RADAR JOGJA - Piala Dunia 2030 bakal berlangsung di tiga benua setelah Maroko, Potugal, dan Spanyol memenangkan perebutan untuk menjadi tuan rumah turnamen yang bakal diikuti oleh 48 negara ini, namun Uruguay, Argentina, dan Paraguay diberikan tiga pertandingan pembuka.
Keputusan tersebut bahkan mengejutkan para pengamat FIFA, yang berarti pada Piala Dunia 2030 akan melibatkan Negara-negara yang bermain di enam Negara, dimana enam Negara itu bakal lolos secara otomatis.
Dalam keputusan dan waktunya itu tampaknya membuka jalan bagi Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2034 dimana dalam beberapa jam setelah keputusan itu disetujui Arab Saudi langsung tancap gas dengan mengajukan proposal tawaran untuk gelaran turnamen tersebut.
FIFA mengungkapkan bahwa Arab Saudi berniau untuk mengajukan penawaran itu sendiri.
FIFA menetapkan keputusan ambisius untuk proposal 2030 itu pada pertemuan virtual dewan pada hari Rabu (4/10/2023).
Dimana proposal tersebut harus dikonfirmasi dalam pemungutan suara yang bakal diikuti oleh 211 anggota FIFA.
“Di Dunia yang terpecah belah, FIFA dan sepakbola tetap bersatu,” ungkap Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Gianni Infantino menggambarkan tawaran Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai pesan luar biasa tentang perdamaian, toleransi, dan inklusi.
FIFA berkomitmen untuk menggilir Piala Dunia di antara konfederasi, meskipun tawaran dari UEFA/CAF yang menjadi favorit untuk tahun 2030.
Konfederasi Amerika Selatan belum pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia sejak 2014 dan ingin memperingati ulang tahun ke-100 semenjak Piala Dunia pertama, dimana diselenggarakan di Uruguay pada tahun 1930.
Gianni Infantino mengatakan pertandingan pertama Piala Dunia 2030 bakal diselenggarakan di Estadio Centenario di Montivideo, tempat yang sama dengan Piala Dunia Pertama.
Freddie Delay dari New Weather Institute mengungkapkan bahwa rencana Piala Dunia 2030 menunjukkan FIFA lebih memprioritaskan pertumbuhan permainan daripada lingkungan.
“kami khawatir dengan pengumuman ini dan bagaimana hal ini akan dilaksanakan sesuai dengan target mereka dan target international untuk menurunkan emisi,” ungkap Freddie
“Sepakbola memiliki kekuatan besar untuk membawa orang-orang dalam perjalanan menuju nol emisi, tetapi FIFA mengatakan satu hal dan melakukan hal lain.
Bagaimana kita bisa mempercayai kata-kata mereka? Ketika turnamen ini akan berarti lebih banyak emisi, lebih banyak penerbangan,dan lebih banyak merusak lingkunga?,” imbuh Freddie Delay. (cr4)
Editor : Bahana.