RADAR JOGJA - Selama ini ubi jalar cuma jadi teman gorengan atau camilan sore? Bisa jadi kita selama ini meremehkannya.
Di balik bentuknya yang sederhana, ubi jalar ternyata punya potensi besar untuk “naik kelas”.
Bukan cuma direbus, digoreng, atau dijadikan kolak, ubi jalar juga bisa diolah menjadi tepung yang berpotensi menjadi alternatif tepung terigu.
Fenomena ini menarik di tengah kebutuhan diversifikasi pangan dan ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan berbasis gandum.
Apalagi, ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan yang produksinya cukup tinggi di Indonesia dan dapat tumbuh di berbagai wilayah.
Baca Juga: Bukan Cuma Air, Presiden Prabowo Dorong Ubi Bombing dan Material Kimia untuk Padamkan Karhutla
Dari Umbi di Dapur, Jadi Tepung Bernilai Ekonomi
Rahasia “transformasi” ubi jalar sebenarnya cukup sederhana. Ubi mula-mula dikupas, dicuci, kemudian diiris tipis atau disawut agar lebih cepat kering.
Setelah melalui proses pengeringan, ubi digiling dan diayak hingga menjadi tepung.
Dalam proses tersebut, pengeringan menjadi salah satu tahap penting.
Suhu yang tidak tepat dapat memengaruhi warna, tekstur, hingga kualitas tepung.
Jika diolah dengan baik, hasilnya berupa tepung yang memiliki penampakan menyerupai tepung terigu dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk pangan.
Baca Juga: Huistra Ungkap PSS Sleman Kian Sempurna Jelang Super League 2026/2027
Tak hanya membuat ubi lebih awet, pengolahan menjadi tepung juga dapat memperkecil volume bahan sehingga lebih mudah disimpan dan diangkut.
Dari sini, ubi jalar mulai memiliki nilai tambah yang lebih besar.
Meski memiliki karakteristik yang cukup mendekati terigu, tepung ubi jalar tidak mengandung gluten.
Gluten berperan dalam membentuk struktur dan membantu pengembangan adonan.
Karena itu, tepung ubi jalar tidak otomatis dapat menggantikan terigu dalam seluruh jenis makanan.
Namun, tepung ini tetap berpotensi digunakan sebagai bahan campuran maupun alternatif dalam formulasi berbagai produk pangan.
Dengan kata lain, ubi bukan pengganti terigu secara mutlak, tetapi bisa menjadi bagian dari solusi diversifikasi pangan.
Baca Juga: Misteri Kyai Kanjeng Sekati, Gamelan Pusaka Keraton yang Hanya Ditabuh Setahun Sekali
Bukan Sekadar Teori, Ubi Sudah Masuk ke Nugget
Potensi tepung ubi jalar ternyata tidak berhenti pada tepungnya saja.
Salah satu penelitian menguji pemanfaatan tepung ubi jalar kuning sebagai bahan pengganti sebagian tepung terigu dalam pembuatan nugget tuna.
Dalam penelitian tersebut, tepung ubi jalar kuning dikombinasikan dengan tapioka dalam beberapa perbandingan dan dibandingkan dengan nugget kontrol yang menggunakan terigu dan tapioka.
Hasilnya cukup menarik. Nugget tuna dengan penambahan tepung ubi jalar kuning memenuhi standar SNI 7758:2013.
Penggunaan tepung ubi juga tidak memberikan pengaruh terhadap beberapa karakteristik seperti kadar air, protein, aroma, rasa, dan tekstur.
Baca Juga: Minta Izin Gubernur DIY, BSN Berencana Buka UPT di Yogyakarta
Yang lebih menarik, nugget dengan tepung ubi jalar kuning memiliki kandungan beta karoten yang tinggi.
Formulasi tapioka dan tepung ubi jalar kuning dengany perbandingan 4:1 menjadi salah satu formulasi terbaik dalam penelitian tersebut, dengan tingkat penerimaan konsumen pada kategori agak suka.
Pada formulasi tersebut, nugget tercatat memiliki kadar air 49,98 persen, protein 8,56 persen, lemak 2,65 persen, karbohidrat 37,85 persen, serta kandungan beta karoten sebesar 17.316 mikrogram per 100 gram sampel.
Temuan ini menunjukkan bahwa tepung ubi jalary memiliki peluang untuk dimanfaatkan lebih jauh dalam industri pangan, termasuk pada produk yang selama ini identik dengan bahan baku tepung terigu.
Jadi, Apakah Ubi Benar-Benar Bisa “Melawan” Terigu?
Jawabannya: bukan menggantikan sepenuhnya, tetapi mengurangi ketergantungan.
Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti ubi jalar dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong diversifikasi pangan.
Semakin banyak produk yang dapat dibuat menggunakan bahan lokal, semakin besar pula peluang mengurangi penggunaan bahan baku yang bergantung pada impor, termasuk gandum yang menjadi bahan utama tepung terigu.
Artinya, satu umbi sederhana bisa membawa dampak yang lebih besar dari sekadar mengenyangkan perut.
Dari Petani, Masuk Industri, Sampai ke Meja Makan
Pengembangan tepung ubi jalar juga berpotensi memberikan keuntungan bagi petani.
Ubi yang sebelumnya dijual dalam bentuk segar dapat diolah menjadi produk setengah jadi dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Bagi industri pangan, tepung ubi jalar dapat dikembangkan menjadi berbagai produk seperti kue, mi, makanan ringan, hingga produk olahan seperti nugget.
Baca Juga: Kejati DIY Gagal Tunjukkan Sprindik, Pengadilan Negeri Jogja Gugurkan Status Tersangka Reno Candra
Sementara bagi konsumen, kehadiran bahan pangan alternatif memberikan lebih banyak pilihan dalam menikmati produk berbasis pangan lokal.
Di tengah tren kembali melirik bahan pangan lokal, sudah waktunya ubi jalar mendapatkan panggung yang lebih besar.
Jadi, mungkin kita perlu berhenti melihat ubi hanya sebagai “makanan kampung”.
Karena di balik kulit sederhananya, ada potensi untuk menjadi tepung, bahan baku industri, sumber pangan alternatif, hingga peluang ekonomi bagi petani.
Ubi memang sederhana. Tapi kalau diolah dengan tepat, potensinya tidak sederhana.
Editor : Meitika Candra Lantiva