RADAR JOGJA – Dewan Asosiasi Sepak Bola International (IFAB) akan melakukan uji coba terhadap para pemain yang melakukan pelanggaran dengan memberikan kartu biru.
Seorang pemain yang mendapatkan kartu biru akan menghabiskan waktu selama 10 menit di area khusus.
Kartu biru telah digunakan dalam ajang kompetisi sepak bola muda walaupun ada perbedaan pendapat. Namun, penggunaannya dapat diperluas ke pelanggaran sinis sebagai bagian dari uji coba.
Belum jelas kapan uji coba kartu biru dimulai dan kompetisi mana yang akan dilibatkan.
Liga Inggris telah mengesampingkan menjadi bagia dari peluncuran awal uji coba apapun sementara badan sepak bola FIFA mengatakan “Laporan apapun tentang apa yang disebut ‘kartu biru’ di tingkat elit sepak bola tidak benar dan terlalu dini,”.
“Uji coba semacam itu jika dilaksanakan harus dibatasi pada pengujian dengan cara yang bertanggung jawab di tingkat yang lebih rendah. Posisi yang ingin ditegaskan kembali oleh FIFA saat kartu biru akan dibahas pada AGM (Rapat Umum Tahunan) IFAB pada tanggal 1 Maret,”.
IFAB dijadwalkan akan mengadakan pertemuan tahunan di Lock Lomond, Swedia pada bulan Maret dan uji coba kartu biru di tingkat yang lebih tinggi dari pertandingan yang terdaftar sebagai topic untuk diskusi.
Kartu biru diujicobakan pada tahun 2018-19 dengan Asosiasi Sepak Bola melaporkan adanya penurunan dengan total 38 persen dalam perbedaan pendapat di 31 kompetisi.
Kartu biru diperkenalkan di semua level sepak bola muda (Grassroot) mulai musim 2019-20 dalam upaya meningkatkan tingkat rasa hormat dan permainan yang adil.
Perubahan aturan tersebut kemudian di implementasikan hinggal kasta lima dari kompetisi Liga Nasional dan kasta tiga ke bawah dalam sepak bola wanita.
“Saya pikir ada rasa frustasi bagi para penggemar yang menonton pertandingan ketika mereka melihat serangan balik yang menjanjikan dirusak oleh pelanggaran,” ungkap Kepala Eksekutif FA, Mark Bullingham.
Baca Juga: Demi Target Emas, KONI DIY Bakal Berlakukan Sistem Promosi dan Degradasi untuk Atlet PON XXI
“Pertanyaan apakan kartu kuning saja sudah cukup untuk itu telah membuat kami melihat apakah hal itu harus dilibarkan dalam protocol juga,” imbuhnya.
“Titik awalnya adalah melihat perilaku dan perbedaan pendapat dari pemain. Kami kemudian melihat apakah kai harus memperluasnya ke area lain, seperti pelanggaran taktis juga,” tegasnya. (uta)
Editor : Amin Surachmad