RADAR JOGJA - Bukayo Saka mengatakan larangan bermain dua pertandingan untuk Jarell Quansah sangat mengecewakan tetapi menolak untuk membandingkannya dengan keputusan FIFA untuk menangguhkan hukuman Folarin Balogun sebelumnya di turnamen tersebut.
Quansah diusir dari lapangan setelah tinjauan VAR menyusul tekel keras terhadap Jesus Gallardo saat Inggris mengamankan kemenangan 3-2 atas Meksiko di Azteca.
FIFA menganggap tekel tersebut telah melanggar pasal 14 kode etik FIFA dan melarangnya bermain satu pertandingan tambahan.
Inggris tidak dapat mengajukan banding atas keputusan tersebut, tetapi Thomas Tuchel kemungkinan akan memandang keputusan tersebut dengan kecewa mengingat kekecewaannya atas apa yang ia indikasikan sebagai inkonsistensi dalam pengambilan keputusan wasit setelah FIFA memilih untuk menangguhkan larangan bermain satu pertandingan Balogun sehingga ia dapat bermain dalam kekalahan USMNT 4-1 dari Belgia.
"Saya baru mengetahuinya. Sangat mengecewakan. Tapi begitulah keadaannya sekarang," kata Saka. "Kita harus menghadapinya, beradaptasi, dan siap untuk pertandingan," imbuhnya.
Membandingkan situasi sama yang dilakukan oleh Folarin Balogun, Saka menilai dirinya tidak mau berkomentar banyak terkait hal itu.
Baca Juga: Terlilit Utang, Tukang Bangunan di Magelang Curi Ratusan Kilogram Kapulaga
"Itu adalah keputusan FIFA," kata Saka. "Keputusan ini mengecewakan tetapi kami fokus pada diri kami sendiri. Kami harus beradaptasi, menghadapinya, dan memilih tim yang siap untuk pertandingan berikutnya," jelasnya.
Dilain sisi, rekan Saka, Nico O'Reilly mengakui situasi Quansah cukup menyedihkan namun bagaimanapun keputusan tersebut bersifat final.
"Sayang sekali. Saya sangat sedih untuknya. Dia tidak senang dengan itu. Keputusan sudah dibuat sekarang dan dia harus menerimanya," tegas Nico.
Editor : Satria Putra Sejati