami. Saya sebagai cucu memiliki tanggungjawab agar sajian ini tetap ada dan bisa dikenal pecinta kuliner di Jogja.
Yang membedakan dari kupat lain mungkin kalau kami kuahnya lebih kental dan terasa rempahnya yang resepnya turun temurun dari nenek.
Saat ini, Warung Kupatkikil CakJo sudah mendapat respon positif dari warga Jogja, utamanya generasi milenial yang ternyata banyak yang menggemari kuliner Kikil.
Warung ini merupakan usaha turun-temurun dari Mulyati asal Surabaya sejak 1980. Sepeninggalnya, usaha ini sempat terhenti namun sekarang dilanjutkan oleh sang cucu.
Saking larisnya, sang nenek sampai harus membuka tiga cabang sekaligus yakni di Jalan Banyu Urip, Jalan Pandigiling, dan Jalan Dukuh Kupang dengan nama Budi Mulya.
Sekitar sepuluh tahun berdiri, sepeninggal Mulyati maka Kupat Kikil Budi Mulya tak terdengar lagi. Sejak itulah tak ada keluarga yang melestarikan menu turun temurun tersebut, hingga akhirnya kini CakJo yang sudah merupakan generasi ketiga merintis kembali untuk memulainya.
Saat Kupat Kikil Budi Mulya berjaya, Gilang sebenarnya belum lahir. Namun ia ingat betul bagaimana sajian lezat ini selalu dihidangkan saat Lebaran dan mahasiswa semester 7 tersebut berusaha mengembalikan memorinya pada masa kecil itu untuk mengingat lezatnya Kupat Kikil sang nenek.
“Butuh tiga bulan bagi saya untuk mencoba mengingat menu buatan nenek. Saya dibantu ibu untuk menemukan kembali cita rasa sebenarnya buatan nenek dulu sehingga sajian khas keluarga kami itu kini bisa hadir kembali saat ini,” ucapnya. (sky) Editor : Editor News