Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Potensi Wisata Terpendam Desa Jogotirto, Berbah, Sleman

Administrator • Senin, 8 Juni 2015 | 21:32 WIB
Photo
Photo
Kusno S Utomo/Radar Jogja
BERDAYAKAN MASYARAKAT: Pelatihan membatik zat warna alam di Dusun Karongan, Jogotirto, Berbah, Sleman.

Ada Lava Bantal, Candi Abang, hingga Batik Tulis


Nama Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, mendadak moncer. Desa yang berada di ujung timur Kecamatan Berbah ini ternyata punya aneka potensi wisata terpendam. Ada lava bantal, gua Jepang, gua Sentono Rejo, dan Candi Abang. Tidak hanya itu, desa ini juga punya kerajinan batik tulis yang khas.
KUSNO S UTOMO, Sleman
Keberadaan lava bantal sempat membuat Gubernur DIJ HB X kepincut . Bersama Bupati Sleman Sri Purnomo, HB X datang langsung meninjau ke lokasi. Lava bantal merupakan situs geoheritage. Lava bantal diperkirakan muncul pada masa tersier lebih dari dua juta tahun yang lalu.
Lava bantal terbentuk dari terobosan magma di lingkungan air. Karena berada di lingkungan air, terobosan magma ini tidak membentuk gunung api, tetapi menjadi batu yang memiliki tekstur yang khas.
"Ngarsa Dalem (HB X) berkenan meninjau lava bantal yang berada di bantaran Sungai Opak pada 30 Mei lalu," kata Kaur Pembangunan Desa Jogotirto Maryadi dengan wajah sumringah.
Cerita seputar lava bantal dan aneka potensi wisata di desanya itu diungkapkan Maryadi di depan sejumlah dosen dari Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang datang ke desanya (1/6).
Berbagai potensi itu, lanjut Maryadi, menjadi bekal untuk mengembangkan Jogotirto sebagai desa wisata. Selain potensi alam dan cagar budaya, ia menyebutkan kerajinan batik tulis juga berkembang Dusun Karongan.
Itu menjadi daya pikat tersendiri. Batik tulis itu merupakan kerajinan yang dikembangkan ibu-ibu rumah tangga dusun setempat. Keberadaan batik tulis khas Jogotirto itulah yang mengundang perhatian beberapa staf pengajar UTY yang tergabung di program studi manajemen, fakultas bisnis dan teknologi informasi.
Selama lima hari, 1-5 Juni, mereka mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui program penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi masyarakat atau IbM.
"Batik tulis di Dusun Karongan telah berlangsung sekitar 10 tahun," ucap seorang tokoh masyarakat Desa Jogotirto Suwipro Widodo.
Dusun Karongan berpenduduk sekitar 250 kepala keluarga (KK). Dusun ini berada di jantung desa. Di dusun itulah Balai Desa Jogotirto berdiri. Letak dusun ini juga tak jauh dengan gua Jepang, situs Gua Sentonorejo, maupun Candi Abang.
"Kerajian batik dapat menjadi industri rumah tangga yang diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga," ujar Ristianawati Dwi Utami.
Ristianawati adalah dosen UTY yang memimpin tim IbM batik tulis dan turun ke Dusun Karongan. Selama penyelenggaraan pelatihan, ia melihat minat kelompok ibu rumah tangga belajar membuat batik tulis layak diapresiasi.
Mereka mendapatkan pelatihan langsung Dalmisih dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Jogjakarta dan Nuri Ningsih Hidayati, alumnus ISI Jogja. Nuri adalah peraih penghargaan pembatik muda berkarya dari Yayasan Batik Indonesia 2014 dan 10 besar Lomba Cipta Batik Nusantara 2013.
Dari pelatihan itu diharapkan kreativitas dan inovasi mereka membuat batik tulis warna alam meningkat. Dengan demikian, di masa datang, ibu-ibu rumah tangga maupun masyarakat Dusun Karongan dapat membentuk kelompok usaha bersama (Kube) batik tulis warna alam.
"Ini juga wujud pengembangan ekonomi kreatif demi meningkatkan kemandirian," tutur perempuan yang tinggal di Kotagede ini.
Harapan Ristianawati itu disambut positif Dukuh Karongan Aris Warsito. Ia mengakui potensi batik tulis di dusunnya patut dikembangkan. Industri rumah tangga itu diharapkan mampu membantu peningkatan perekonomian keluarga. "Warga jadi bertambah sejahtera," ucap Aris.
Enny Nasihah, ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan mengaku gembira ikut acara tersebut. Sama seperti Aris, ia punya harapan besar batik tulis dari dusunnya akan makin dikenal. "Karya kami dapat layak jual," tuturnya.
Sedangkan Wakil Dekan Fakultas Bisnis dan Teknologi Informasi UTY Fran Sayekti ingin agar kerajinan batik tulis itu menjadi souvenir untuk mendukung pengembangan Jogotirto sebagai desa wisata. Ia juga menginginkan ke depan ada kerja sama kampusnya dengan warga setempat. Terutama menyangkut manajemen dan tata kelola Desa Wisata Jogotirto. (laz/ong) Editor : Administrator