Di Jogjakarta, UMKM umumnya bergerak bidang kriya atau craft, fesyen, dan kuliner. Mereka masih banyak kendala, mulai dari soal administrasi, permodalan, sampai bagaimana pemasaran online. Berbagai pihak mulai dari lembaga pemerintahan, badan usaha, baik negeri maupun swasta berlomba membina UMKM.
Salah satunya melalui program pembinaan UMKM di Rumah Kreatif BUMN Jogja yang dikelola Bank Rakyat Indonesia (BRI). Lokasinya ada di lantai 2 Wisma BRI Jalan Sagan Tim No 123, Terban, Gondokusuman, Jogja. Tempat ini difasilitasi dengan ruang kerja (co-working space) yang nyaman, WiFi, ruang display produk, beberapa unit komputer untuk desain, ruang pelatihan, hingga kafe.
Merasa perlu wadah dalam dunia bisnis, salah satu pelaku UMKM Jogjakarta, Caecilia bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN BRI Jogja (RKB) di tahun 2018. Usaha miliknya bergerak di bidang fesyen hand made. Mulai dari baju, tas, dan pernak-pernik lainnya yang dibuat dari bahan kain natural.
Caecilia bergabung dengan RKB sebagai pelaku UMKM semata, bukan sebagai kreditur BRI. Selama kurang lebih enam bulan bergabung, dia mengaku banyak manfaat yang dia dapat.
Sayangnya, dia tidak bisa sering-sering ke RKB karena prioritas produksi dan perannya sebagai ibu rumah tangga. Ibu dua anak ini mengatakan, UMKM lain yang sudah memiliki tim atau karyawan maupun yang belum berkeluarga lebih rajin dan leluasa datang ke RKB untuk mengikuti setiap kelasnya.
“Yang saya rasakan amat sangat bermanfaat adalah pelatihan FB advertisement dengan mentor yang sudah melakukan FB Ads itu sendiri dan omzetnya Rp 100 juta per hari. Beliau menerangkan bagaimana membuat iklan berbayar di FB dengan pertemuan yang cukup banyak,” ungkapnya.
Mentor Tidak Transparan Mengecewakan
Di satu sisi, banyak pula hal-hal yang menurutnya kurang bermanfaat bagi UMKM dan itu membuatnya kecewa. Caecilia merasa kurang pas dengan program konsultasi wajib dengan mentor di RKB.
“Terasa terlalu kaku karena para mentor meminta laporan keuangan tiap bulan. Mentor yang saya dapat sebenarnya bukan mentor yang terbukti berhasil dalam dunia bisnis, sehingga kurang dapat dipercaya ketika dia memberikan masukan harus begini begitu,” keluhnya.
Bagi Caecilia, UMKM dengan kapasitas terbatas seperti dia yang terpenting adalah jualan, lalu dapat untung untuk kebutuhan sehari-hari. Membuat laporan untuk mentor dengan segala tetek bengeknya masih menjadi momok baginya. Dia sendiri memilih menggunakan aplikasi di ponsel untuk mencatat penjualan dan pengeluaran usahanya. Meski modelnya sederhana, cukup praktis untuk tetap mengontrol keuangan.
“Kalau disuruh laporan kan harus ngetik ulang. Ketika kami tidak ada penjualan dianggap malas, kurang berusaha. Lha, kalo saya gini kan nyantai. Walaupun saya punya satu asisten tapi kan nggak ngebut seperti pabrikan,” ujarnya.
Caecilia juga merasa tidak mendapatkan hasil dari konsultasi tersebut karena mentor tidak menguasai bidang yang ditekuni anggota. Misalnya, persoalan bisnis hand made tentu akan berbeda dengan bisnis grosiran.
“Intinya terlalu banyak teori tapi di lapangan tidak banyak tempat,” tegasnya.
Dalam pembinaan UMKM di RKB, BRI juga memberi kesempatan bagi para anggota untuk mengikuti pameran secara gratis. Peserta pameran akan dipilih melalui kurasi produk. Caecilia pun mengeluhkan sistem kurasi pameran yang menurutnya tidak transparan.
“Ternyata sudah ada member favorit atau pilihan lain yang tau hal ini lebih dulu. Sehingga member lain yang baru dikasih tahu info mendadak, jadi tidak lolos kurasi. Padahal harus datang malam-malam ke RKB. Ya semacam basa basi saja kurasinya, ini curhatan member lain juga,” bebernya.
Caecilia mempertanyakan ketika misalnya UMKM A dipilih lolos kurasi sedangkan UMKM B tidak dipilih, padahal B dinilai lebih berkualitas. Lebih membuatnya kecewa lagi ketika mengetahui produk A adalah produk yang tidak orisinil dalam pembuatannya.
“Pernah dulu dihubungi sore, lalu harus kirim data dan foto produk deadline jam 10 malam untuk pameran BRI di Jakarta. Lalu disuruh kirim produk malam-malam ke RKB, padahal banyak UMKM yang rumahnya jauh. Eh besoknya, yang lolos kurasi ya yang itu-itu lagi,” kenangnya kesal.
“Ada gosip kalau mau sering lolos kurasi harus dekat dengan mentornya,” tambahnya.
Kendati demikian, dia tetap mengapresiasi kegiatan RKB untuk membantu UMKM lebih maju. Hanya saja menurutnya lebih banyak teori yang kurang memberikan banyak wadah untuk pemasaran.
“Sayangnya mereka (mentor) bukan UMKM, jadi mereka nggak merasakan seperti apa jadi UMKM. Mereka bekerja karena arahan dari pusat,”
Caecilia berharap, ke depannya RKB dapat memiliki mentor yang benar-benar praktisi aktif dan menguasai permasalahan UMKM.
“Yang bikin tidak nyaman cuma subjektivitas mentor dan kurasi, kok. RKJ itu nyaman sebenarnya,” tandasnya.
Berhasil Inkubasi Bukan Semata Soal Kuantitas, Tapi Mindset
Salah satu pelaku UMKM lain yang bergabung di RKB adalah Essy Masita. Desainer busana ini bergabung di RKB pada awal 2019, setelah mendengar dari temannya bahwa RKB dapat membantu siapa saja yang ingin memajukan sebuah usaha.
“Saya pikir bagus sekali ada program seperti ini, sangat membantu UMKM supaya usahanya lebih fokus dan terarah,” ungkapnya.
UMKM miliknya bergerak di bidang fesyen dengan bahan wastra/kain nusantara, tenun, lurik, dan shibori. Penggunaan detil hand made sulam tangan Sashiko menjadi ciri khas produknya.
Dengan label Maharani Persada, Essy membuat produk baju perorangan, custom, jumlah terbatas dan eksklusif. Dalam perjalanannya, dia merasa tertantang untuk membuat second line yang bisa membuat produk masal dan melayani banyak customer. Lahirlah label baru bernama Aluna.
“Produk masal tetapi tetap mempertahankan bahan wastra nusantara dan detil hand made dalam setiap koleksinya, jadi walau diproduksi masal tetap ekskusif,” ujarnya.
Awalnya Essy mempunyai 10 orang tim dalam menjalankan usahanya. Ketika lahir second line Aluna, dia berbenah untuk mendapatkan sistem yang baik untuk memasarkan produk masal berbasis online. Bersamaan dengan menjalani program BRIncubator, Essy mulai merasa tercerahkan mengembangkan label Aluna ini. Kemudian dia membentuk tim khusus berjumlah lima orang untuk mengelola Aluna.
Essy enggan menyebut perbandingan omzet maupun jumlah produksi masalnya. Dia mengaku tidak ada patokan tetap mengenai jumlahnya, menyesuaikan target berapa yang harus dibuat dan bisa dijual.
Dia menilai program yang berjalan enam bulan dengan bermacam materi untuk menyiapkan peserta supaya bisa lebih memajukan usahanya. Namun ketika program berakhir, hasilnya belum bisa langsung dirasakan atau dilihat secara instan.
“Perlu proses dan waktu untuk bisa menerapkan di usahanya. Bagi saya pribadi, keberhasilan itu adalah ketika bisa mengambil manfaat, menerapkan, membuat keberadaan usaha kita menjadi lebih baik dan tertata daripada sebelumnya. Dan agar kita sebagai owner siap mental, siap berkompetisi untuk memajukan usahanya,” paparnya.
Peran dari RKB BRI membantu para peserta membawa dan mengenalkan produk mereka ke kancah yang lebih luas, termasuk mancanegara melalui program pameran, ekspo, dan lainnya. Sehingga pada akhirnya akan mendongkrak omzet dan daerah pemasarannya. Produk Essy sendiri sudah merambah kota−kota besar di Indonesia, untuk pasar mancanegara di antaranya Brazil, Azerbaijan, Amerika Serikat, Inggris, dan Filipina.
“Alhamdulillah, banyak manfaat yang bisa saya ambil, sehingga bisa lebih meningkatkan omzet secara bertahap.Untuk ekspor saya baru dalam jumlah yang sedikit, pesanan per orangan. Kalau yang dalam jumlah besar kontainer belum. Masih menggarap pasar dalam negeri yang sebenarnya masih banyak untuk bisa dieksplor,” tuturnya.
Banyak hal yang Essy dapatkan selama menjadi anggota RKB. Sama seperti yang disebuntukan Caecilia, dia juga menjalani berbagai pelatihan, kelas materi seputar mengelola sebuah usaha yang baik dan benar.
Selain mengikuti program pembinaan di RKB, Essy juga mengikuti BRIncubator, bahkan mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik kedua. Program lanjutan ini berupa inkubasi UMKM dengan pendampingan yang lebih intens.
“Waktu saya mendapat info bahwa BRI akan mengadakan program BRIncubator, saya excited, saya berharap program ini akan lebih mengembangkan diri saya dan usaha saya,” kata dia.
Essy menuturkan, proses mengikuti inkubasi ini dimulai dari kurasi produk. Di tahap ini dia lolos dan masuk sebagai salah satu pesertanya. Fasilitas yang dia dapatkan selama enam bulan masa inkubasi di antaranya pelatihan-pelatihan, fasilitas pameran satu kali, dan pertemuan intens dengan mentor.
“Ibaratnya saya siap mengosongkan gelas untuk menerima semua masukan, arahan, bimbingan guna membenahi usaha saya,” ujarnya optimistis.
Essy menegaskan program BRIncubator tidak terkait dengan kredit lunak dari bank atau berbeda dari KUR.
“Berbeda ketika kita ingin menjadi mitra binaan dari BRI, tentu akan ada ikatan pinjaman dari BRI ke mitra binaannya. Yang tentu besaran jumlah pinjaman akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing UMKM,” katanya.
Materi yang diberikan mentor di antaranya pengelolaan keuangan untuk UMKM, serba serbi pemasaran daring atau online marketing, dan sebagainya. Satu materi yang sangat penting bagi Essy adalah mengenai mentalitas sebagai pemilik usaha.
Essy menganut prinsip bahwa sebuah usaha tidak bisa dijalankan seorang diri. Dari mulai urusan desain, produksi sampai pemasaran. Jika semua masih dipegang sendiri, lanjut dia, maka bersiap kehabisan nafas dan berakhir.
Menurutnya, dengan mendistribusikan pekerjaan pada orang lain yang memiliki kemampuan untuk menjalankan, owner akan memiliki waktu untuk bergerak dan lebih memajukan usaha. Artinya, Essy lebih leluasa mengikuti program RKB sementara produksinya dijalankan oleh timnya.
“Betul, tentu sebagai owner lebih bisa leluasa untuk bergerak,” ujarnya.
Essy menambahkan, kesiapan mental dari masing-masing individu atas keinginan untuk maju dan bergerak semestinya datang dari diri sendiri, bukan karena paksaan atau tuntutan. Karena dapat berpengaruh terhadap komitmen peserta untuk bisa konsisten menjalani program BRIncubator.
Dia merasa tidak ada prosesur yang memberatkan atau merepotkannya selama mengikuti program. Menurutnya, jika memang ingin usahanya maju, semua menjadi tantangan yang harus dilakukan dan diwujudkan.
Kendati demikian, Essy mengakui tidak semua materi-materi yang disampaikan di forum bisa diterapkan di lingkup UMKM. Ada beberapa kondisi yang menjadi penyebabnya.
Menurut dia, antarUMKM maupun mentor memiliki latar belakang dan pendidikan yang berbeda. Hal tersebut berpengaruh terhadap pemahaman dan cara pandang. Jika sang mentor terbiasa menghadapi pengusaha yang memiliki strata tinggi, materinya akan sulit diterima para UMKM yang baru belajar atau baru menjalani bisnisnya.
“Mungkin semestinya ada pemisahan antara pelaku UMKM yang baru dengan yang sudah berjalan lancar, yang scoope-nya masih lokal dengan yang sudah kelas ekspor. Kebutuhannya pastilah berbeda,” tuturnya.
Terkait adanya mentor yang bukan praktisi, Essy mengaku tidak masalah. Dia memilah ilmu apa yang bisa diterapkan untuk kondisi usahanya, sedangkan yang tidak bisa, tidak perlu diterapkan. Di sisi lain ada juga yang mendapat mentor pembimbing yang tidak sesuai dengan bidang usaha UMKM. Essy menilai kondisi seperti ini pendampingan tidak maksimal.
“Dari pemikiran saya, dengan selesainya program Inkubasi, tentu akan ada evaluasi, bahwa sebenarnya materi apa yang benar-benar dibutuhkan bagi UMKM, sesuai kapasitasnya. Jadi lebih tepat guna dan tepat sasaran,” tuturnya.
Menurut Essy, ilmu dan wawasan dari mentor RKB akan berpengaruh jika UMKM bisa menerapkan di usahanya untuk bisa lebih berkembang, meningkatkan omzet dan menambah buyer atau pelanggan.
“Kembali pada kesiapan masing-masing peserta untuk komitmen mau belajar atau tidak. Misal, diminta oleh mentor untuk pertemuan rutin saja susah, yang sibuk A, sibuk B, repot ini itu. Tentu mentor tidak bisa memaksa semua peserta untuk bisa disiplin. Kembali lagi pada kesiapan mental masing-masing, golnya apa untuk ikut inkubasi, bisakah terus menjaga komitmennya,” bebernya.
Naik Kelas Hingga Bisa Ekspor
Mengutip Sustainibility Report 2019 BRI, dari pendanaan Program Indonesia Sejahtera pada tahun 2019 yang totalnya mencapai Rp 31,34 miliar, beberapa bantuan yang diberikan melalui program ini juga digunakan untuk program pelatihan Pengusaha UMKM dan pelatihan UMKM di Rumah Kreatif BUMN (RKB). Terdapat 54 RKB di seluruh Indonesia dengan lebih dari 306 ribu UMKM anggota.
Sejak 2017 hingga 2019, tercatat sudah 43.713 UMKM yang terdaftar di RKB BRI Jogja, dengan kunjungan aktif anggota 700 sampai 1.000 UMKM. Sebanyak 596 agenda pelatihan telah terlaksana hingga Desember 2019.
Pelatihan UMKM untuk naik kelas digelar di 54 RKB di Indonesia dalam konsep Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global. Pelatihan Go Modern untuk peningkatan kualitas produk, branding, packaging, dan manajemen keuangan. Pelatihan Go Digital terkait penggunaan aplikasi digital dan otomasi proses bisnis dan pemasaran. Untuk Go Online, yakni perluasan akses pasar secara online, termasuk situs Blanja.com dan Indonesia Mall. Sedangkan Go Global, dilakukan untuk membantu UMKM menjangkau pasar ekspor termasuk international marketplace.
Pemimpin Cabang BRI Jogjakarta-Cik Ditiro, Teguh Aribowo mengklaim semua UMKM yang bergabung ke RKB telah mencapai Go Modern, Go Digital, dan Go Online. Sedangkan Go Global baru tercatat 63 UMKM. Karena masih banyak UMKM yang belum memiliki standar ekspor.
“Jadi yang bergabung ke kami sudah pasti dilatih untuk packaging lebih bagus, memiliki website atau toko online, bisa mengakses pasar yang lebih luas lagi tidak hanya di Jogja saja. Yang Go global itu memang tidak semua karena ada seleksi kualitas produk, yang memenuhi standar internasional,” paparnya.
Berkaitan dengan anggaran yang diberikan dari Kantor Pusat BRI, penggunaannya disesuaikan kebutuhan RKB di masing-masing daerah. Di RKB Jogja sendiri, kata Teguh, ada anggaran inkubasi, pelatihan, pendampingan, operasional dan lain lain. Dalam satu tahun anggaran tersebut sekitar Rp 600 juta hingga Rp 1 Miliar.
“Itu untuk pelatihan dan operasional harian fasilitas RKB, penelitian dan sebagainya. Kalau sampai biaya pameran dan sebagainya itu besar sekali tapi tidak di kami pengelolanya, tapi dari pusat untuk nasional,” terangnya.
Teguh menilai aktivitas dan program di RKB Jogja sudah cukup optimal. Terlebih RKB Jogja sering dikunjungi instansi-instansi hingga kementerian, sehingga produk UMKM di sana mendapatkan ruang untuk diketahui oleh pihak-pihak pemangku kebijakan. Namun, menurutnya keaktifan kunjungan RKB masih dapat dioptimalkan lebih jauh lagi. Pihaknya terus mencoba mengajak instansi pemerintah, Dinas Koperasi, perguruan tinggi dan sebagainya untuk bersinergi memanfaatkan RKB.
“Untuk 2020 ini akan kerja sama dengan perguruan tinggi dalam program enterpreneurship, mengajak belajar di RKB. Sehingga akan ada calon enterpreneur muda yang lahir dari mahasiswa. Sedang kami rancang detilnya dengan beberapa rektor kampus, mudah-mudahan setelah pandemi Covid 19 selesai bisa dimulai,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Teguh menyebut setiap UMKM yang mengikuti pelatihan di RKB sudah menjadi bagian dari proses inkubasi. Sebagai embrio UMKM yang bisa survive di tingkatan lebih tinggi. Kemudian ada inkubasi lanjutan melalui kurasi yang disebut BRIncubator.
“RKB ini didesain bagian dari inkubasi. Nanti ada inkubasi yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.
BRIncubator atau inkubasi bisnis untuk pelaku UMKM yang baru diinisiasi pada 2018 ini berorientasi pada pemberian akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas. Serta kapabilitas UMKM secara digital dan mampu memenuhi persyaratan ekspor. BRIncubator diselenggarakan di kota Jakarta, Sidoarjo, Jogjakarta, Semarang, dan Denpasar untuk meningkatkan kapabilitas 50 hingga 100 UMKM di masing-masing kota.
Manajer RKB Jogja Alfian Krisna menyebuntukan, semua bidang UMKM di Jogjakarta bisa bergabung di RKB. Mulai dari fesyen, kerajinan atau craft, kuliner, maupun jasa. Tidak harus sebagai mitra binaan atau nasabah BRI. Alfian menyebuntukan pelatihan yang dilakukan di RKB bersifat kontinyu atau berkelanjutan. Melalui tahap lanjutan peserta bisa mengikuti program inkubasi BRIncubator.
Disebuntukan ada lima orang mentor untuk memberikan pelatihan reguler. Sedangkan untuk mentor BRIncubator ada 10 orang dengan 50 peserta UMKM di bidang craft, fesyen, dan kuliner. Tiap satu mentor mendampingi lima UMKM peserta BRIncubator. Alfian mengakui kendala saat ini adalah banyaknya sektor UMKM yang membuat pihaknya susah untuk mendampingi secara detil per UMKM.
Melihat dua kondisi yang dicontohkan kedua anggota RKB di atas, Alfian menyadari adanya gap antara UMKM yang telah memiliki tim dan yang berjalan perorangan. Menurut dia hal tersebut bukanlah masalah besar. Kembali ke kebutuhan masing-masing bidang UMKM. Untuk segmen yang memang membutuhkan produksi banyak, lanjut dia, otomatis sangat membutuhkan banyak tim. Namun untuk yang bergerak di bidang jasa, tidak perlu dikerjakan bersama banyak orang.
“Contoh seorang desainer atau bergerak di desain produk, ya pasti dikerjakan dengan tim yang tidak perlu banyak. Yang jelas, secara global, berbicara masalah kuantitas pasti membutuhkan banyak tim,” ungkapnya.
“Dalam proses pendampingan jika kami melihat kelas UMKM tersebut sudah memerlukan kuantitas yang banyak, terutama yang sudah bisa ekspor, pasti kami arahkan untuk membentuk tim yang lebih banyak juga,” sambungnya.
Dia menilai masa program reguler maupun inkubasi selama 6 bulan udah cukup ideal. Asalkan dari UMKM sendiri juga bisa aktif mengikuti program yang sudah dibuat.
“Karena pada kenyataannya, ada beberapa UMKM yang punya banyak kesibukan dan bahkan belum bisa fokus pada bisnisnya sendiri,” keluhnya.
Evaluasi, Ada yang Baru di 2019
Alfian menuturkan, medio 2017 hingga 2018 BRI menunjuk vendor atau pihak ketiga dalam pengelolaan RKB. Akan tetapi melalui banyak pertimbangan dan evaluasi, akhirnya diputuskan untuk dikelola sendiri tanpa pihak ketiga pada tahun 2019 sampai sekarang.
Dari hasil evaluasi, dibuat pula aplikasi UMKM SMART diluncurkan saat HUT BRI ke-124 pada 16 Desember 2019 lalu. Aplikasi UMKM Smart yang bisa diunduh di smartphone. Dari aplikasi tersebut para pelaku UMKM bisa memamerkan bisnis dan produk mereka yang bisa dilihat oleh peserta lainnya dari seluruh Indonesia. Mereka juga dapat mencatat keuangan, mengikuti pelatihan secara online dari RKB BRI di seluruh Indonesia, serta mengetahui agenda maupun pameran-pameran yang akan diikuti oleh BRI.
“UMKM tidak ditarget, solusinya kami buatkan aplikasi UMKM SMART, jadi mengurangi wira-wiri ke RKB, tapi bisa belajar ikut pelatihan secara online,” ujarnya.
Alfian memastikan semua UMKM anggota binaan RKB akan dibantu permodalannya jika membutuhkan. Bahkan BRI juga memiliki program yang tidak hanya ke pengusaha Mikro, tapi juga Ultra Mikro. Skalanya lebih kecil dari Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Selain program-program peningakatan kualitas, RKB juga menyediakan toko untuk display produk-produk UMKM untuk meningkatkan pemasarannya, Co Working Space gratis, Junio Cafe untuk membentuk komunitas-komunitas milenial, hingga pameran.
“Kami sering mengajak anggota binaan kami untuk pameran di event-event baik dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Pameran terbarunya bertajuk BRIlianpreuner yang digelar di JCC Jakarta pada Desember 2019 lalu. BRI menghadirkan calon buyer dari 80 negara yang dipertemukan dengan para UMKM untuk melakukan bussines matching.
Kendati demikian, Alfian mengaku belum ada parameter yang lebih detil dari sistem untuk mengetahui UMKM yang telah berhasil Go Modern, Go Digital, dan Go Online. Sehingga belum diketahui secara pasti jumlah UMKM anggota RKB yang benar-benar telah menjalankannya.
Belum Tertib Administrasi, Belum Sadar Online
Dalam program BRIncubator, mulai tahun 2019 BRI menggandeng mitra dari Global Enterpreneur Profefssional (Genpro) sebagai mentor. Genpro adalah sebuah komunitas pengusaha dari semua jenis usaha dan berjejaring di Indonesia. Mentor bisnis Genpro adalah praktisi usaha dengan latar belakang UMKM juga. Mereka telah melewati masa start up dan skill up, memiliki sertifikasi sebagai pendamping UMKM di bawahnya.
Koordinator Genpro untuk mentor inkubasi RKB Jogja Ahmad Nur Umam menjelaskan, masalah yang dihadapi para UMKM umumnya tentang pemasaran, manajemen, permodalan, hingga pengelolaan SDM.
Selama program inkubasi pada akhir Juli hingga Desember 2019, ditemukan masih banyak UMKM yang belum tertib dalam administrasi, pemahaman terhadap manajemen keuangan kurang, dan masih banyak yang belum sadar online, padahal pasar terbuka luas di sana.
“Administrasinya ya, bukan soal omzet atau apa, karena tidak ada pencatatan secara tertib,” ujarnya menekankan.
Menurut Umam, hal tersebut terjadi karena kebanyakan UMKM masih dikerjakan sendiri, belum punya karyawan yang khusus menangani pembukuannya. Secara otomatis mengganggu produktifitas.
“Ya yang bagus-bagus memang kelihatan sudah punya tim. Yang kesulitan yang baru dikerjakan sendiri, dengan pasangan. Punya satu atau dua karyawan pun biasanya yang jadi marketing atau customer service,” jelasnya.
Memangnya, sepenting dan seberpengaruh apa tertib administrasi bagi UMKM? Umam mengatakan, UMKM yang sudah punya pencatatan yang jelas merasakan betul manfaatnya. Laporan mengenai omzet bulanan, pemasukan, pengeluaran, dan lainnya lebih mudah dianalisis. Terlebih bagi UMKM yang membutuhkan pembiayaan dari bank, tertib administrasi menjadi syaratnya.
Kendala lainnya, beberapa peserta inkubasi tidak memanfaatkan waktu enam bulan dengan optimal. Misalnya, tatap muka langsung secara formal hanya sekitar tiga bulan. Sisanya, bisa membuat janji pertemuan sendiri dengan mentor.
“Nah, ini tidak banyak yang memanfaatkan. Banyak yang menunggu mentornya yang aktif. Oleh karen itu mentor tidak sekadar ngajari, kadang kami harus menggeret, kadang ndorong,” ujarnya.
Menurut Umam, bagi beberapa orang yang ingin membesarkan usahanya, sebaiknya ada intervensi dari orang yang sudah sukses menjalankan. Sosok seperti itu dibutuhkan dalam ekosistem UMKM, selain komunitas dan lembaga keuangan.
Hindari Mafia UMKM
Sejatinya, tidak ada batasan pencapaian yang telah diraih suatu UMKM untuk bisa mengikuti pelatihan maupun inkubasi. “Nggak ada batasan yang beromzet berapa. Yang memilih BRI, kami terimanya dari BRI. Idealnya menurut saya, BRI punya kriteria dan kuota, kami juga,” kata Umam.
Mantan anggota Komisi B DPRD Kota Jogja ini menyarankan, agar pelaku UMKM yang dipilih untuk inkubasi adalah orang yang benar-benar punya potensi dan ambisi. Jangan sampai ada kecurangan yang menimbulkan kesenjangan dan konflik sosial antarUMKM.
“Ini juga menjadi rasan-rasan mentor Genpro maupun mentor dari pemerintah, ada UMKM yang bahasa kami itu menyebutnya mafia UMKM,” ujarnya.
“Misalnya dia dibina BRI, nanti dia ikut BUMN lain, dia ikut lagi, karena yang dituju adalah modal kerja, pameran gratis dan sebagainya, ada yang seperti itu,” lanjutnya.
Umam juga menyinggung soal sistem keikutsertaan dalam pameran. Dia mencontohkan, misalnya jika pernah pameran di tingkat kecamatan, suatu UMKM harus bisa maju ke pameran yang lebih tinggi, setingkat event Sekaten misalnya. Kemudian naik lagi di tingkat provinsi dalam pameran unggulan daerah, dan seterusnya. “Kalau sudah ikut beberapa kali harus naik. Jangan berkali-kali itu-itu terus, biar diisi UMKM yang lain, gantian sama yang lain,” ujarnya.
Kalau perlu, lanjut Umam, memilih UMKM yang belum pernah dibina BUMN manapun. Tujuannya agar evaluasinya lebih objektif dan terlihat bedanya sebelum ikut program dan setelah ikut program.
“Ya meskipun ini juga tidak mudah,” tandasnya. (tif) Editor : Editor News