RADAR JOGJA - Kapan terakhir kali kamu periksa kesehatan ke dokter. Bukan karena sakit, tapi hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja?
Kalau jawabannya adalah "sudah lama" atau bahkan "tidak pernah", ternyata kamu tidak sendirian.
Sebuah survei nasional dari Ohio State University Wexner Medical Center menemukan, lebih dari satu dari empat orang dewasa muda usia 18-29 tahun di Amerika Serikat sama sekali tidak punya dokter layanan primer atau dokter langganan.
Berbanding jauh dengan kelompok usia 65 tahun ke atas yang hampir semuanya, 97 persen, rutin memeriksakan diri ke dokter tetap.
Baca Juga: DPR RI Puji Kinerja Kementan, Wamentan Sudaryono: Anggaran Harus Berdampak untuk Petani
Bahkan bagi generasi muda yang sebenarnya sudah punya dokter langganan, kebiasaan periksa rutin tetap jarang dilakukan.
Cuma 47 persen yang benar-benar menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan dalam setahun terakhir.
Sebagian besar lebih memilih datang ke klinik darurat atau urgent care hanya saat keluhan sudah muncul.
Dr Russell Phillips dari Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston menyebut kebiasaan ini membuat generasi muda kehilangan sesuatu yang penting.
Sesuatu itu adalah hubungan jangka panjang dengan tenaga medis yang benar-benar mengenal riwayat kesehatan mereka.
Baca Juga: DPRD Kulon Progo Minta Pemkab Gerak Cepat Atasi TPG Guru yang Terancam Lantaran Krisis Siswa
Sehubungan yang berpotensi mencegah masalah kecil berubah jadi masalah besar di kemudian hari.
Survei global dari firma komunikasi Edelman terhadap generasi muda usia 18-34 tahun di 16 negara menemukan pola yang lebih mengkhawatirkan.
Yaitu hampir separuh responden justru lebih percaya saran kesehatan dari teman, keluarga, atau media sosial dibanding tenaga medis profesional.
Bahkan sepertiga dari mereka mengaku pernah mengambil keputusan medis berdasarkan saran seorang influencer yang sama sekali tidak punya latar belakang medis.
Generasi muda diketahui dua kali lebih mudah terpengaruh konten semacam ini dibanding generasi yang lebih tua.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, meski dengan bentuk berbeda.
Banyak Gen Z baru menyadari punya kolesterol tinggi, tekanan darah bermasalah, atau gula darah tidak normal setelah “kebetulan” menjalani medical check-up.
Misalnya karena jadi syarat lomba atau melamar kerja, bukan karena inisiatif rutin memeriksakan diri.
Kesimpulannya, ini bukan sekadar soal rajin atau malas ke dokter.
Ini soal siapa yang generasi muda percayai untuk urusan kritis seperti kesehatan tubuh sendiri.
Layar ponsel yang penuh video singkat, atau meja pemeriksaan yang selama ini dihindari.