Bukan Sekadar Simpul tapi Bisa Atasi Masalah, Tali-menali Pramuka Melatih Ketelitian dan Kesabaran

Naila Nihayah • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 21:34 WIB
Khoiriyasih (Guru SMP Tahfidz Al Hidayat Salaman). Dok: Pribadi
Khoiriyasih (Guru SMP Tahfidz Al Hidayat Salaman). Dok: Pribadi

 

MAGELANG - Dalam Pramuka, keterampilan tali-menali bukan sekadar kemampuan menghafal berbagai jenis simpul. Justru terdapat latihan ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, hingga kemampuan mengatasi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru SMP Tahfidz Al Hidayat Salaman, Kabupaten Magelang Khoiriyasih menjelaskan, tali-temali merupakan salah satu kemampuan dasar yang penting dikuasai anggota Pramuka. Menurutnya, keterampilan tersebut juga dapat menjadi life skill yang berguna di luar kegiatan kepramukaan. "Karena bisa meningkatkan kecakapan dan kreativitas," katanya, Jumat (14/8).

Baca Juga: Pakar Hidrologi UGM Soroti Krisis Air Mengintai DIY, Dorong Tak Sekadar Menunggu Dropping Air

Dia menyebut, ada sejumlah simpul dasar yang perlu dipelajari anggota Pramuka. Antara lain simpul pangkal, simpul hidup, simpul jangkar, dan simpul mati. Dari berbagai jenis tersebut, simpul pangkal menjadi satu yang paling penting dikuasai. "Karena ini (simpul pangkal) menjadi langkah awal sekaligus akhir pada sebagian besar kegiatan tali-temali," ujarnya.

Namun, menurut dia, kemampuan tersebut tidak akan cukup jika hanya dipelajari secara teori. Terlebih, tali-temali merupakan keterampilan yang membutuhkan perpaduan antara pemahaman dan praktik langsung.

Khoiriyasih mengatakan, anggota Pramuka perlu berulang kali mempraktikkan simpul yang dipelajari. Tujuannya untuk mengetahui apakah ikatan yang dibuat sudah tepat, kuat, dan sesuai dengan kebutuhan. "Tidak cukup jika hanya dihafalkan. Kemampuan tali-temali adalah ilmu pengetahuan antara teori dan praktik," bebernya.

Baca Juga: Keterampilan Pramuka Masih Relevan di Era Digital; Perlu Disinergikan dengan Perkembangan Tekonologi

Dia menambahkan, manfaat tali-temali juga tidak berhenti ketika kegiatan Pramuka selesai. Menurutnya, sejumlah teknik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kondisi yang membutuhkan penanganan cepat.

Di lingkungan sekolah, misalnya, keterampilan tersebut dapat digunakan untuk membuat tandu sederhana dari tongkat dan tali. Tandu dapat menjadi perlengkapan darurat ketika ada siswa yang pingsan atau membutuhkan pertolongan.
"Ketika di sekolah ada kegiatan upacara, kita bisa membuat tandu untuk jaga-jaga ketika ada siswa yang pingsan," sebutnya.

Di rumah, teknik tali-temali juga dapat digunakan untuk membuat jemuran sederhana dengan memadukan tongkat dan tali. Saat mengemas sesuatu, teknik tali-temali memungkinkan barang diikat dengan kuat tetapi tetap mudah dibuka kembali tanpa harus memotong tali. "Jadi tali yang kita gunakan itu bisa kita lepas kembali tanpa harus menggunting tali tersebut," tuturnya.

Dia melanjutkan, latihan tali-temali juga membentuk karakter. Setiap simpul harus dibuat dengan urutan dan teknik yang benar. Kesalahan kecil dapat membuat konstruksi yang dibuat menggunakan tali dan tongkat menjadi tidak kokoh.
"Kalau ada satu saja yang tidak sesuai, itu bisa membuat kegiatan tali-temali atau kerangka yang sedang kita buat menjadi tidak kokoh," ucapnya.

Selain ketelitian, kesabaran juga menjadi satu karakter yang bisa terbentuk. Dalam praktiknya, tali tidak selalu berada dalam kondisi siap digunakan. Tali dapat kusut atau saling terlilit sehingga membutuhkan waktu untuk diurai sebelum kembali digunakan.

Latihan tersebut, lanjut Khoiriyasih, juga mengajarkan kedisiplinan. Kemampuan tali-temali tidak dapat dikuasai dalam sekali latihan. Diperlukan konsistensi untuk mempelajari kembali teknik, mengulang praktik, menemukan kesalahan, kemudian memperbaikinya.

Baca Juga: Usai Bela Timnas Indonesia di AFF, Cahya Supriadi Belum Gabung PSIM Jogja

Selain itu, ketika tali-temali dilakukan secara berkelompok, anggota Pramuka belajar membagi tugas dan membangun komunikasi. Mereka harus bekerja bersama agar rangkaian yang dibuat dapat berdiri kokoh.

Menurut Khoiriyasih, manfaat paling penting dari keterampilan tali-temali justru dapat dirasakan dalam jangka panjang. Proses membuat sebuah ikatan mengajarkan seseorang untuk tidak menyelesaikan sesuatu secara serampangan.

Ada urutan, teknik, dan tahapan yang harus dilakukan untuk memperoleh hasil yang baik. Pola berpikir tersebut, kata dia, dapat diterapkan ketika seseorang menghadapi persoalan dalam kehidupan.

Dia menggambarkan proses tersebut seperti mengurai tali yang kusut. Masalah tidak selalu dapat diselesaikan dengan menariknya secara paksa. Jika dilakukan sembarangan, tali justru semakin kusut.

Begitu pula ketika menghadapi persoalan. "Kalau di tali-temali, ikatan satu dengan yang lainnya saling mendukung. Sama juga dalam kehidupan antara kita dengan orang lain. Kita juga harus saling mendukung agar kehidupan kita menjadi kokoh," lontarnya. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
SMP Tahfidz Al Hidayat Salaman Magelang Kepramukaan Pramuka tali