FOMO dan Qanaah: Belajar Merasa Cukup di Tengah Gaya Hidup Serba Viral

Seli Sulistiani • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 12:07 WIB
Ilustrasi media sosial.
Ilustrasi media sosial.

 RADAR JOGJA - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari kita melihat unggahan tentang liburan, pencapaian karier, barang-barang baru, hingga gaya hidup yang terlihat menyenangkan. 

Tanpa disadari, hal itu bisa memunculkan perasaan tertinggal atau takut ketinggalan tren. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa cemas ketika merasa orang lain sedang menikmati pengalaman yang tidak kita miliki.

FOMO tidak selalu terlihat dalam bentuk yang besar. Kadang, seseorang merasa harus membeli barang yang sedang viral, mencoba tempat makan yang ramai dibicarakan, atau mengikuti gaya hidup tertentu hanya agar tidak dianggap ketinggalan. 

Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Akibatnya, rasa syukur mulai berkurang dan kebahagiaan seolah bergantung pada apa yang dimiliki orang lain.

Baca Juga: Berguinho Siap Bawa Persib Bandung Tampil Maksimal di Piala Presiden 2026

Dalam Islam, ada satu sikap yang dapat menjadi penyeimbang, yaitu qanaah. Qanaah berarti menerima dan merasa cukup atas rezeki yang Allah berikan, tanpa berhenti berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sikap ini bukan berarti pasrah atau tidak memiliki cita-cita. Justru, qanaah mengajarkan seseorang untuk tetap bekerja keras, tetapi tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaannya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim).

Di era digital seperti sekarang, qanaah menjadi nilai yang semakin penting. Tidak semua yang terlihat di media sosial menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Karena itu, membatasi waktu bermain media sosial, memperbanyak rasa syukur, dan fokus pada tujuan hidup sendiri dapat menjadi langkah sederhana untuk menghindari FOMO. 

Pada akhirnya, ketenangan bukan datang karena mampu mengikuti semua tren, melainkan karena hati mampu menerima, bersyukur, dan percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidup serta rezeki yang telah diatur oleh Allah SWT.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
qanaah merasa cukup hidup serba viral Gaya Hidup fomo