RADAR JOGJA - Budayawan dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) Gregorius Budi Subanar menjelaskan, jalan-jalan pagi setelah subuh saat bulan Ramadhan adalah, ada kesadaran untuk pola hidup sehat. Kemudian adanya waktu luang dan ruang sosial kota yang menjadi tempat tujuan para pejalan kaki itu.
Menurut Banar, saat dalam kondisi bulan puasa, jalan-jalan pagi mengisi waktu luang sesudah sahur dalam konteks sekarang ada di situ. Yang kedua menjadi marak ketika situasi pandemi.
Karena situasi pandemi kemudian membuat kesadaran tentang kesehatan menjadi muncul, sehingga itu juga berimbas ke jalan-jalan pagi. "Itu menjadi marak sekarang," ungkapnya (22/3).
Ia menjelaskan penyediaan ruang kota juga menjadi alasan orang-orang menjalani jalan-jalan pagi. Artinya, orang dari wilayah tertentu berbondong-bondong untuk berjalan ke ruang-ruang itu. "Itu yang merangsang orang jalan-jalan pagi," ujarnya.
Menurutnya, ada unsur lain juga yang membuat jalan-jalan pagi menjadi marak. Misal ketika wilayah-wilayah hunian itu semakin rapat dan menyebabkan tidak ada lagi ruang sosial di kampung-kampung, sehingga membuat orang-orang lebih mencari ruang keluar.
"Ini kemudian menjadi gaya hidup. Kalau gaya hidup itu artinya ada suatu kompleksitas yang menciptakan itu," jelasnya.
Banar mengungkapkan jalan-jalan pagi di bulan puasa dari dulu emang sangat marak dan dilakukan oleh segala usia. Namun sebelumnya usia anak-anak tidak melakukannya, karena paginya mereka sekolah.
Menurut Banar, biasanya kalau subuh yang sibuk adalah pasar. Tapi waktu puasa kemudian pasar tidak menjadi sibuk karena waktu masaknya ditunda dan itu karena ada peralihan dinamika.
"Dulu sudah ada, tapi bisa dihitung orangnya dan tidak menjadi sebuah gaya hidup. Maka salah satu yang perlu menjadi pusat amatan adalah ruang-ruang yang menjadi tujuan dari orang-orang melakukan aktivitas jalan pagi itu," tandasnya. (ayu/laz)