Meski Viral, Bahan Mentah Kimpul di Pasar Tradisional di Bantul Tetap Tidak Ramai Pembeli

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:17 WIB

BERHARAP RAMAI: Pariyati, pedagang sayur dan umbi-umbian di Pasar Niten, Bantul. Rizky Wahyu/Radar Jogja 
BERHARAP RAMAI: Pariyati, pedagang sayur dan umbi-umbian di Pasar Niten, Bantul. Rizky Wahyu/Radar Jogja 

 

BANTUL - Tren kuliner berbahan umbi-umbian yang tengah ramai atau viral di media sosial, rupanya belum memberi dampak signifikan bagi pedagang pasar tradisional. Penjualan kimpul mentah di tingkat pedagang pasar hingga kini tercatat masih cenderung sepi dan berjalan normal seperti hari-hari biasa.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Pariyati, pedagang sayur dan umbi-umbian yang sehari-hari berjualan di Pasar Niten, Bantul. Wanita berusia 54 tahun ini mengungkapkan lonjakan antusiasme masyarakat di media sosial tidak serta-merta menggerakkan volume transaksi di lapaknya.

Baca Juga: Jelang Launching Tim PSIM, Yuliana Tasno Sampaikan Harapan Sultan Bisa Nonton Langsung

"Walaupun viral, penjualannya nggih biasa mawon (saja). Pembelinya masih sedikit, tidak ramai seperti dulu," ucapnya kepada Radar Jogja, Jumat (28/8).

Pariyati menjelaskan, kimpul merupakan salah satu komoditas olahan pangan alami jenis umbi-umbian yang bersifat musiman. Menurutnya, kualitas kimpul sangat bergantung pada waktu panen agar mendapatkan cita rasa yang pas.

"Kalau belum musiman, kandungan airnya masih banyak jadi rasanya kurang enak. Tapi kalau sudah masuk musimnya, kadar air berkurang dan rasanya jadi gurih empuk," cetusnya. 

Baca Juga: Berantas Mafia Pangan, Mentan Amran Dapat Dukungan Komnas HAM dan PPM LVRI

Secara pemanfaatan, perempuyan asal Selopamioro, Imogiri ini menyebut bahan pangan lokal itu terbilang serba guna. Kimpul mentah dapat diolah menjadi aneka hidangan, mulai dari digoreng, dijadikan keripik (cerimping), perkedel, hingga dipotong memanjang menyerupai stik untuk bahan olahan modern.  "Harganya pun terjangkau. Hanya Rp 6 ribu per kg," ungkapnya. 

Kendati demikian, pergeseran pola konsumsi antargenerasi menjadi tantangan tersendiri. Pariyati menilai, pelanggan setia umbi-umbian tradisional mayoritas berasal dari kalangan orang tua. Sementara generasi muda saat ini cenderung enggan mengolah bahan mentah secara mandiri.

Baca Juga: Sinyal PSIM Gandeng Adidas sebagai Apparel Kian Terlihat, Pelatih hingga Suporter Beri Komentar

 "Dulu pembelinya banyak karena orang tua sering mengolahnya jadi gethuk atau keripik. Sekarang generasi muda agak jarang yang beli bahan mentah, mungkin karena terkesan repot mengolahnya. Walaupun tahu dari media sosial yang viral, belinya belum tentu ke pasar tradisional," tuturnya. 

Oleh karena itu, Pariyati berharap kepopuleran pangan lokal di media sosial dapat terwujud menjadi aksi nyata masyarakat untuk kembali meramaikan pasar tradisional.

"Harapannya, ya kalau bisa kembali ramai seperti dulu. Kalau pasarnya ramai, otomatis bisa menambah pemasukan pedagang kecil," ungkapnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Kimpul Pasar Niten Viral media sosial pasar tradisional