Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usaha Nova Aditya Pasarkan Kuliner Nusantara, Awet hingga Dua Tahun

Administrator • Rabu, 16 Maret 2016 | 19:57 WIB
Photo
Photo
Rizal SN/Radar Jogja
INOVATIF: Nova Aditya Pambudi dengan lima produk kuliner Nusantara buatannya. Lontong bencana sendiri tahan hingga dua tahun.

Kirim Satu Kontainer Rendang Jengkol ke Korea dan Inggris


Indonesia sebagai negara kepulauan, di tiap-tiap daerahnya memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam. Salah satu yang diakui sebagai kuliner tingkat dunia adalah Rendang asal Padang, Sumatera Barat. Hanya saja, belum banyak yang memikirkan untuk menjual kuliner itu awet dalam jangka waktu lama hingga ke luar negeri. Dari yang sedikit itu adalah Nova Aditya Prambudi, 24.

RIZAL SN, Jogja
Di bawah bendera Djava Sukses Abadi, pemuda kelahiran 26 November 1991 ini membuat produk makanan olahan dengan merek Mangano. Beberapa produk Mangano seperti opor ayam, rendang sapi, rendang jengkol, kari ayam dan semur daging. Hebatnya, kuliner kemasan itu bisa tahan hampir dua tahun tanpa bahan kimia.

Nova menceritakan, sebelumnya ia membuka usaha kue bolu berbahan talas Bogor. Namun usahanya itu tidak berjalan mulus. Setiap hari returan dari penjual yang tidak laku semakin bertambah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.

"Saya kurangi jumlahnya, tetap saja ada returan. Lalu saya berpikir, kalau saja produk saya bisa awet sampai setahun saja, mungkin tidak seperti ini," ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (14/3).

Ia lalu memutar otak bagaimana membuat produk kuliner siap saji yang tahan sampai tahunan. Inspirasi ide itu dari produk gudeg kalengan yang bisa tahan lama. "Saya datangi tempat produksinya dan belajar di sana. Tapi saya ingin produk makanan saya tahan sampai tahunan," ucapnya.

Tak berhenti di situ, ia bahkan rela berkeliling Jogjakarta, Bandung dan Jakarta untuk mencari informasi cara pengepakan makanan agar bisa tahan lama. "Dari LIPI sampai Batan saya datangi untuk mencari informasi," tegasnya.

Sekitar satu tahun, mulai 2014 awal ia terus mencari informasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginannya. Berkat keuletan dan kegigihannya, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Jogja angkatan 2011 ini akhirnya menemukan formula agar produk makanan dapat awet hingga tahunan tanpa bahan kimia.

"Rahasianya, rempah-rempah khas Indonesia itu ternyata mempunyai zat antioksidan, sehingga mampu mengawetkan makanan secara alami," ungkap Nova.

Selain rempah-rempah, tidak banyak juga yang tahu jika agar makanan itu awet harus ada pemanasan yang khusus. Sebab ada juga bakteri yang mati ketika mendapat panas maksimal, tetapi ada juga yang butuh suhu rendah. Rahasia selanjutnya adalah packaging produk makananya. Di produk yang dinamai "Mangano" ini ia menggunakan aluminium foil sebagai bungkusnya.

Pilihan menggunakan aluminium foil ini dilakukan karena bisa kedap udara, tidak sulit saat proses pengemasan, dan mudah apabila dibawa melewati bandara. "Kalau kaleng kan bisa kena metal detector. Kalau ini ndak. Mudah dalam perizinan dan pemeriksaanya," katanya.

Sebelumnya, di awal-awal percobaan penggunaan aluminium foil, ia sempat merasa putus asa. Dari beberapa kali uji coba aluminium foil yang digunakan sebagai kemasan produk makanannya meledak ketika proses sterilisasi.

"Bingung cari di mana aluminum foil yang tahan suhu tinggi. Lalu saya datangi setiap ada pameran teknologi, dan ketemu. Ada satu perusahaan di Jepang yang memproduksi aluminium khusus," jelasnya.

Produk aluminium dari perusahaan di Jepang itu ternyata saat dites mampu tahan suhu panas hingga 150 derajat Celcius, sehingga tidak akan meledak ketika proses sterilisasi. "Mereka tidak tahu, tapi saya tes sendiri. Ternyata tahan hingga panas 150 derajat," imbuhnya.

Formula agar makanan awet sampai tahunan sudah ditemukan, Nova pun menentukan pilihanya membuat makanan cepat saji dengan tema kuliner Nusantara. Tak hanya satu, tapi ada lima menu kuliner yang menjadi produknya, yakni opor ayam, rendang sapi, rendang jengkol, semur daging dan kare ayam. "Memang di izinnya hanya sampai 14 bulan, tapi sebenarnya tahan sampai dua tahun," ungkapnya.

Produk makanan cepat saji "Mangano" ini dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu. Satu pack bisa dikonsumsi untuk dua sampai tiga orang. "Satu pack itu 150 gram," jelasnya.

Kini produk makanan cepat saji ini tak hanya dipasarkan di Indonesia, namun telah merambah luar negeri. Salah satunya rendang jengkol yang beberapa waktu lalu dikirim ke Korea dan Inggris. "Permintaan dari luar negeri banyak, mereka minta satu kontainer. Tapi kami belum bisa menyanggupi semuanya," tegasnya.

Setelah berhasil membuat produk kuliner yang dipasarkan, ia mulai memikirkan membuat produk yang dapat dikonsumsi saat bencana, yakni lontong bencana. Lontong yang diciptakannya ini selain mampu tahan lama, juga jika dikonsumsi dapat memenuhi kalori manusia dalam satu hari. Sebab, di daerah bencana, pengungsi harus tetap menjaga kesehatan. Salah satunya dengan asupan gizi dari apa yang dikonsumsi.

Setidaknya, dari penelitian yang dilakukannya, satu orang manusia membutuhkan sedikitnya 220.000 kalori, dan lontong bencana mampu menyuplainya ketika dikonsumsi. Makanan buatannya itu terbuat dari beras dengan campuran madu dan susu. Lalu isinya ada daging yang disuwir-suwir. Campuran itu lalu dibentuk seperti lontong dan dibungkus aluminium foil. "Isinya dalam satu pack ada dua buah lontong, beratnya sekitar 200 gram," tandasnya.

Menurut Nova, saat ini bentuk fisiknya sudah sesuai harapannya, hanya saja ia belum merasa puas dengan rasanya. Ia belum menemukan rasa yang pas antara perpaduan, susu, madu beras dan daging. "Masih kita sempurnakan, terutama rasanya. Ya sudah enak, tapi masih kurang pas di lidah," urainya.

Harapannya, dengan munculnya produk ini maka ketika dalam keadaan darurat seperti bencana alam, dapat berguna untuk korban. Dengan demikian asupan gizi dan kalori para korban bencana dapat terjamin, sebelum bantuan logistik yang lebih komplit datang.

"Kapan itu dari BNPB dan BPBD sudah ngobrol-ngobrol dan tertarik, tapi ya itu tadi saya masih cari formula rasa yang pas. Semoga dalam waktu dekat, rasa sekaligus izinnya bisa keluar. Daya tahannya sama, hampir dua tahun asalkan bungkusnya masih bagus dan tidak menggembung," tandas juara pertama penghargaan wirausaha muda sebuah bank swasta nasional 2016 itu. (laz/ong) Editor : Administrator
#bisnis #Wirausaha Muda #Kuliner