Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jalan-Jalan Subuh, Budayawan Sebut Adanya Waktu Luang dan Ruang Sosial Kota

Naila Nihayah • Minggu, 24 Maret 2024 | 16:00 WIB
Gregorius Budi Subanar (Budayawan/dosen USD).Rizky Wahyu/Radar Jogja
Gregorius Budi Subanar (Budayawan/dosen USD).Rizky Wahyu/Radar Jogja

 

RADAR JOGJA - Budayawan dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) Gregorius Budi Subanar menjelaskan, jalan-jalan pagi setelah subuh saat bulan Ramadhan adalah, ada kesadaran untuk pola hidup sehat. Kemudian adanya waktu luang dan ruang sosial kota yang menjadi tempat tujuan para pejalan kaki itu.


Menurut Banar, saat dalam kondisi bulan puasa, jalan-jalan pagi mengisi waktu luang sesudah sahur dalam konteks sekarang ada di situ. Yang kedua menjadi marak ketika situasi pandemi.

Karena situasi pandemi kemudian membuat kesadaran tentang kesehatan menjadi muncul, sehingga itu juga berimbas ke jalan-jalan pagi. "Itu menjadi marak sekarang," ungkapnya (22/3).


Ia menjelaskan penyediaan ruang kota juga menjadi alasan orang-orang menjalani jalan-jalan pagi. Artinya, orang dari wilayah tertentu berbondong-bondong untuk berjalan ke ruang-ruang itu. "Itu yang merangsang orang jalan-jalan pagi," ujarnya.


Menurutnya, ada unsur lain juga yang membuat jalan-jalan pagi menjadi marak. Misal ketika wilayah-wilayah hunian itu semakin rapat dan menyebabkan tidak ada lagi ruang sosial di kampung-kampung, sehingga membuat orang-orang lebih mencari ruang keluar.

"Ini kemudian menjadi gaya hidup. Kalau gaya hidup itu artinya ada suatu kompleksitas yang menciptakan itu," jelasnya.


Banar mengungkapkan jalan-jalan pagi di bulan puasa dari dulu emang sangat marak dan dilakukan oleh segala usia. Namun sebelumnya usia anak-anak tidak melakukannya, karena paginya mereka sekolah.


Menurut Banar, biasanya kalau subuh yang sibuk adalah pasar. Tapi waktu puasa kemudian pasar tidak menjadi sibuk karena waktu masaknya ditunda dan itu karena ada peralihan dinamika.


"Dulu sudah ada, tapi bisa dihitung orangnya dan tidak menjadi sebuah gaya hidup. Maka salah satu yang perlu menjadi pusat amatan adalah ruang-ruang yang menjadi tujuan dari orang-orang melakukan aktivitas jalan pagi itu," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Satria Pradika
#usd #obor #Universitas Sanata Dharma