RADAR JOGJA - Pandemi Covid-19 merubah semua kebiasaan masyarakat. Termasuk terkait asuransi. Selama masa pandemi justru ada peningkatan kesadaran masyarakat dalam berasuransi.
Hal itu diungkapkan Head of Corporate Communication & Event Management AXA Mandiri, Luile Retno Sawitri, dalam Webinar bertajuk Sinergi Menumbuhkan Sektor Pariwisata Pasca Pandemi yang diselenggarakan Forum Wartawan Ekonomi DIJ bekerjasama dengan asuransi AXA Mandiri, Selasa (17/11). Hadir pula sebagai pembicara Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Marlina Handayani dan spesialis paru anggota satgas RSA UGM dr Siswanto Sp.P.
Lulie menyebut, selama masa pandemi ini kesadaran masyarakat kepada asuransi kesehatan naik. Padahal hal itu yang selama ini menjadi tantangan jasa asuransi. Data otoritas jasa keuangan, tingkat literasi dan inklusi pada jasa asuransi masih di bawah lima persen. "Tapi pandemi ini agak berubah, terutama pada asuransi kesehatan. Mungkin kalau belum ada kejadian belum sadar untuk menjaga hidup sehat," katanya.
Menurut dia, dengan dikaver asuransi kesehatan bisa memperoleh manfaat penggantian biaya perawatan kesehatan. Lulie menyebut, biaya perawatan Covid-19 sangat mahal. Dia mencontohkan, ada salah satu pasien dengan perawatan tiga minggu, biayanya bisa sampai di atas Rp 350 juta.
Dia menambahkan, sampai Agustus 2020 lalu, AXA Mandiri telah membayar klaim nasabah terkait Covid-19 sebesar Rp 13 miliar. Selain itu, lanjut Lulie, di masa adaptasi kebiasaan baru ini, tren baru ada telekonsultasi. AXA Mandiri pun menyediakan layanan gratis bagi para nasabahnya. Mulai dari janji temu dokter, pengiriman obat hingga tes laboratorium. "Kami juga memiliki layanan eksklusif kerjasama dengan rumah sakit," tuturnya.
Karena itu, dia kembali mengajak masyarakat melakukan proteksi selama masa adaptasi kebiasaan baru ini. Termasuk saat berwisata. Selain dengan menerapkan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, juga dilengkapi dengan proteksi asuransi kesehatan.
"Tak ada salahnya melindungi diri dengan menjadi peserta asuransi. Menjadi peserta asuransi juga merupakan bentuk proteksi diri," katanya.
Sementara itu Marlina mengatakan, tren wisatawan yang berlibur ke DIJ sudah mulai meningkat. Data Dispar DIJ, saat weekend rerata wisatawan yang datang mencapai 30 ribu sampai 36 ribu orang. Didominasi wisatawan domestik, dari DIJ sendiri dan Jawa Tengah. Menurut dia, untuk saat ini pihaknya belum akan menargetkan kedatangan jumlah wisatawan. "Lebih ke wisatawan lokal dulu saja," ungkapnya.
Hal itu juga untuk memastikan berlakunya protokol kesehatan di obyek wisata. Terkait hal itu, Dispar DIJ sudah meluncur SOP prokes di obyek wisata, yang dinamai dengan Pranatan Anyar Plesiran Jogja. "Dari 139 Destinasi Wisata yang ada di DIJ 93 diantaranya, melakukan uji-coba Pranatan Anyar Plesiran Jogja," jelasnya.
Sementara itu dr Siswanto mengingatkan tentang antisipasi pengaturan rekayasa aliran udara. Hotel dan tempat-tempat wisata menurutnya wajib menerapkan merekayasa aliran udara agar virusnya tidak sampai berkumpul, bisa disdot dan dibuang ke luar. "Ketika di luar di suhu panas itu, virus akan lebih cepat mati. Karena virus Corona ini kan virus RNA bisa mati tergantung suhunya berapa dan berapa jam di situ," pesannya. (*/naf/ila) Editor : Administrator