Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Giring Petani Menuju Sistem Pertanian Modern

Administrator • Kamis, 3 Maret 2016 | 00:32 WIB
Photo
Photo
HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PANEN PERDANA: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat panen perdana padi di Bulak Sideman, Giripeni, Wates, Kulonprogo, kemarin (1/3). Sebelumnya, mentan juga berkunjung ke Purworejo.
PURWOREJO- Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta segera turun tangan memberikan bantuan kepada petani menyusul anjloknya harga gabah dan jagung di tingkat petani.

Di beberapa daerah, harga jual gabah kering hanya mencapai Rp 2.800- Rp 3.300 per kilogram. Nah, jika tidak dilakukan antisipasi,
dimungkinkan harga jual akan kembali anjlok. Terlebih lagi Maret dan April mendatang akan memasuki musim panen. "Di Demak, Ngawi, dan Sragen, harga gabah sudah turun. Ini perlu perhatian serius," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melihat tanaman padi di Pringgowijayan, Kutoarjo, Purworejo kemarin (1/3).

Menurut Amran, dalam periode panen saat ini, pemerintah menargetkan 26-27 juta ton gabah kering. Untuk mengawal tetap baiknya harga, Kementrian Pertanian sudah turun langsung ke lapangan memantau dari Cilacap, Jogjakarta, hingga Surabaya. "Standar harga jual gabah kering yang ditetapkan saat ini Rp
3.700 per kilogram. Sementara harga beras Rp 7.700," jelasnya.

Dari kunjungan ke sejumlah daerah, Amran
optimistis target yang ditetapkan akan tercapai. Dia mencontohkan di Purworejo. Di wilayah ini satu hektare lahan bisa menghasilkan 8-9 ton. "Makanya kita harus tetap memberikan support kepada para petani,"tegasnya.

Amran Sulaiman juga meminta agar petani bisa melakukan pola yang efisien dan efektif. Yakni dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan dukungan peralatan pertanian yang memadai.

Menurutnya, pemerintah serius merealisasikan swasembada pangan nasional khususnya beras. Salah satunya dengan mengalokasikananggaran untuk bantuan peralatan dan menggiring petani menuju sistem pertanian modern. Hasilnya juga dinilai sudah cukup menggembirakan. Produktifitas padi nasional meningkat pesat. "Saya menerima kabar gembira, produksi padi tahun ini naik pesat. Bahkan tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir," kata Amran saat mengikuti panen perdana padi di Bulak Sideman, Giripeni, Wates.

Andi menyebutkan, kenaikan produksi beras nasional tahun ini tidak bisa disangkal lagi. Karena dibuktikan dengan data dan fakta empirik. Pada umumnya, tren yang terjadi setiap tahun, harga beras akan naik Januari- Februari hingga 30 persen. "Namun ini justru turun menjadi hingga 23 persen. Selama 10 tahun tidak pernah terjadi yang seperti ini. Ya, produksi petani melimpah saat paceklik. Dan ini fakta tidak bisa dibatah," jelasnya.

Menurutnya, bantuan alat diberikan dengan maksud kelompok tani bisa menurunkan sewanya. Sehingga petani bisa menikmati. Sebab, dengan pemberian alat ini biaya produksi bisa turun 40 persen. "Biaya operasinal turun, petani kuat, generasi muda mau turun ke sawah. Dan kita siap menuju pertanian modern," ujarnya.

Andi menyebutkan, kabar baik juga berpihak bagi petani di Kulonprogo, tahun 2014 bantuan hanya Rp 13 miliar, sementara tahun 2015 bantuan naik menjadi Rp 99 M. "Itu naiknya 600 persen, semoga tahun 2016 minimal sama. Doa petani di Kabupaten Kulonprogo nampaknya dikabulkan oleh Tuhan," ucapnya.

Wabub Kulonprogo Sutedjo menyampaikan, di Kulonprogo swasembada pangan telah diupayakan sedemikian rupa. Bahkan untuk melindungi petani, diupayakan hasil panen melalui gapoktan. (cr2/tom/din/ong) Editor : Administrator
#menteri pertanian #panen padi #Purworejo