RADAR JOGJA - Final Piala Dunia 2026 dipastikan akan menghadirkan sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen, yakni halftime show atau pertunjukan musik pada jeda babak pertama.
Konsep yang selama ini identik dengan Super Bowl di Amerika Serikat itu akan menjadi bagian dari rangkaian hiburan pada partai puncak Piala Dunia.
Keputusan FIFA tersebut langsung menarik perhatian publik. Selain menghadirkan deretan musisi kelas dunia, durasi jeda pertandingan diperkirakan akan lebih panjang dari biasanya agar pertunjukan dapat berlangsung.
Baca Juga: Real Madrid Siapkan Manuver untuk Datangkan Michael Olise Meski Bayern Munich Tegaskan Tidak Dijual
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kebijakan tersebut bertentangan dengan Laws of the Game yang menjadi dasar peraturan sepak bola internasional?
Dalam Laws of the Game yang diterbitkan oleh International Football Association Board (IFAB), jeda babak pertama pada dasarnya tidak boleh melebihi 15 menit. Aturan tersebut telah lama menjadi standar dalam seluruh pertandingan sepak bola resmi di dunia.
Namun, aturan yang sama juga memberikan pengecualian. Durasi jeda pertandingan dapat diubah apabila peraturan kompetisi (competition rules) menetapkan ketentuan berbeda.
Dengan kata lain, penyelenggara turnamen memiliki kewenangan untuk mengatur lamanya jeda selama hal tersebut tercantum dalam regulasi resmi kompetisi.
Karena itu, apabila FIFA memasukkan ketentuan mengenai halftime show beserta durasi jeda yang lebih panjang ke dalam regulasi resmi Piala Dunia 2026, maka pelaksanaannya tidak melanggar Laws of the Game.
Berbeda dengan jeda normal selama 15 menit, halftime show pada final Piala Dunia 2026 diperkirakan membuat waktu istirahat menjadi sekitar 25 hingga 30 menit.
Baca Juga: FIFA Tunjuk Slavko Vincic untuk Pimpin Laga Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina
Tambahan waktu tersebut dibutuhkan untuk proses pemasangan dan pembongkaran panggung, selain pertunjukan musik yang diperkirakan berlangsung sekitar 11 menit.
FIFA telah mengonfirmasi bahwa final Piala Dunia 2026 akan menghadirkan sejumlah artis internasional sebagai bagian dari hiburan pertandingan.
Konsep tersebut menjadi salah satu inovasi terbesar dalam sejarah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Baca Juga: Bek PSG Illia Zabarnyi Masuk Radar Liverpool, Andoni Iraola Ingin Reuni dengan Mantan Anak Asuh
Tuai Dukungan dan Kritik
Meski tidak bertentangan dengan regulasi permainan, kebijakan ini memunculkan pro dan kontra.
Pendukung halftime show menilai langkah FIFA dapat meningkatkan daya tarik final Piala Dunia secara global. Pertunjukan musik dinilai mampu menjangkau penonton yang lebih luas, meningkatkan nilai komersial turnamen, sekaligus menghadirkan pengalaman hiburan yang berbeda bagi para penggemar.
Di sisi lain, sejumlah pihak mempertanyakan dampaknya terhadap aspek teknis pertandingan. Jeda yang lebih panjang dikhawatirkan membuat suhu otot pemain menurun sehingga berpotensi meningkatkan risiko cedera.
Selain itu, ritme pertandingan juga bisa terganggu karena para pemain kemungkinan harus melakukan pemanasan ulang sebelum babak kedua dimulai.
Tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa sepak bola memiliki tradisi berbeda dengan olahraga Amerika Serikat seperti NFL. Karena itu, mereka menilai jeda 15 menit yang selama ini diterapkan sudah menjadi bagian dari karakter permainan yang sebaiknya tetap dipertahankan.
Terlepas dari berbagai perdebatan, penyelenggaraan halftime show pada final Piala Dunia 2026 tetap berada dalam koridor peraturan selama diatur secara resmi oleh FIFA melalui regulasi kompetisi.
Artinya, dari sisi hukum permainan, inovasi tersebut bukan merupakan pelanggaran terhadap Laws of the Game.
Namun, perubahan ini menjadi salah satu langkah paling signifikan dalam sejarah Piala Dunia yang berpotensi mengubah pengalaman menyaksikan partai final, sekaligus membuka babak baru dalam perpaduan antara olahraga dan industri hiburan global.
Editor : Satria Putra Sejati