RADAR JOGJA - Istilah playing victim familiar di telinga.
Seseorang dikatakan playing victim ketika selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan dalam setiap persoalan.
Orang dengan perilaku ini cenderung menganggap dirinya korban, sementara kesalahan selalu diarahkan kepada orang lain atau keadaan di sekitarnya.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai victim mentality atau mentalitas korban.
Baca Juga: Ruben Amorim Siap Jemput Langsung Luka Modric Agar Mau Perpanjang Kontrak dengan AC Milan
Pola pikir ini membuat seseorang merasa hidupnya terus dipenuhi ketidakadilan sehingga enggan mengakui perannya sendiri dalam sebuah masalah.
Akibatnya, mereka lebih memilih mencari simpati dibanding memperbaiki keadaan.
Perilaku tersebut bukan hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga dapat membuat hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja menjadi tidak sehat.
Karena itu, penting untuk mengenali seperti apa karakteristiknya serta memahami penyebab di balik perilaku tersebut.
Baca Juga: AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak
Apa yang Dimaksud dengan Playing Victim?
Playing victim merupakan kecenderungan seseorang untuk terus menganggap dirinya sebagai korban dalam berbagai situasi, meski kenyataannya tidak selalu demikian.
Mereka merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya dan percaya bahwa penyebab semua kesulitan berasal dari orang lain atau keadaan di luar dirinya.
Perlu dibedakan bahwa kondisi ini tidak sama dengan seseorang yang benar-benar menjadi korban.
Korban yang mengalami peristiwa traumatis memang mengalami kerugian nyata dan biasanya berusaha bangkit dari pengalaman tersebut.
Sebaliknya, pelaku playing victim sering kali membesar-besarkan persoalan, bahkan terkadang membangun cerita yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan agar memperoleh perhatian, simpati, atau menghindari konsekuensi dari tindakannya.
Perilaku seperti ini dapat muncul dalam berbagai hubungan, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, percintaan, hingga dunia kerja.
Jika terus dibiarkan, hubungan yang terjalin berisiko menjadi tidak sehat karena dipenuhi manipulasi dan minim rasa tanggung jawab.
Tanda-Tanda Seseorang Memiliki Mentalitas Korban
Beberapa ciri berikut dapat membantu mengenali perilaku playing victim.
1. Selalu mencari pihak yang disalahkan
Setiap kali menghadapi masalah, mereka hampir selalu menunjuk orang lain sebagai penyebabnya.
Kegagalan dalam pekerjaan dianggap akibat atasan yang tidak adil, sementara putusnya hubungan selalu dinilai sebagai kesalahan pasangan.
Mereka jarang melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.
Baca Juga: Mentan Amran Dorong Implementasi Pertanian Modern PM-AAS, Pendapatan Petani Naik Tiga Kali Lipat
2. Enggan mengakui kesalahan
Mengakui kekeliruan dianggap sebagai bentuk kelemahan.
Karena itu, mereka lebih memilih mempertahankan citra sebagai pihak yang dirugikan daripada bertanggung jawab atas tindakannya.
3. Memanfaatkan rasa bersalah orang lain
Pelaku playing victim kerap membuat orang di sekitarnya merasa bersalah melalui cerita atau keluhan yang disampaikan secara berlebihan.
Cara ini sering digunakan agar orang lain merasa iba, membantu, atau tidak lagi mempermasalahkan kesalahannya.
4. Sulit melihat sisi positif
Mereka cenderung pesimis dan mudah menyerah.
Ketika diberikan solusi, selalu ada alasan mengapa saran tersebut dianggap tidak mungkin berhasil.
Akhirnya, mereka tetap bertahan dalam posisi sebagai korban.
5. Kurang peka terhadap perasaan orang lain
Karena terlalu fokus pada masalah pribadi, mereka sering mengabaikan kondisi emosional orang lain.
Bahkan ketika lawan bicara sedang mengalami kesulitan, pembahasan biasanya kembali diarahkan pada penderitaan dirinya sendiri.
Cara Mengenali Manipulasi Emosional
Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan ketika berinteraksi dengan seseorang yang memiliki kecenderungan playing victim, di antaranya:
• Sering mengulang cerita yang sama tanpa ada keinginan mencari jalan keluar.
• Menghindari pembicaraan ketika diminta bertanggung jawab.
• Membuat orang di sekitarnya merasa kelelahan secara emosional setelah berinteraksi.
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Playing Victim?
Perilaku ini umumnya tidak muncul begitu saja.
Ada beberapa faktor psikologis yang dapat memengaruhinya.
1.Trauma masa lalu
Pengalaman buruk, seperti kekerasan atau pengabaian saat kecil, dapat membentuk pola pikir bahwa dirinya selalu menjadi korban.
Baca Juga: Untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah, PT AUKJ Didorong Kembangkan Bisnis dengan Ikut Kelola Pasar
2. Mekanisme perlindungan diri
Sebagian orang menggunakan posisi sebagai korban untuk menghindari rasa malu, kecewa, atau kegagalan yang sebenarnya perlu mereka hadapi.
3. Mencari perhatian dan pengakuan
Dengan menampilkan diri sebagai pihak yang paling menderita, mereka berharap memperoleh simpati, dukungan, maupun perhatian dari lingkungan sekitar.
Kemampuan mengatasi masalah yang kurang baik
Orang yang belum memiliki keterampilan menghadapi tekanan atau konflik cenderung lebih mudah menyalahkan keadaan dibanding mencari solusi.
Baca Juga: Prof Djohermansyah: Minta Maaf Tak Cukup, Bupati Purwakarta Layak Dinonaktifkan Sementara
Cara Menyikapi Orang yang Sering Playing Victim
Berhadapan dengan orang seperti ini membutuhkan kesabaran sekaligus batasan yang jelas agar tidak ikut terbawa dalam konflik emosional.
Tetapkan batasan
Tidak semua keluhan harus ditanggapi terus-menerus.
Ketika percakapan hanya berisi pengulangan masalah tanpa keinginan memperbaiki keadaan, tidak ada salahnya mengakhiri diskusi secara baik-baik.
Jangan mudah merasa bersalah
Penting untuk mengingat bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya masing-masing.
Tetap berpegang pada fakta jika ada upaya menyalahkan Anda atas sesuatu yang bukan kesalahan Anda.
Baca Juga: IShowSpeed Diduga Kena Rasisme saat Dukung Cape Verde, FIFA Resmi Buka Penyelidikan
Dorong untuk mencari solusi
Alih-alih ikut larut dalam keluhan, arahkan pembicaraan pada langkah konkret yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
Respons mereka terhadap solusi sering kali menunjukkan apakah mereka benar-benar ingin berubah atau hanya mencari simpati.
Jaga kondisi diri
Interaksi dengan pelaku playing victim bisa menguras energi dan memengaruhi kesehatan mental.
Karena itu, penting untuk tetap menjaga keseimbangan emosi, beristirahat cukup, dan mencari dukungan bila diperlukan.
Baca Juga: Sahid Group Wilayah Jawa Tengah & DIY Gelar CSR dan Wilujengan HUT 2026
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Dalam beberapa kasus, perilaku playing victim yang berlangsung terus-menerus dapat berkaitan dengan gangguan kepribadian tertentu, seperti Borderline Personality Disorder (BPD) maupun Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Jika pola tersebut mulai mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, atau memicu gangguan emosional yang serius, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi pilihan.
Pendampingan profesional membantu seseorang memahami pola pikir yang dimilikinya, belajar bertanggung jawab atas tindakannya, serta mengembangkan cara menghadapi masalah dengan lebih sehat.
Sementara bagi orang yang menjadi sasaran manipulasi emosional, terapi juga dapat membantu memulihkan kondisi psikologis.
Baca Juga: Fakta Unik: Mengapa Sidik Jari Setiap Manusia Tidak Pernah Sama?
Temuan Penelitian
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2020 mengungkapkan bahwa individu dengan kecenderungan interpersonal victimhood memiliki kebutuhan yang tinggi untuk memperoleh pengakuan dari orang lain dan cenderung lebih sulit memaafkan.
Mereka juga lebih mudah menganggap persoalan kecil sebagai bentuk serangan pribadi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mentalitas korban bukan sekadar reaksi sesaat terhadap suatu masalah, tetapi dapat berkembang menjadi pola kepribadian yang menetap.
Baca Juga: Mulai 15 Juli, Harga Telur Ayam dan Ayam Hidup Resmi Naik ke Rp 24.000 dan Rp 19.500
Karena itu, memahami karakteristik playing victim dapat membantu seseorang bersikap lebih objektif dan tidak mudah terjebak dalam manipulasi emosional.
Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Jika konflik yang dihadapi mulai memengaruhi keseharian atau membuat kondisi emosional memburuk, tidak ada salahnya mencari bantuan dari tenaga profesional agar penanganannya lebih tepat.
Editor : Meitika Candra Lantiva