SLEMAN - Persoalan tunggakan gaji kembali terjadi di dunia sepak bola Indonesia.
Hal ini menimpa pelatih Kahudi Wahyu Widodo. Ia secara blak-blakan mengaku adanya tunggakan gaji dari dua tim yang ditanganinya pada musim 2025/2026 ini.
Dua klub tersebut yakni PSIS Semarang dan PSBS Biak.
Kahudi di musim sebelumnya menjabat sebagai pelatih di PSIS Semarang kemudian menjabat asisten pelatih PSBS Biak.
Di Laskar Mahesa Jenar =julukan PSIS Semarang, Kahudi mengaku ada hak dua bulan gaji yang masih mengambang.
"Gajiku di PSIS Semarang belum dibayar. Hitungannya satu bulan gaji berjalan, plus satu bulan kompensasi pemutusan kontrak. Jadi totalnya dua bulan," jelasnya, Minggu (31/5).
Tak hanya di PSIS Semarang saja. Saat Kahudi memutuskan hijrah menukangi PSBS Biak, nasib apes kembali menimpanya.
Di klub berjuluk Badai Pasifik tersebut, tunggakan yang dialaminya justru jauh lebih membengkak.
"Di PSBS Biak gaji ada empat bulan belum gaji yang belum dibayarkan," tegasnya.
Kahudi mengungkapkan, sebenarnya, cerita di balik penunggakan gaji itu pun sempat diwarnai drama jaminan kendaraan.
Saat menukangi PSIS Semarang, pelatih berusia 47 ini sempat diberikan satu unit mobil oleh pihak manajemen sebagai jaminan sementara. Namun, lagi-lagi janji itu hanya tinggal janji.
Kala itu, lanjut Kahudi, setelah hijrah ke PSBS Biak, satu minggu kemudian ia dijanjikan oleh manajemen sisa gaji dan kompensasi pemutusan kontrak akan dibayar, lalu mobil juga akan diambil kembali. Tapi sampai sekarang hak itu belum dibayar, dan mobil juga tidak dikasih surat BPKB-nya.
Atas berbagai rentetan permasalahan tersebut, Kahudi mengaku sudah mencoba jalur resmi dengan mengadu ke Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI). Tapi sayang, langkah tersebut belum membuahkan hasil konkret hingga saat ini.
Baca Juga: Luis Enrique Ungkap Gol Keberuntungan Arsenal Memberikan PSG Tantangan Besar di Final Liga Champions
"Gaji staf pelatih, Coach Bowo yang hanya Rp 7 juta dikali dua bulan saja sampai sekarang juga belum dibayarkan," bebernya.
Oleh karena itu, sebagai sosok yang pernah membesarkan dan dibesarkan oleh PSIS Semarang, Kahudi mengaku sangat menyayangkan kondisi ini. Mengingat di musim 2025/2026 ini klub terlihat jor-joran di bursa transfer, namun abai terhadap hak-hak pelatih lokal.
"Selama ini saya diam karena cinta PSIS, mantan timku. Tapi kok kebangetan, jor-joran beli pemain (tapi gaji menunggak)," tandasnya. (ayu).
Editor : Bahana.