Lindungi Orangutan, Adopsi Online jadi Tren Gen Z

As Syifa Dzihni Nafisa • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:57 WIB
Dua anak orangutan bergelantungan di dahan pohon. (Sumber: unsplash.com)
Dua anak orangutan bergelantungan di dahan pohon. (Sumber: unsplash.com)

 

RADAR JOGJA - Di tengah maraknya isu lingkungan dan ancaman kebakaran hutan, generasi muda mulai menunjukkan cara baru dalam berkontribusi bagi kelestarian satwa liar.

Bukan lagi sekadar turun langsung ke lapangan, kini dukungan hadir lewat dunia digital.

Adopsi orangutan secara online menjadi tren yang digemari Gen Z, menghadirkan bentuk kepedulian yang praktis sekaligus bermakna bagi upaya konservasi. 

Baca Juga: Jack Grealish Kembali Perkuat Everton dengan Status Pinjaman

Adopsi di sini bukan berarti membawa satwa pulang.

Adopsi yang dilakukan melalui lembaga konservasi merupakan kegiatan simbolis untuk membantu membiayai pakan, obat-obatan, perawatan, fasilitas rehabilitasi, serta upaya konservasi para satwa.

Salah satu lembaga konservasi yang sering dirujuk adalah Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.

BOS Foundation menjadi salah satu garda terdepan dalam menyelamatkan orangutan.

Dengan pusat rehabilitasi yang tersebar di Kalimantan, BOS telah merawat ratusan orangutan yatim piatu dan korban kebakaran hutan.

Melalui program adopsi virtual, lembaga ini berhasil menghubungkan masyarakat luas dengan misi konservasi secara lebih mudah dan transparan. 

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Mencakup 13 Tindak Pidana, Hardjuno Ingatkan Pentingnya Pengawasan

Dengan menjadi donatur, para partisipan dapat mendukung penyelamatan satwa langka tanpa harus datang dan bertemu mereka.

Konsep adopsi virtual ini menawarkan pengalaman interaktif yang unik.

Ketika sudah resmi berpartisipasi, setiap donatur akan memperoleh sertifikat adopsi digital, kemudian akan menerima laporan berkala berupa foto, video, dan cerita perkembangan orangutan yang mereka adopsi. 

Seluruh dana donasi yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari di pusat rehabilitasi.

Pembiayaan ini meliputi penyediaan pakan bergizi, layanan medis rutin, serta pelatihan keterampilan bertahan hidup di sekolah hutan sebelum orangutan dinyatakan siap dilepas kembali ke alam.

Baca Juga: Gagal Dapatkan Cody Gakpo, Manchester City Rekrut Eliman Ndiaye


Gerakan ini sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi baru-baru ini menjadi tren untuk menyelamatkan orangutan dari bencana kebakaran.

Beberapa public figure juga ikut meramaikan tren adopsi ini. Bahkan, situs web BOS Foundation sempat macet karena banyak diakses dalam waktu singkat.


Antusiasme publik yang semakin tinggi di media sosial dianggap memberi dorongan besar bagi upaya konservasi di Indonesia.

Gerakan ini bukan hanya soal menyelamatkan satwa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan generasi muda.

Dengan pengalaman interaktif yang ditawarkan, donatur merasa lebih terhubung dengan satwa yang mereka dukung.

Baca Juga: Harvey Elliott Ingin Bawa Valencia Kembali Berkompetisi di Eropa

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin adopsi digital akan menjadi salah satu pilar penting dalam konservasi satwa liar di Indonesia. 


Adopsi orangutan secara online membuktikan bahwa kepedulian bisa diwujudkan dengan cara sederhana namun berdampak besar.

Dukungan dari generasi muda melalui dunia digital memberi harapan baru bagi kelestarian hutan tropis dan satwa endemik Indonesia.

Setiap klik donasi adalah langkah kecil yang berarti untuk masa depan bumi. (As Syifa Dzihni Nafisa)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Borneo Orangutan Survival Lindungi Orangutan Adopsi Online Orangutan Adopsi Online jadi Tren Gen Z orangutan