SLEMAN - Ambisi PSS Sleman untuk mengunci gelar juara Championship musim 2025/2026 harus kandas dengan cara yang menyesakkan. Bermain di hadapan publik sendiri, Laskar Sembada dipaksa menyerah dari Garudayaksa FC lewat drama adu penalti dengan skor 5-6 (2-2) di Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Sabtu (9/5) malam.
Pertandingan sejatinya berjalan sangat sengit. PSS Sleman yang sempat tertinggal, akan tetapi anak-anak Bumi Sembada berhasil menunjukkan mentalitas luar biasa, terutama di paruh kedua.
Dukungan dari puluhan ribu Slemania dan BCS mampu melecut semangat penggawa Super Elja hingga berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di waktu normal. Namun, dewi fortuna tampaknya belum berpihak pada tim kebanggaan warga Sleman ini saat memasuki babak adu pinalti.
Baca Juga: Siap Gelar Forda II di Bulan Juli, Kormi DIY Mulai Unjuk Gigi Lewat Senam Massal
Dalam drama adu pinalti tersebut, PSS Sleman kalah dari Garudayaksa FC dengan skor 3-4.
Meski belum berhasil meraih gelar juara di musim ini, akan tetapi pelatih PSS Sleman Ansyari Lubis mengaku tetap bangga dengan perjuangan anak asuhnya. Sebab walaupun hasil akhir tidak sesuai harapan. Baginya, kalah dalam adu penalti bukanlah persoalan teknis semata, melainkan faktor keberuntungan.
"Juara ya, saya kira kami apresiasi buat seluruh pemain. Tapi ya namanya adu penalti, itu sudah saya anggap tinggal luck (keberuntungan) saja," ucapnya usai pertandingan.
Tak hanya itu saja, Ansyari juga memberikan kredit khusus pada performa luar biasa Gustavo Tocantins yang tampil spartan sepanjang laga. Sebab, meski gagal mengeksekusi pinalti, akan tetapi, striker asal Brasil itu sudah tampil spartan.
"Luar biasa dia. Dia naik-turun, bisa ikut bertahan dan menyerang. Itu luar biasa buat dia," tegasnya. (ayu).
Editor : Heru Pratomo