Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tan Brata Halim, Lebih dari 40 Tahun Bergulat dengan Patung Rohani

Administrator • Jumat, 26 Desember 2014 | 02:03 WIB
Photo
Photo
DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
MEMUNCULKAN AURA: Tan Brata Halim terus melatih diri untuk "merias" patung sehingga terkesan hidup dan bukan jadi hiasan semata.

Set Natal Paling Laris, Diminati hingga Roma


Patung memang benda mati buatan tangan manusia. Tapi sejak kecintaannya membuat patung muncul, Tan Brata Halim tidak hanya menganggapnya hanya benda mati tanpa rasa. Tak pernah jenuh, dirinya terus melatih diri untuk "merias" patung, berusaha memunculkan aura sehingga terkesan hidup dan bukan jadi hiasan semata
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
MENGGUNAKAN kuas kecil, Brata tengah sibuk membuat sentuhan akhir pada se-buah patung yang rupanya sudah tiga hari ini dia terfokus padanya. Karena untuk pa-tung pesanan ini, dirinya menggunakan teknik membatik. Sambil mengobrol, tangan-nya tak dibiarkan lepas menggores warna.Keahliannya "merias" patung bukan se-tahun dua tahun dipelajari. Tapi sudah puluhan tahun pria berusia 70 tahun ini berkutat dengan warna dan teknik. Sehing-ga dia menemukan formulasi yang pas, dan hasil polesannya mampu mengeluarkan aura si patung."Kami mengerjakannya tidak asal jadi, tapi pakai rasa. Ketika jadi dan terlihat ayu, baru di situ kepuasannya," ujar Brata ke-pada Radar Jogja saat ditemui di Rumah Patung Brata Gallery miliknya.
Membuat patung sudah dirintisnya sejak 40 tahun lalu. Awalnya memulai dengan membuat manekin atau boneka pajangan etalase. Namun seiring berjalannya waktu, Brata lebih merasa memiliki rasa saat mem-buat patung-patung rohani. Hingga sekarang, dirinya menjadi salah satu spesialis patung rohani atau realigi di Jogja.Bukan pencapaian yang mudah, hingga akhirnya kini setiap hari galerinya tidak pernah sepi dari pesanan membuat patung. Apalagi menjelang Natal seperti kemarin-kemarin ini. Sejak awal bulan Desember, bahkan beberapa pesanan sudah datang padanya untuk membuatkan patung set Natal atau patung Maria
"Kalau Natal ini yang paling banyak patung Maria dan set Natal. Satu set Natal ada 15 pa-tung, mulai dari domba, sapi, tiga raja, malaikat, Maria dan Yesus, dan Yusuf," ungkapnya. Tahun ini dirinya membuat beberapa macam ukuran patung set Natal. Mulai 20 cm hingga 90 cm. Satu setnya dijual mulai harga Rp 600 ribu. Untuk pesanan patung Maria, ukurannya lebih beragam, mulai dari puluhan centi hingga lima meter. Patung pesanan khusus Natal ini peme-sannya tidak hanya dari Jogja, tapi hampir dari seluruh Indo-nesia. Karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu be-berapa hari, misalnya untuk satu set Natal butuh 10 hari peng-erjaan, maka pemesanan tidak bisa mendadak. Kalaupun ada, dirinya terpaksa menolak.
Di awal terjun ke dunia seni patung, dirinya belum memilik rasa percaya diri yang besar se-perti saat ini. Satu patung jadi, belum tentu dirinya berani mem-beri harga. Karena apa yang dia lihat bagus, belum tentu bagi orang lain. Tapi penilaian jelek dari orang lain dijadikan moti-vasi agar patungnya disukai si-apa pun yang melihat."Untuk jadi riasan yang se-perti sekarang, saya dulu men-ghabiskan 10 ribu patung untuk dirias. Tapi sekarang anak saya pun sudah lebih jago dari saya, saya senang," ujarnya terse-nyum.
Patung fiber buatannya dipro-duksi di Bantul, dengan kualitas fiber yang tidak mudah keropos dan rapuh. Seusai diproduksi, juga ada tahap uji keropos. Se-telah itu baru diantar ke galeri miliknya di Jalan Pajeksan 52, Jogja. Di sinilah setiap harinya Brata berinteraksi dengan patung-patung. Cat yang digunakan merupakan cat duco atau cat mobil. Menurutnya, semua tahapan dalam proses membuat patung sangat penting. Sehingga patung itu saat jadi bisa terlihat memi-liki aura. Misalnya untuk memun-culkan kesan mata itu hidup, beberapa finishing menggunakan titik putih, tapi dirinya meng-gunakan teknik yang berbeda. Detail sangat diperhatikan saat mulai proses pencetakan dimu-lai, baru disempurnakan saat proses akhir."Orang lain bisa bikin patung, tapi finishing belum tentu sama. Kalau saya harus terlihat detail dan auranya. Kalau hasilnya jelek, ya nggak dikirim, untuk itu bikinnya harus dari hati, ng-gak asal jadi duit," ujarnya.
Di saat orang-orang seusianya memilih pensiun dan beristira-hat, Brata beda. Karena ini bukan lagi sebuah pekerjaan baginya, tapi hobi, kecintaan dan seni. Maka dirinya memilih setia pada kuas dan patung-patung religinya, merias ribuan patung agar terlihat hidup.Sejak awal merintis pembuatan patung religi, Brata pun tidak banyak melakukan promosi. Dari mulut ke mulut patung-patungnya pun semakin banyak diapresiasi orang. Seperti suster-suster yang membawa puluhan patung Maria untuk dibawa se-bagai suvenir saat pergi ke Roma, Italia.
Membuat beragam patung rohani mulai dari ukuran pulu-han centimeter hingga ukuran raksasa sekitar 8 meter."Kalau yang ke luar negeri awalnya dibawa dulu sama orang Indonesia, baru mereka pesan. Saya percaya, mereka yang suka dengan patung di sini pasti akan kembali dan cerita ke teman-temannya. Itulah yang mem-buat galeri ini terus berjalan," ujar Brata yang juga membuat patung binatang dan bentuk lainnya.
Tak hanya menerima pesanan berdasar gambar sesuai yang diminta, setiap minggu Brata selalu mengeluarkan model de-sain baru. Untuk itu, dirinya juga bekerjasama dengan dela-pan seniman. Namun untuk produksi, tetap keputusan ada di tangannya, apakah model desain itu sudah layak produk-si atau belum."Tapi setiap minggu kami kelu-arkan model baru. Kalau ada yang tertarik, ya syukur. Kalau tidak, ya didisplay. Tapi biasanya kalau didisplay pasti ada yang tertarik," tandas Brata. (*/laz/ong) Editor : Administrator