JOGJA - Mencintai klub sepak bola, tidak melulu soal berdiri selama 90 menit di atas tribun, membakar suar, atau meneriakkan chant hingga suara serak.
Ada cara lain mencintai klub dan membuatnya menjadi abadi. Salah satunya adalah lewat jepretan kamera, membekukan momen, dan menyusunnya menjadi tumpukan sejarah yang tak akan lekang oleh waktu.
Esensi itulah yang coba diulik dalam gelaran Kelas Turun Minum. Bertajuk Memotret Realita Liga Indonesia yang diinisiasi oleh komunitas Bawah Skor, Sabtu sore (16/5). Kegiatan ini menyasar para elemen suporter untuk melebur dan belajar bersama para pemburu visual.
Rizky Wahyu / Radar Jogja
Inisiator Bawah Skor, Dimaz Maulana mengungkapkan, Kelas Turun Minum sebenarnya merupakan program lama yang sudah bergulir sejak 2017 silam. Isinya fleksibel, mulai dari membahas isu agraria, manajemen, mitigasi bencana, hingga kali ini mendarat pada obrolan seputar astrofotografi sepak bola.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Presiden Brajamusti Ditutup, Dua Nama Berebut Kursi BM1 di Musta VI
"Sederhananya, ini platform untuk sinau (belajar) bareng dan mendalami suatu konteks. Kali ini kami menggandeng teman-teman fotografer dan videografer yang sudah kenyang makan asam garam memotret Liga Indonesia," ucap Dimaz di sela-sela kegiatan.
Kegiatan Kelas Turun Minum ini diadakan juga didasarkan karena banyaknya ruang digital, seperti Instagram atau X memang penuh dengan portofolio ciamik para fotografer.
Namun, ada detail-detail kecil yang tidak akan pernah tertangkap jika hanya melihat hasil akhir di media sosial. Sebab ada cerita tentang ketegangan di pinggir lapangan, adu sikut mencari sudut (angle) terbaik, hingga urusan menjaga mental.
"Di luar negeri atau bahkan klub luar Jogja, rilisan buku foto sudah jadi bagian dari industri literasi dan bisnis sepak bola. Kita punya potensinya, tinggal wadahnya yang perlu terus dirawat," tegasnya.
Sementara, salah satu Fotografer PSIM Jogja Muhammad Arfitian menyebut, kegiatan memotret sepak bola bukan sekadar pekerjaan visual. Melainkan bentuk dedikasi lain dari seorang suporter.
"Mencintai PSIM itu tidak harus selalu dari tribun. Tapi bisa dari hal-hal hobi yang kami sukai, salah satunya lewat foto," cetusnya.
Maka dari itu, pria yang akrab disapa Atin ini menaruh harapan besar dari program Kelas Turun Minum ini. Sebab, semakin banyak anak muda yang melek visual dan terjun ke lapangan, maka urusan pengarsipan sejarah klub akan semakin kaya.
"Harapannya lebih banyak lagi media atau fotografer yang menyorot PSIM. Bikin karya tentang PSIM. Otomatis pengarsipannya jadi lebih banyak dan itu penting untuk generasi ke depan agar tidak kehilangan file atau sejarah timnya," bebernya.
Senada dengan Atin, jurnalis foto senior Radar Jogja, Guntur Aga Tirtana yang juga didapuk menjadi pemateri, membagikan wejangan penting bagi para fotografer pemula yang ingin terjun ke belantika sepak bola nasional.
Baca Juga: Sirkuit Balap di Tengah Kota Tinggal Kenangan, IMI DIY Sebut Kini Sudah Tidak Mungkin
Sebab baginya, menjadi seorang fotografer olahraga itu tidak cukup hanya bermodal kamera mentereng dan lensa panjang.
"Selain persiapan alat, yang tidak kalah penting adalah penguasaan medan. Fotografer harus tahu kondisi lapangan, membaca arah jalannya pertandingan, hingga peka melihat sisi lain yang luput dari pandangan banyak orang," ungkapnya.
Lebih jauh, Guntur juga mewanti-wanti kepada para calon fotografer lapangan agar peka terhadap kondisi sekitar. Mengingat atmosfer Liga Indonesia yang kerap kali meletup-letup menuntut kesiapan psikologis yang matang. Situasi di dalam stadion bisa berubah dalam hitungan detik.
"Fotografer itu wajib membangun mental yang kuat untuk menghadapi situasi yang tidak bisa diprediksi di lapangan. Skill teknis itu satu hal, tapi ketenangan membaca situasi itu yang menentukan hasil foto," tandasnya. (ayu)
Editor : Bahana.