MILAN – Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, menerima risiko dari gaya bermain intens yang diterapkan timnya setelah menang dramatis 5-3 atas Udinese pada lanjutan Serie A 2026/2027.
Pertandingan di Giuseppe Meazza, Senin (14/9) malam waktu setempat, kembali menjadi laga penuh drama bagi Nerazzurri. Untuk kedua kalinya secara beruntun di kandang, Inter harus tertinggal dua gol lebih dulu sebelum akhirnya bangkit dan mengamankan kemenangan.
Sebelumnya, Inter juga sempat tertinggal 0-2 ketika menghadapi Napoli. Namun, mereka mampu membalikkan keadaan dan menang 3-2. Kali ini, Udinese kembali membuat Inter berada dalam situasi sulit sebelum pertandingan berakhir dengan skor 5-3.
Delapan gol tercipta dari delapan pemain berbeda. Hasil tersebut memperlihatkan betapa tajamnya lini serang Inter, tetapi sekaligus menunjukkan celah pertahanan ketika konsentrasi tim menurun.
Chivu menyebut kemampuan mencetak banyak gol sekaligus menjaga intensitas merupakan bagian dari karakter permainan Inter.
Baca Juga: Dominic Calvert-Lewin Menggila, Leeds Hancurkan Newcastle 4-1
“Ini adalah kualitas yang kami miliki dan hal yang memang kami tahu bagaimana melakukannya. Kami bisa mencetak banyak gol dan menjaga level permainan tetap tinggi,” ujar Chivu kepada Sky Sport Italia.
Ia mengakui Inter tidak tampil sesuai harapan pada 25 menit pertama. Menurutnya, Udinese mampu memanfaatkan energi dan sikap bermain Inter yang kurang maksimal.
“Pada 25 menit pertama kami mencoba melakukan beberapa hal, tetapi energinya tidak tepat. Udinese tampil bagus dan mampu memanfaatkan kondisi tersebut. Namun, kami berhasil memberikan respons,” jelasnya.
Chivu juga mengapresiasi mental para pemain yang tidak menyerah meski sempat tertinggal.
“Kami tetap berada dalam pertandingan dan tidak ingin kalah. Saya senang dengan hal itu. Namun, saya juga harus menganalisis apa yang tidak berjalan baik dan apa yang mungkin gagal saya sampaikan kepada tim. Saya sebenarnya sudah memperkirakan situasi ini karena pertandingan Liga Champions benar-benar menguras energi,” ungkapnya.
Inter Tajam, tapi Masih Rentan
Kemenangan atas Udinese menjadi kali keempat sepanjang 2026 Inter mencetak setidaknya lima gol dalam satu pertandingan Serie A. Catatan tersebut menempatkan mereka sebagai salah satu tim paling produktif di lima liga top Eropa.
Di Serie A musim ini, Inter bahkan menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak setelah mengoleksi 14 gol. Namun, produktivitas tersebut diiringi masalah di lini belakang. Mereka telah kebobolan delapan gol dalam empat pertandingan.
Chivu mengakui kondisi tersebut tetap menjadi perhatian.
“Kalau saya mengatakan tidak khawatir, berarti saya bukan seorang pelatih,” ujarnya.
Baca Juga: Mengenal Wadai Putri Selat, Jajanan Pasar Khas Kalimantan Selatan
Menurutnya, sepak bola modern memang menuntut permainan dengan intensitas tinggi. Risiko kebobolan menjadi konsekuensi yang harus diterima ketika tim bermain agresif.
“Inilah sepak bola modern. Intensitasnya sangat tinggi dan lawan juga berani menghadapi kami. Saya menyukai cara bermain seperti ini, meskipun memang ada risiko yang harus diambil,” kata Chivu.
Ia bahkan menyoroti proses terciptanya gol penyama kedudukan Inter menjadi 2-2. Menurutnya, gol tersebut menunjukkan efektivitas permainan agresif saat merebut bola kembali.
“Saya sangat menyukai proses gol 2-2 karena semuanya berawal dari keberhasilan kami merebut bola dengan cepat. Kami tahu kami tidak sempurna. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan sejumlah area yang perlu diperbaiki,” tuturnya.
Chivu Soroti Perkembangan Inter
Inter sebelumnya kalah dari Udinese di kandang sendiri pada pekan kedua musim lalu. Namun, Chivu melihat situasi tim saat ini sudah berbeda.
“Kami semua bertambah tua selama setahun,” canda Chivu ketika ditanya mengenai perbedaan Inter musim lalu dan sekarang.
Ia kemudian serius menjelaskan bahwa perbedaan terbesar adalah kemampuan Inter merespons ketika berada dalam situasi sulit.
“Kami kalah dalam pertandingan tersebut dan tidak mampu membalikkan keadaan. Sekarang situasinya berubah,” jelasnya.
Chivu juga enggan menjadikan dua trofi yang diraih Inter sebagai tolok ukur utama perkembangan tim.
“Memang mudah mengatakan bahwa sejak saat itu kami sudah menambah dua trofi, dan itu benar. Tetapi semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang kami menghadapi musim baru,” ujarnya.
Baca Juga: Gubernur DIY HB X Harap JJLS Kelok 23 Berdampak pada Lama Tinggal Wisatawan di Yogyakarta
Inter kini mengoleksi enam poin lebih banyak setelah empat pertandingan dibandingkan periode yang sama musim lalu. Chivu menegaskan timnya terus berusaha berkembang tanpa kehilangan identitas permainan.
Kedalaman Skuad Jadi Kekuatan
Comeback atas Udinese juga diraih ketika Lautaro Martinez diistirahatkan. Inter turut kehilangan Hakan Calhanoglu dan Djed Spence karena cedera.
Sementara itu, John Stones harus ditarik keluar sekitar satu jam setelah menjalani debut sebagai starter untuk Inter.
Meski menghadapi sejumlah persoalan, Chivu justru melihat kedalaman skuad sebagai keuntungan besar.
“Kami ingin menambahkan elemen-elemen baru dan meningkatkan opsi rotasi agar semua pemain tetap memiliki peran penting,” katanya.
Ia menyebut sejumlah pemain yang mendapat kesempatan bermain seperti Henrikh Mkhitaryan, Ange-Yoan Bonny dan Aleksandar Stankovic.
Chivu bahkan mengaku sedikit khawatir karena belum bisa memberikan menit bermain kepada Petar Sucic dan Yann Bisseck.
Namun, hal tersebut justru menunjukkan betapa banyaknya pilihan yang dimilikinya.
“Saya sedikit khawatir karena hari ini tidak bisa memainkan Sucic dan Bisseck. Tetapi itu terjadi karena klub telah membangun skuad yang sangat bagus sehingga saya justru kesulitan ketika harus memilih sebelas pemain,” ujar Chivu.
“Sekarang kami memiliki lebih banyak pilihan dan kedalaman skuad,” tambahnya.
Tantang Roma, Ujian Konsistensi Inter
Berikutnya, Inter akan menghadapi Roma asuhan Gian Piero Gasperini pada Sabtu. Pertandingan di Stadion Olimpico tersebut menjadi duel penting karena kedua tim sama-sama memiliki catatan sempurna setelah empat pertandingan.
Baca Juga: Dicopot Prabowo dari Kursi Menkeu, Anak Purbaya: Akhirnya Bapak Bisa Tidur Nyenyak!
Chivu menegaskan tidak ada tim sepak bola yang benar-benar sempurna.
“Sebagai pemain maupun pelatih, saya tidak pernah melihat tim sepak bola yang sempurna. Kami harus terus berusaha memberikan yang terbaik dan mempertahankan identitas,” katanya.
Menurutnya, identitas tersebut bukan hanya berkaitan dengan aspek taktik, tetapi juga nilai dan prinsip yang dibangun dalam tim.
“Kami harus menjaga nilai dan prinsip, baik secara taktik maupun sebagai manusia. Saya menyukai hal tersebut, meskipun dalam beberapa pertandingan semuanya bisa berjalan lebih baik atau lebih buruk. Itulah sepak bola,” tuturnya.
Chivu menilai menemukan keseimbangan menjadi kunci agar Inter dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter permainan.
“Menemukan keseimbangan adalah kuncinya. Kami harus melakukan berbagai hal tanpa kehilangan identitas kelompok ini,” ujarnya.
Ia juga menyebut sejumlah pemain masih membutuhkan waktu untuk mencapai kondisi fisik terbaik karena tidak menjalani pramusim secara penuh.
“Kami mencoba membuat semua pemain mendapatkan menit bermain agar proses tersebut berjalan. Kami tahu ada risiko yang harus diambil,” katanya.
Baca Juga: Comeback Dramatis, Real Betis Tekuk Villarreal dan Naik ke Posisi Ketiga LaLiga
Laga melawan Roma pun menjadi semakin penting karena setelahnya kompetisi akan memasuki jeda internasional.
“Ini jelas pertandingan penting sebelum jeda panjang untuk agenda internasional. Setelah itu, saya mungkin hanya akan memiliki sekitar tiga pemain dalam sesi latihan,” pungkas Chivu.