Kiper Timnas Inggris, Jordan Pickford, menegaskan bahwa The Three Lions telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, termasuk jika laga babak 32 besar Piala Dunia melawan Republik Demokratik Kongo harus ditentukan melalui adu penalti.
Sejauh ini, dua pertandingan fase gugur Piala Dunia telah berakhir lewat adu penalti. Belanda disingkirkan Maroko, sementara Jerman harus mengakui keunggulan Paraguay setelah gagal dalam babak tos-tosan.
Inggris sendiri memiliki sejarah yang naik turun dalam adu penalti. Dari 11 adu penalti yang dijalani di turnamen besar, yakni Piala Dunia, Piala Eropa, dan UEFA Nations League, Inggris hanya berhasil meraih empat kemenangan.
Sejak ditangani mantan pelatih Gareth Southgate, Inggris berupaya mengubah mentalitas tim dalam menghadapi adu penalti. Hasilnya mulai terlihat ketika mereka mengalahkan Kolombia melalui adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 2018.
Meski kemudian kalah dari Italia pada final Euro 2020, Inggris kembali menunjukkan kemajuan dengan menyingkirkan Swiss lewat adu penalti pada perempat final Euro 2024.
Pickford menjadi bagian dari ketiga momen tersebut dan menilai pengalaman itu sangat berharga.
"Anda harus siap menghadapi segala kemungkinan. Kami tentu ingin memenangkan pertandingan dalam 90 menit. Namun jika harus bermain hingga 120 menit atau berakhir dengan adu penalti, kami sudah siap. Kami sudah menjalani semua latihan yang diperlukan dan siap menghadapi pertandingan," ujar Pickford seperti dikutip dari espn.com
Kiper Everton itu juga mengaku menyaksikan dua adu penalti yang terjadi pada Senin lalu untuk mempelajari bagaimana para penjaga gawang berusaha memperoleh keuntungan psikologis atas para penendang.
"Kalau mereka gagal mengeksekusi penalti tentu itu menguntungkan bagi para kiper. Setiap pemain punya rutinitas dan persiapan masing-masing, tetapi semua orang berbeda. Situasinya penuh tekanan, sehingga yang paling penting adalah eksekusi dan pengulangan latihan. Itulah yang sudah kami persiapkan," katanya.
Sementara itu, pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mengatakan timnya mengikuti program khusus adu penalti yang telah lama dikembangkan oleh Federasi Sepak Bola Inggris (FA).
Menurut Tuchel, tekanan dalam situasi adu penalti memang sulit direplikasi saat latihan, tetapi proses persiapan tetap dilakukan secara rinci.
"Sangat sulit mensimulasikan tekanan yang sesungguhnya. FA sudah memiliki program khusus selama bertahun-tahun dan kami mengikutinya secara detail. Kami mempersiapkan diri semaksimal mungkin," ujar Tuchel.
Ia juga mengutip pengalaman legenda Prancis, Thierry Henry, yang mengaku bahkan tidak mengingat perjalanan dari garis tengah lapangan menuju titik penalti saat menjalani adu penalti pertamanya bersama tim nasional Prancis.
Baca Juga: Sering Cancel GoCar? Siap-Siap Kena Biaya Pembatalan Rp 3.000, Ini Aturan Mainnya!
"Hal-hal seperti itu tidak bisa direncanakan. Pada akhirnya semuanya bergantung pada kemampuan mengeksekusi penalti dan kebiasaan yang dibangun melalui latihan berulang," tambahnya.
Ketika ditanya apakah Inggris sudah menentukan urutan penendang penalti sebelum pertandingan atau akan meminta kesediaan pemain di lapangan, Tuchel memastikan tim pelatih telah menyiapkan daftar eksekutor.
"Kami tidak bertanya kepada pemain di lapangan. Kami sudah mengetahui siapa saja yang akan mengambil penalti dan urutannya telah disiapkan. Yang menjadi penyesuaian hanyalah kami belum tahu siapa saja yang akan tetap berada di lapangan hingga pertandingan berakhir," pungkas pelatih asal Jerman tersebut.
Editor : Bahana.