LIVERPOOL – Kemenangan Liverpool atas Atletico Madrid dengan skor 2-1 di Liga Champions menyisakan satu pertanyaan besar terkait komposisi lini tengah The Reds.
Andoni Iraola memilih menurunkan Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai secara bersamaan di sektor tengah. Keputusan tersebut membuat Ryan Gravenberch kembali harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Bagi Gravenberch, situasi tersebut cukup mengkhawatirkan. Gelandang asal Belanda itu sudah tiga pertandingan beruntun tidak masuk starting XI Liverpool.
Sebaliknya, Mac Allister dan Szoboszlai justru tampil impresif. Keduanya sama-sama mencetak gol ke gawang Atletico Madrid dan mampu memberikan kontribusi ketika Liverpool menguasai maupun kehilangan bola.
Performa tersebut membuat keputusan Iraola semakin masuk akal. Terlebih, sebelumnya banyak yang memprediksi Gravenberch akan menjadi salah satu pemain utama Liverpool setelah kedatangan Iraola.
Baca Juga: Mengenal Suku Boti di NTT yang Unik: Hidup Mandiri Tanpa Bahan Kimia dan Tolak Modernisasi
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan lini tengah Liverpool?
Mengapa Gravenberch Tersingkir?
Musim 2025/2026 menjadi periode yang mengecewakan bagi Liverpool. The Reds hanya mampu mengakhiri Premier League di posisi keenam dengan koleksi 60 poin dan harus menyerahkan gelar juara kepada Arsenal.
Berbagai persoalan muncul sepanjang musim tersebut. Salah satu titik lemah Liverpool berada di lini tengah.
Gravenberch dan Mac Allister beberapa kali kesulitan ketika harus bertahan. Keduanya dianggap mudah dieksploitasi lawan, sehingga muncul desakan agar Liverpool mendatangkan gelandang baru untuk memperkuat sektor tersebut.
Namun, Liverpool tidak mendapatkan tambahan gelandang pada bursa transfer musim panas. Karena itu, banyak yang memperkirakan Gravenberch akan tetap menjadi partner Szoboszlai dalam skema double pivot musim 2026/2027.
Prediksi tersebut ternyata tidak sepenuhnya terbukti.
Pada pertandingan pekan pertama menghadapi Newcastle United, kelemahan Gravenberch ketika menjadi gelandang paling dalam terlihat cukup jelas. Pemain berusia 24 tahun itu beberapa kali berada terlalu jauh di depan bola sehingga meninggalkan ruang di belakangnya.
Secara fisik, Gravenberch sebenarnya memiliki modal yang sangat mendukung untuk bermain dalam sistem Iraola. Namun, selama membela Liverpool, ia masih kerap melakukan kesalahan ketika harus membaca ruang, menjaga area tertentu, maupun mengikuti pergerakan pemain lawan.
Situasi tersebut membuat Mac Allister memiliki keunggulan tertentu.
Baca Juga: Chelsea Cetak 16 Gol dalam Lima Laga, Cole Palmer: Semua Pemain Depan Menikmatinya
Gelandang asal Argentina itu memang tidak selalu mampu menutup area yang luas. Hal tersebut bisa menjadi persoalan ketika lawan berhasil melewati pressing Liverpool. Namun, Mac Allister dinilai memiliki pemahaman permainan yang lebih baik ketika tim tidak menguasai bola.
Musim ini, Mac Allister juga beberapa kali bermain lebih dalam ketika Szoboszlai mengambil posisi yang lebih maju. Saat struktur Liverpool tetap rapat, ia mampu memenangkan duel dan memberikan perlindungan lebih baik di depan lini belakang.
Kelemahan Mac Allister tetap ada, terutama ketika menghadapi lini tengah lawan yang mengandalkan kekuatan fisik. Namun, fakta bahwa Szoboszlai dan Iraola sama-sama melihat Mac Allister sebagai pemain penting di tengah menunjukkan bahwa posisi Gravenberch sedang berada dalam ancaman.
Masa Depan Gravenberch di Liverpool
Gravenberch masih memiliki kesempatan untuk merebut kembali tempatnya di starting XI. Namun, performanya selama membela Liverpool belum sepenuhnya meyakinkan.
Pada musim 2023/2024, Jurgen Klopp juga belum memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk tampil sebagai starter secara konsisten.
Musim lalu bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu periode terburuk Gravenberch di Liverpool. Ia dinilai menjadi salah satu gelandang utama dengan performa paling mengecewakan.
Bahkan ketika Liverpool berhasil memenangkan Premier League 2024/2025, Gravenberch sempat tampil menjanjikan di awal musim sebelum performanya perlahan menurun.
Kini, situasinya menjadi semakin kompleks karena Liverpool sudah mengikat Gravenberch dengan kontrak berdurasi enam tahun yang ditandatangani pada Maret lalu.
Kontrak jangka panjang tersebut membuat Liverpool dan sang pemain terikat untuk waktu yang cukup lama. Jika performanya terus berada di bawah ekspektasi, nilai jualnya di pasar Eropa berpotensi menurun dan kontrak tersebut justru dapat menjadi beban bagi klub.
Liverpool juga telah memberikan kontrak jangka panjang kepada Szoboszlai hingga 2031. Sementara itu, Mac Allister belum mendapatkan kontrak baru meski belakangan namanya cukup sering dikaitkan dengan kemungkinan meninggalkan Anfield.
Baca Juga: Dari Mencari Judul hingga Revisi Berulang, Suka Duka Mahasiswa dalam Menyelesaikan Skripsi
Situasi tersebut membuat Liverpool berada dalam posisi yang menarik. Klub telah mempertaruhkan masa depan lini tengah kepada Gravenberch, tetapi Iraola justru mulai menemukan formula yang membuat Mac Allister dan Szoboszlai terlihat lebih cocok.
Bukan tidak mungkin Liverpool kembali mencari gelandang baru dalam dua bursa transfer berikutnya apabila performa Gravenberch tidak kunjung membaik.
Trey Nyoni juga berpeluang menjadi pesaing untuk posisi di starting XI. Namun, dengan kontrak panjang yang masih dimilikinya, Gravenberch sebenarnya mempunyai cukup waktu untuk membalikkan keadaan dan kembali menjadi pemain penting Liverpool.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Gravenberch mampu kembali ke starting XI, tetapi apakah ia bisa meyakinkan Iraola bahwa dirinya layak menjadi bagian utama dari proyek baru Liverpool.
Editor : Bahana.