SEMARANG - Laga PSS Sleman kontra PSIS Semarang, di Stadion Jatidiri, Minggu (3/12) harus rela dihentikan wasit pada menit-menit menjelang laga usai. Lantaran ada sebuah kerusuhan yang terjadi di tribun suporter pada penghujung laga. Babak kedua yang seharusnya mendapatkan tambahan 90+5 menit. Harus terhenti pada menit ke-90+2.
Nampaknya dalam laga tersebut ada suporter dari PSS Sleman yang datang ke Stadion Jatidiri, Semarang. Sehingga saat melihat tim kebangaannya hapir kalah dipenghujung laga. Mereka mengamuk dan bikin onar.
Suporter tim Laskar Sembada yang seharusnya dan sudah dilarang oleh manajemen untuk hadir ke Stdion lawan. Nampaknya mereka nekat untuk tetap datang dan membuat kericuhan.
Sebenarnya hal tersebut sudah melanggar aturan yang ditetapkan oleh Liga. Dan dilaga ke depan Laskar Sembada nampaknya juga akan dijatuhi hukuman kembali oleh Komite Displin (Komdis) PSSI.
Dan dari kejadian tersebut wasitpun langsung menghentikan pertandingan. Sehingga laga tersebut dimenangkan oleh tim tuan rumah PSIS Semarang dengan skor 0-1 atas tamunya PSS Sleman.
Pelatih kepala PSS Sleman Risto Vidakovic mengatakan sebenarnya tim Laskar Sembada saat ini sedang di jalan yang bagus. Dan itu terbukti pada babak pertama. Tim bisa meresponnya dengan cukup dibabak pertama.
"Saya pikir kami di jalan yang bagus. Tim ini merespon dengan baik di babak pertama. Kita hampir menjalankan pertandingan dengan baik, punya banyak kesempatan juga," ujarnya.
Tapi menurut Risto, pada babak kedua tim mencoba mengambil resiko. Tapi malah para pemain lepas kontrol. Sehingga hal tersebut membuat tim lawan bisa melakukan serangan balik.
"Di babak kedua setelah mereka mencetak gol kami mengambil resiko. Saya pikir kita sedikit lepas kontrol dan kita membiarkan mereka menyerang balik, menciptakan banyak peluang," jelasnya.
Pemain tengah PSS Sleman Kim Jeffry Kurniawan mengaku kekalahan ini menjadi hal yang mengecewakan bagi para pemain. Sebab mereka harus kalah satu kosong melalui titik pinalti.
"Jadi kalah melalui gol pinalti itu lebih menyakitkan," tegasnya.
Pelatih kepala PSIS Semarang Gilbert Agius juga mengatakan pada babak pertama ia meyakini bahwa skuad tim Laskar Mahesa Jenar tidak bermain secara bagus. Tidak separti biasanya, maka Sleman berhasil memberikan tekannan dibabak pertama.
"Saya tidak senang pada babak pertama. Tapi saat di ruang ganti ada dua atau tiga sesuatu yang kami rencanakan sehingga berdampak dibabak kedua," katanya.
Gilbert juga mengaku dilaga ini sangat menyukai fighting spirit para pemainnya. Sebab para anak asuhnya telah berkomitmen dan bisa menjalankan hal yang lebih baik dibabak kedua.
"Pertandingan ini sangat sulit. Karena kami tiga pekan tidak bermain. Tapi saya bahagia karena PSIS naik diperingkat ketiga. Dan dilaga Indonesia ini saya akui sangat sulit dan keras," ucapnya.
Pemain tengah PSIS Semarang Dewangga Santosa juga menyebut libur tidak bertanding selama tiga pekan lalu membuat para pemain sedikit nerveous di laga ini. Jadi para pemain juga agak kesulitan memainkan apa yang diinginkan pelatih dibabak pertama.
"Para pemain juga diskusi untuk babak kedua harus bagaimana. Dan hasilnya positif," tandasnya.(ayu).
Editor : Heru Pratomo