JOGJA - Situasi tidak ideal sempat terjadi beberapa jam setelah pertandingan antara PSIM Jogjakarta melawan Persib Bandung di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Minggu (24/8).
Meski laga berjalan lancar di dalam stadion, sejumlah bentrokan antara suporter kedua tim justru pecah di beberapa titik di wilayah kota Jogja beberapa jam kemudian.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM Wendy Umar, mengakui kejadian itu cukup di luar prediksi.
Pasalnya, insiden berlangsung jauh dari area stadion, dan waktunya pun cukup lama setelah pertandingan selesai.
Secara garis besar, Wendy mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian, termasuk Polresta Jogja, yang cepat memberi perlindungan kepada teman-teman suporter Bandung.
"Ada beberapa kejadian, semua bisa diselesaikan, termasuk evakuasi di Stasiun Lempuyangan sampai membantu mereka pulang," ujar Wendy, Rabu (27/8).
Ia menegaskan, secara komprehensif situasi sudah berhasil dikendalikan dan dinyatakan steril.
Wendy juga membantah kabar liar yang beredar di media sosial soal adanya korban jiwa.
"Tidak ada korban jiwa, jadi rumor itu hoaks. Beberapa yang luka-luka sudah mendapat perawatan medis dan sudah dipulangkan," katanya.
Wendy menjelaskan, Panpel PSIM sebenarnya sudah menyiapkan berbagai langkah preventif untuk meminimalisasi potensi gesekan antarsuporter.
Empat hari sebelum pertandingan misalnya, Panpel sudah mengirim surat resmi kepada manajemen dan kelompok suporter Persib agar tidak hadir ke stadion.
"Di regulasi jelas, pasal 5 ayat 7 melarang suporter hadir di laga tandang. Kami sudah berkirim surat larangan kepada pihak Persib dan suporternya," paparnya.
Selain itu, distribusi tiket juga diperketat. Penjualan difokuskan melalui wadah resmi suporter PSIM, yaitu Brajamusti dan The Maident.
Untuk jalur online, sistem difilter dengan mewajibkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) DIY serta riwayat pernah melakukan pembelian tiket sebelumnya.
Meski sudah ada larangan dan upaya preventif, Wendy mengakui bahwa Panpel tetap menemukan ratusan suporter Persib hadir di sekitar SSA Bantul. Mereka terdeteksi dari atribut yang dipakai.
"Sekitar 200 orang terfilter sebagai suporter Persib. Mereka akhirnya tidak bisa masuk stadion. Kami lokalisir ke tempat aman dan fasilitasi, sebagian diarahkan untuk nonton bareng di Pantai Cangkring," ungkap Wendy.
Kehadiran kelompok tersebut akhirnya membuat area Pantai Cangkring menjadi titik kumpul rombongan suporter Persib yang memilih melakukan nonton bareng.
Panpel mengklaim proses pengamanan berjalan sesuai prosedur, termasuk pengecekan berlapis bagi penonton yang datang.
Selain itu, Wendy menambahkan, identifikasi suporter tamu memang dilakukan ketat berdasarkan atribut yang dipakai.
Namun ia menegaskan, larangan hanya berlaku untuk suporter dalam kapasitas kelompok, bukan penonton umum, apalagi yang merupakan individu.
"Kemarin sebenarnya bukan kecolongan. Orang yang datang ke Jogja belum tentu mau nonton bola, bisa juga wisata. Yang dilarang itu suporter, bukan penonton. Kalau ada orang asal Bandung kuliah di Jogja, ingin nonton tanpa atribut, ya dipersilakan," pungkasnya.
Dengan adanya insiden ini, Panpel PSIM menilai penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh, baik dalam pengamanan maupun pengawasan pasca pertandingan. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang di laga-laga berikutnya.
Di samping itu, salah satu hal yang diinginkannya adalah agar kondusivitas antar suporter bisa terus terjaga dengan baik.
"Koordinasi Brajamusti dan Maident dengan teman-teman di Persib harapannya tetap terjalin dengan baik. Kami tidak ingin hubungan yang selama ini baik, menjadi tidak baik lagi," tandasnya. (iza)
Editor : Bahana.