GUNAWAN/Radar Jogja
NUKMATI WISATA: Luqni Maulana pemilik jasa Tour Guide Mas Boy Adventure saat menikmati keindahan Gua Pindul, Bejiharjo, Gunungkidul, belum lama ini.
Anggap Para Wisatawan Adalah "Orang Sakit"
Pemandu wisata atau tour guide, merupakaan salah satu profesi menjanjikan, saat ini. Jika sudah punya nama besar, sukses dengan ukuran materi, mudah didapat. Hal itu juga yang sudah dinikmati Luqni Maulana, pemandu wisata asal Jawa Timur yang sering membawa tamunya di Jogjakarta, khususnya ke Gunungkidul.
GUNAWAN, Gunungkidul
DALAM dunia pariwisata, jasa tour guide sangat dibutuhkan. Apa lagi untuk menuntun para wisatawan manca negara. Kepiawaian berkomunikasi dan kelincahan mengurai jaringan, menjadi kunci pembuka pintu bagi wisatawan untuk berduyun-duyun menuju lokasi objek wisata. Kalau sudah demikian, maka pundi-pundi rupiah si guide bakal mengalir dengan sendirinya. Tapi, dari profesi ini, persoalan baru bisa muncul, yakni gaya hidup yang menyimpang. Itu lantara dunia wisata tidak bisa lepas dari kesenangan dan hura-hura.
Kalau tidak memiliki tameng kuat, bukan tidak mungkin, mengumbar kesenangan hingga melampaui batas. Adalah Luqni Maulana asal Jawa Timur yang sudah merasakan itu semua. Dari pengakuannya terhadap Radar Jogja, ia sudah banyak kali membawa keliling Jawa para tamunya, utamanya di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta.
"Saya sering membawa wisatawan manca negara keliling Jawa, utamanya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan dan Jogjakarta," katanya saat ditemui sedang mendampingi tamunya di Gua Pindul Gunungkidul.
Para wisatawan yang sering dibawanya, kalau sudah cocok dengan yang dicari, siap memberikan segalanya, utama dalam bentuk materi. "Pastinya lumayan, selain bisa jalan-jalan melihat destinasi wisata, kami juga diberi rupiah. Kalau sudah cocok, tidak sedikit rupiah yang kami terima," tandasnya.
Pria berambut gondrong ini adalah pemilik jasa tour guide Mas Boy Adventure. Dia mengaku menjadi guide lintas provinsi.
Meski demikian, kelasnya belum sampai seluruh nusantara, karena menurutnya, melayani se-Jawa saja sudah kewalahan. "Tambah gila nanti kalau se-nusantara. Expose Jawa saja tidak ada habisnya," kata Boy, panggilan akrabnya, akhir pekan lalu. Kenapa bisa gila? Kata Boy, godaan profesi yang digeluti sebagai guide sangat banyak. Utamanya masalah seks dan entertain (dunia hiburan). "Kalau dituruti, bisa jauh kemana-mana, karena dunia seperti ini identik dengan dunia hiburan, dunia hura-hura juga," tambahnya.
Namun, lanjut Boy, itu semua tergantung niat. Arahnya mau dibawa kemana. Kalau hanya mementingkan kesenangan, memang bisa rusak semuanya. "Godaan guide sangat banyak, utamanya wanita. Ya itu tadi, prinsipnya niat baik saja. Toh itu kalau hanya menuruti kesenangan duniawi, tidak ada habisnya," ucapnya dengan dialek khas Jawa Timur.
Dengan dunia seperti itu, sampai-sampai Boy berani menyebut, bahwa orang-orang
yang ingin berwisata itu adalah "orang sakit". Mereka butuh obat untuk menyembuhkan sakit yang diderita. "Dengan ini (berwisata), mereka seperti nemukan obatnya. Dengan konsep bukan sekadar wisata biasa, pendekatan dilakukan dengan hati, bukan karena materi. Makanya kalau kerja, saya sering tidak kenal waktu," tegasnya.
Disinggung tentang destinasi wisata yang sering dikunjungi yakni di Jatim, Jateng dan Joigjakarta, saat ini tempat-tempat wisata berkembang pesat. Bukan hanya alamnya yang indah-indah, tapi kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap dunia wisata sangat besar. "Itu berbeda dengan tiga atau empat tahun silam. Objek wisata di Jawa Timur berkembang cukup pesat, pun demikian di Jawa Tengah, dan Jogjakarta," katanya.
Meski demikian, ia masih menemukan ironi. Di saat pembangunan pariwisata maju pesat, justru masyarakat lokalnya tersingkirkan. "Itu harus terjadi, karena berkembangnya objek wisata modern," lanjutnya. Dan dari situ lah dia mulai berkecimpung dalam dunia wisata. Sebagai masyarakat asli Jawa (Jawa Timur), kejadian itu membuatnya prihatin. Lebih-lebih, situasi demikian itu bisa terjadi, juga karena tingkat kesadaran masyarakat lokal atas potensi daerah masing-masing untuk dijadikan objek wisata minim. "Makanya, untuk mulai mengembangkan desa wisata kita harus siap dianggap gila," pungkasnya.(*/jko/ong) Editor : Administrator