Belajar dari Perjalanan Hidup Slamet Budiono Jarod
Setiap orangtua pasti menginginkan nasib anak-anaknya lebih baik dari yang dia alami. Mereka bekerja keras agar anak-anaknya hidup lebih mulia. Perjuangan Slamet Budiono Jarot bisa menjadi inspirasi.
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
RADARJOGJA.CO.ID - SLEMAN -Sekilas tidak ada yang istimewa dari lapak reparasi sepatu, tas, dan sandal Pak Jarot di depan Masjid An-Nurumi Jalan Solo Km 15, Candisari, Kalasan tersebut. Hanya bangunan yang tidak lebih dari 3x3 meter dengan banyak tumpukan sepatu, sandal dan cantelan beberapa tas di dalamnya. Serta sepotong spanduk tulisan tentang jasa yang dilakoni bapak 60 tahun tersebut di bagian luarnya.
Namun dari bangunan dan pemiliknya tersebut, tiga anak telah selesai dikuliahkan. Ya,Slamet Budiono Jarod, yang telah29 tahun jadi tukang sepatu tidak pernah mengeluh menjadi tukang reparasi alas kaki tersebut. Semuanya dijalani dengan ikhlas sembari menjalani amanah sebagai takmir masjid di depan lapak miliknya bekerja. Hasilnya, tiga anaknya telah lulus dari kampus Universitas Jnabadra, Akakom, dan UNY."Saya tidak pernah punya cita-cita muluk-muluk. Saya cuma kepingin anak-anak saya melebihi bapaknya. Alhamdulillah, Allah mengabulkan dengan memberikan rezeki," tuturnya kepada Radar Jogja, saat menemui kakek enam cucu selepas Dzuhur, kemarin (30/5).
Sebelum membuka jasa reparasi pada medio 1987, Jarod sempat bekerja di pabrik kayu di Sumatera. Itu sekitar tahun 1975. Namun beberapa tahun bekerja, suatu ketika bisnis ekspor kayu di tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Ia bahkan sempat beberapa bulan tidak mendapatkan gaji. Ia lalu memilih kembali pulang ke Pulau Jawa untuk menyambung hidup.
Ingin membuka usaha, namun dia tidak memiliki modal dan kemampuan yang cukup. Ia lalu nyantrik kepada seorang temannya di Klaten yang ketika itu sedang membuka jasa reparasi sepatu. Selama beberapa tahun dia menjadi pembantu di tempat usaha temanya itu. Kurang lebih empat tahun dihabiskan di Klaten sampai akhirnya ia mempunyai anak dan dirasa cukup untuk membuka usaha sendiri. "Saya masih ingat modal awal ketika itu sekitar Rp 1.500.Bongkar pasang sepatu, ganti sol, tas dan jaket juga sudah bisa. Teman saya Ignatius Jumari itu yang selalu menginspirasi saya," tuturnya.
Meskipun dengan penghasilan pas-pasan dia tidak pernah meninggalkan ibadahnya. Dia membuka usahanya sejak pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore. Di sela-sela waktu salat dia menyempatkan pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan berganti pakaian untuk ibadah. "Menemui pejabat saja harus pakai pakaian sopan, apalagi bertemu Tuhan. Apalagi saya kerjanya pasti pakaian dan badan kotor, jadi sebelum salat saya pasti pulang dulu," imbuhnya.
Namun diakui, menyekolahkan tiga anak sampai bangku kuliah menurutnya bukan hal yang mudah. Kadangkala dia harus berhutang untuk membayar keperluan ketiga anaknya. Tak jarang ketika waktu membayar SPP datang, anaknya perlu menunda dengan surat keterangan tidak mampu dari RT hingga kecamatan. "Anak saya tidak malu dan justru bangga dengan bapaknya. Itu yang kadang bikin saya terharu," tuturnya.
Beruntung saat ini ketiga anaknya telah bekerja, menikah dan memberinya enam cucu. Anak sulungnya bekerja di sebuah supermarket besar di Jogja, putra keduanya menjadi notaris dan bungsunya menjadi ahli sanitasi dan biogas yang kerap ke luar negeri. Sedikit banyak dia mengamini jika mendapat banyak barokah berada di sekitar masjid dan menjadi ashabul masjid. "Alhamdulillah saya tidak punya uang, tapi ada yang membiayai saya berangkat umrah. Jadi kalau untuk keperluan masjid ya saya sendika dawuh saja," terangnya.
Selain itu, di bulan puasa dia juga tetap beraktivitas seperti biasa. Menurutnya puasa bukan alasan untuk tidak bekerja dan beraktivitas seperti di luar bulan puasa. (din/ong) Editor : Administrator