Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kami Merasa Sakit Sekali, Aksi Solidaritas Mengenang Tragedi Kanjuruhan

Guntur Aga Tirtana • Senin, 2 Oktober 2023 | 01:59 WIB
TUNTASKAN: Pengunjuk rasa dari berbagai elemen menggelar aksi solidaritas tragedi Kanjuruhan, Minggu (1/10). Mereka memprotes penyelesaian kasus tragedi Kanjuruhan. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
TUNTASKAN: Pengunjuk rasa dari berbagai elemen menggelar aksi solidaritas tragedi Kanjuruhan, Minggu (1/10). Mereka memprotes penyelesaian kasus tragedi Kanjuruhan. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta menggelar aksi solidaritas 1 Oktober Hari Duka Sepak bola, di area Tugu Jogja, Minggu (1/10).

Koordinator Lapangan Aksi Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta Muhammad Fakhrurrozi mengatakan tanggal 1 Oktober ini adalah hari yang tidak boleh dilupakan.

Sebab, ada 135 orang, termasuk perempuan dan 38 orang anak, yang direnggut masa depannya. Hanya karena menyaksikan pertandingan sepak bola.

"Kematian itu sebabnya karena dua perkara, yaitu brutalitas aparat keamanan dan tidak becusnya panitia penyelenggara pertandingan," ujarnya. 

Fakhrurrozi menjelaskan aksi ini sudah berlangsung sejak hari Kamis (28/9) lalu. Ada berbagai macam kegiatan yang sudah dilakukan.

Di antaranya, da sayembara tangkap angin di media sosial, karena menurut mereka itu adalah seruan untuk Polri yang sering mengatakan salah angin.

Dan di tanggal 1 Oktober ini Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta juga mengadakan aksi simbolik gantung sepatu, nobar film tragedi Kanjuruhan, refleksi keluarga korban kanjuruhan, doa bersama, dan pernyataan sikap politik.

"Aksi ini diikuti oleh masa gabungan. Mulai dari suporter hingga teman-teman muda yang ingin ikut aksi yang tergerak untuk solidaritas," kata Fakhrurrozi

Ada enam tuntutan yang di suarakan oleh Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta sebagai pernyataan sikap atas tragedi Kanjuruhan tersebut.

Mereka menuntut agar ditetapkan tragedi Kanjuruhan sebagai pelanggaran HAM berat, hentikan renovasi atau perombakan Stadion Kanjuruhan, dan hentikan penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola.

Baca Juga: Bermain Sabar, PSIM Jogja Menang Lawan 10 Pemain Malut United

Selain itu, menuntut penanganan kerumunan, dalam aksi demonstrasi dan penanganan apapun, serta bebaskan delapan tahanan arek Malang tanpa syarat.

Selain itu, ysut tuntas kasus dan keterlibatan aktor lain dalam tragedi Kanjuruhan. Juga, tetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Duka Sepak Bola Nasional.

Dalam tragedi Kanjuruhan itu, gas air mata yang mestinya tidak boleh dibawa oleh aparat di stadion malah ditembakkan ke mana-mana. Termasuk ke tribun penonton yang saat itu ditempati oleh 40-an ribu penonton.

"Hanya didapat tiga orang dengan vonis ringan, sebagai dalang dari pembantaian besar ini," tegas Fakhrurrozi

Bagi Fakhrurrozi, tragedi Kanjuruhan adalah salah satu tragedi terbesar dalam dunia olahraga. Dan menurutnya momentum aksi ini digelar untuk menginggat tragedi tersebut.

"Hingga hari ini, keluarga korban Tragedi Kanjuruhan tidak pernah mendapatkan proses pengusutan dan keadilan yang konkret. Negara dan kepolisian telah abai dan sepenuhnya menolak bertanggung jawab atas Tragedi Kanjuruhan," ucapnya.

Selain itu Nuri Hidayat salah satu keluarga korban asal Malang yang hadir dalam aksi tersebut juga mengutarakan dalam tragedi Kanjuruhan itu hingga saat ini para keluarga korban masih merasa kehilangan.

Apalagi, dengan berbagai hal yang sudah mereka alami. Seperti adanya intimidasi secara verbal terhadap keluarga korban.

"Kami merasa sakit sekali. Bahkan, kami jauhlah dari kata keadilan itu," tegasnya.

Nuri mengungkapkan, sudah berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh keluarga korban atas tragedi Kanjuruhan itu. Bahkan, mereka sudah melakukan mediasi dengan Pemkab Malang belum menuai hasil.

"Tragedi Kanjuruhan bukan diakibatkan oleh buruknya infrastruktur stadion atau karena hembusan angin sebagaimana dinyatakan oleh Presiden. Terdapat fakta yang jelas adanya pemukulan, kekerasan, kebrutalan aparat dan kesengajaan penembakan gas air mata yang menyebabkan tewasnya 135 orang tak bersalah," ungkapnya.

Baca Juga: Barcelona 1-0 Sevilla :Gol Bunuh Diri Mantan Pemain Real Madrid Ini 'Bantu' Blaugrana Raih Kemenangan

Tidak hanya sampai disitu, perjuangan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan dalam mendapatkan keadilan justru malah mendapatkan intimidasi, dicelakai hingga ancaman pembunuhan.

Dan setelah ini, sebagai keluarga korban, Nuri berharap agar tragedi Kanjuruhan ini diusut tuntas.

"Alih-alih melindungi dan memberikan keadilan bagi korban. Memang banyak keluarga korban yang mendapat tali asih dari negara. Tapi, menurut kami, itu adalah sebuah takziah. Jadi, kalau ada kata-kata tali asih itu sebagai ganti nyawa dari anakku pasti kami tidak terima," tandasnya. (ayu)

Editor : Amin Surachmad
#aksi solidaritas #Tragedi Kanjuruhan #tugu jogja