Di tengah tekanan ekonomi, hiruk-pikuk politik, hingga tumpukan masalah harian yang memicu cemas, meluangkan waktu untuk tertawa sering kali dianggap sekadar hiburan pelepas lelah.
Padahal, secara medis dan ilmiah, tertawa memiliki manfaat besar yang berdampak langsung pada kesehatan fisik maupun mental manusia.
Ungkapan lama bahwa "tertawa adalah obat terbaik" kini bukan lagi sekadar kiasan. Ketika seseorang tertawa terbahak-bahak, tubuh mengalami respons fisik secara menyeluruh.
Paru-paru mengembang, asupan oksigen meningkat, dan sirkulasi darah menjadi jauh lebih lancar. Reaksi kimia dari tawa bahkan memicu lapisan dalam pembuluh darah melebar, sehingga memberi efek positif yang hampir setara dengan latihan fisik atau olahraga ringan.
Baca Juga: Mancini 2.0 Resmi Bergulir: Reorganisasi Skuad, Fleksibilitas Taktis, dan Ambisi Dominasi Italia
Dampak klinis ini dibuktikan lewat penelitian ahli endokrinologi Dr. Caroline Kramer dari Universitas Toronto dan Leadership Sinai Centre for Diabetes.
Lewat analisis terhadap berbagai studi, tim riset menemukan bahwa tertawa lepas terbukti ampuh memangkas hormon stres (kortisol) hingga sekitar 30 persen.
"Tertawa selama 10 menit saja dapat mengurangi kadar kortisol secara signifikan," kata Kramer.
Tak hanya menyoal fisiologis, humor juga memegang peranan krusial sebagai pendorong ketahanan mental. Komedian veteran asal Amerika Serikat, Craig Shoemaker, menyebutkan bahwa tawa memberi ruang jeda instan dari emosi negatif.
Seseorang tidak bisa merasa depresi atau marah pada detik yang sama ketika ia sedang tertawa lepas. Efek pelepasan emosi ini bahkan terbukti membantu banyak pasien penyakit kronis untuk tetap memiliki semangat hidup selama masa pemulihan.
Di sisi lain, tawa juga berfungsi sebagai pelekat sosial di tengah kehidupan yang makin terfragmentasi. Ketika orang-orang tertawa bersama dalam sebuah pertunjukan komedi atau momen berkumpul, batasan perbedaan pandangan seolah melebur.
Editor : Bahana.