“Salah satu kendala yang dihadapi Purworejo ataupun kota lain di Jawa adalah tidak bisa membuka atau memperluas lahan sawah lestarinya. Karena ketersediaan lahan juga tidak ada,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Wasit Diono Rabu (9/9).
Walau tidak bisa memperluas lahan pertaniannya, Wasit tetap optimistis jika status lumbung pangan akan tetap terjaga. Produksi padi di kabupaten ini tetap stabil dan tidak mengalami penurunan berarti. “Kalau penurunan ada, tapi secara rata-rata tetap stabil,” tambahnya.
Wasit menyebut, setiap musim panen, padi yang dihasilkan di Purworejo mencapai 334 ribu kilogram. Angka itu didapat dari seluruh luasan panen seluas 54.000 hektare. “Kalau ditanya kok luasan lahan panen berbeda dari angka sesuai lahan sawah lestari. Ya, karena tidak semua lahan itu kan bisa menanam tiga kali, itu nilai secara rata-rata,” ungkapnya.
Pihaknya sendiri memiliki kiat khusus agar hasil panen tetap terjaga. Salah satunya menggerakkan penggunaan pupuk organik. Pupuk jenis ini memang menjadi salah satu solusi agar hasil panen bisa tetap stabil.
“Dan adanya Covid-19 bisa dibilang sebagai titik untuk menggencarkan kembali pupuk organik. Kenapa, karena pupuk subsidi kan banyak berkurang. Petani kita edukasi lagi untuk bisa memanfaatkannya,” kata Wasit.
Ini juga bukan pekerjaan mudah, karena selama ini petani dininabobokkan dengan penggunaan pupuk bersubsidi. Dukungan pupuk itu sendiri sangat dirasakan petani, karena hasil panenannya bisa meningkat lebih tinggi. “Dan tren yang kita lakukan adalah pemilihan bibit bervarietas unggul walaupun menggunakan pupuk organik,” ungkap Wasit. (udi/laz)
Editor : Editor Content