KESADARAN kesehatan mental di kalangan anak muda di Indonesia terus meningkat. Fenomena ini mendorong keterbukaan untuk mencari bantuan profesional, khususnya psikolog.
Salah satu anak muda yang menggunakan layanan ini adalah Mar'atu Husnia Alfi. "Alasanku karena sudah muncul tanda-tanda yang mengganggu produktivitas," katanya saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, Jumat (24/4).
Tanda-tanda itu, di antaranya, sulit tidur, badan lemas, mudah stres, dan semua hal jadi terasa negatif. Pada masa itu dia mengakui ada banyak ketakutan yang dirasakan, bahkan untuk sekadar bangun tidur.
Baca Juga: Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat Meningkat, Perasaan Malu dan Rikuh 'Berobat' Mulai Terkikis
Mahasiswa UNY ini menyebut seakan-akan dunia tidak lagi berpihak padanya. Sementara solusi yang dia coba tidak menghasilkan apa pun. Pikirannya sempit.
"Sebenarnya tidak harus ada tanda yang besar kalau ke psikolog. Ketika ada perubahan dari diri kita, sudah bisa lakukan konsultasi," tambahnya.
Perempuan yang akrab disapa Alfi ini menjelaskan, dalam tahap awal konseling fokus yang dilakukan adalah pemetaan untuk mencari akar masalah. Proses utama yang dilakukan adalah curhat.
Setelah itu, dia mesti menjalani pendalaman lebih lanjut lewat tes psikologi. Ada delapan tes yang dia jalani untuk menghasilkan evaluasi psikolog sebagai bekal terapi.
Lewat hasil tes itu ada tiga diagnosis utama yang dia dapatkan, yakni major depressive disorder, generalized anxiety disorder, dan obsessive compulsive disorder.
Ada juga diagnosis tambahan berupa psikososial. Termasuk kepribadian mal-adaptif, seperti negativistik dan narsistik. "Sederhananya ada depresi, kecemasan, dan OCD. Lalu aku menarik diri dan enggak bisa berpikir positif," tambahnya.
Untuk bisa pulih dari seluruh diagnosis itu, Alfi bercerita mesti menjalani terapi selama enam bulan. Jenisnya ada berbagai macam, seperti cognitive behavioral therapy, eye movement desensitization and reprocessing, jurnaling, konseling keluarga, hingga terapi suara menggunakan musik. Pemilihan terapi ini bisa berbeda tergantung kebutuhan masing-masing.
Proses konseling dan terapi ini bisa dilakukan seminggu sekali hingga sebulan sekali. Menurutnya, menjalani prosesnya bukan sesuatu yang mudah dan tidak selalu bisa berjalan lancar. Pada masa ini badai psikologi justru muncul karena luka lama justru dipaksa keluar.
Kondisi ini berdampak pada produktivitasnya sehari-hari. Untuk itu dalam menjalani terapi psikologi ini dia harus dibarengi dengan konsumsi obat dari psikiater agar menekan dampak yang muncul.
"Setelah terapi itu aku menjalani tes evaluasi lagi. Hasilnya jauh lebih baik dan sekarang sudah bisa menjalani hari seperti biasa," katanya.
Psikolog membantunya untuk bisa pulih. Untuk itu, dia berpesan agar siapa pun tidak perlu takut untuk datang berkonsultasi. Baginya, psikolog bukan berobat, tetapi mencoba mengenal diri sendiri lebih dalam.
Tidak semua kasus akan semenyeramkan seperti yang dia alami. Bisa jadi dalam proses konseling justru menemukan kelebihan diri yang sebelumnya tidak diketahui. "Lebih meningkatkan self awareness saja. Pokoknya jangan sampai tunggu ada keinginan bunuh diri," pesannya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun