JOGJA - Kesan komunitas sepeda tua hanya menjadi tempat berkumpulnya para orang tua perlahan kini mulai dikikis.
Sebab, di bawah kepengurusan anyar masa bakti 2025-2029, Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) berkomitmen melakukan regenerasi besar-besaran demi menggaet generasi muda sekaligus melestarikan warisan sejarah sepeda di tanah air.
Ketua Umum KOSTI Pusat Purnomo mengatakan jika dalam kepengurusannya saat ini, pihaknya masih membawa amanah besar yang tertuang dalam tiga pilar utama.
Selain memperkuat konsolidasi nasional untuk menyatukan seluruh komunitas ontel, modernisasi organisasi yang adaptif tanpa menghilangkan nilai klasik menjadi fokus utama.
"Bagi kami, KOSTI bukan sekadar perkumpulan pemilik sepeda tua. KOSTI adalah penjaga warisan sejarah, tempat memupuk nasionalisme, wadah silaturahmi, dan penggerak olahraga kemasyarakatan," katanya saat pengukuhan DPP KOSTI Pusat di Museum Benteng Vredeburg, Sabtu (16/5) pagi.
Meski begitu, Purnomo tak menampik tantangan terbesar organisasi saat ini adalah regenerasi. Oleh sebab itu, di era kepengurusannya sekarang pihaknya akan terus mengaungkan program-program yang berskala nasional untuk mengaet anak-anak muda.
"Ke depan, kami juga menggandeng aktivis ontel yang memiliki institusi pendidikan untuk menyiapkan program beasiswa bagi anak-anak ontelis," cetusnya.
Langkah KOSTI untuk melakukan ekspansi ke generasi muda mendapat dukungan penuh dari Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Nasional.
Koordinator Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya (OTKB) KORMI Nasional Risqi Amrulloh mengapresiasi gerakan KOSTI untuk terus menjaga warisan budaya.
"Kalau beberapa tahun lalu yang naik sepeda ini usianya sudah tua-tua, sekarang anak-anaknya sudah mulai pakai sepeda bapaknya," tegasnya.
Bukan tanpa alasan Risqi mengatakan hal tersebut. Sebab baginya, sebagai salah satu Induk Organisasi Olahraga (Inorga) yang bernaung di bawah KORMI, KOSTI dinilai konsisten menunjukkan eksistensinya di tingkat nasional, termasuk dalam gelaran Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas). Apalagi, saat ini, KOSTI tercatat telah aktif bergerak di sekitar 20 provinsi di Indonesia.
Baca Juga: Sirkuit Balap di Tengah Kota Tinggal Kenangan, IMI DIY Sebut Kini Sudah Tidak Mungkin
Maka dari itu, Risqi menilai kehadiran para ontelis di ruang publik selalu berhasil memberikan dampak psikologis positif bagi masyarakat luas melalui konsep olahraga rekreasi yang menghibur.
"Dari rasa tertarik itu, kami harap masyarakat yang tadinya belum berpikir untuk bergerak, jadi mau ikut bersepeda bersama dan sehat bersama," ujarnya. (ayu).
Editor : Bahana.