Kebiasaan nongkrong masyarakat di Jogjakarta saat ini mengalami pergeseran. Dulu generasi boomers atau para orang tua menjadikan angkringan atau warung kopi konvensional sebagai andalan tempat nongkrong. Kebiasaan itu mulai hilang dan bergeser ke coffee shop modern yang digandrungi milenial dan gen Z.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Odam Asdi Artosa mengatakan, para anak muda terutama mahasiswa memiliki kecenderungan memilih coffee shop sebagai ruang baru mereka. Berdasarkan salah satu riset yang ia dapatkan, peningkatan coffee shop sangat signifikan dari tahun 2018 hingga 2025.
"Artinya memang pasar tentang coffee shop ini cukup dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Kemudian mendapatkan feedback juga dari generasi Z atau dari mahasiswa-mahasiswi," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (17/4).
Coffee shop saat ini sering dijadikan sebagai ruang sosial. Mereka tak hanya nongkrong, tetapi mengerjakan tugas, belajar, diskusi, dan kegiatan sosial produktif lainnya. Bahkan aktivisme-aktivisme yang terjadi dalam level mahasiswa banyak terjadi dari tongkrongan di coffee shop. "Mereka membicarakan hal-hal yang sederhana sampai yang sifatnya serius," ucapnya.
Dilihat dari kacamata sosiologi, lanjutnya, fenomena tersebut tidak hanya pergeseran ruang tapi juga ada komodifikasi ruang. Tadinya ruang itu hanya untuk ngopi, namun sekarang banyak coffee shop menyediakan sarana pendukung untuk bekerja seperti wifi, colokan, dan sebagainya.
"Para sosiolog menyebutnya the third place atau ruang ketiga. Jadi setelah rumah, setelah kampus, mereka itu mempunyai ruang yaitu ruang ketiga untuk melakukan aktivisme mereka," bebernya.
Atas dasar itu, banyak anak muda yang meninggalkan angkringan dan memilih coffee shop karena lebih banyak fasilitas pendukung untuk bekerja maupun belajar. Merujuk pada buku berjudul The Theory of Leisure Class dari sosiolog Thorstein Veblen, menjabarkan konsep atau satu teori tentang conspicuous consumption.
"Orang atau mahasiswa, subjek itu, melihat sesuatu itu bukan dari utilitasnya. Tapi dari bagaimana itu menciptakan perbedaan atau dalam bahasanya Bourdieu disebut sebagai distinction atau distingsi, pembeda," jelasnya.
Banyak orang yang menilai nongkrong di coffee shop lebih valuable daripada duduk di angkringan. Padahal secara utilitas sama saja, sama-sama cari minuman dan kudapan, tetapi ada value yang berbeda. Perbedaannya ada pada komodifikasi ruang.
Baca Juga: Keunikan Corak Batik Parang Khas Yogyakarta, Simbol Keberanian dan Keteguhan Jiwa
"Di sana menjual desain interior, sedangkan di angkringan ya cuma itu. Sehingga tidak ada yang bisa dipamerkan di dalam media sosial, TikTok misalnya, Instagram oleh anak-anak Gen Z," ucapnya.
Pergeseran itu, lanjutnya, ditandai dengan media sosial yang mulai booming yang tidak dirasakan oleh generasi terdahulu. Misalnya, Instagram yang mulai booming tahun 2010-an hingga tahun 2020-an hingga saat ini TikTok juga populer sekali di kalangan mahasiswa.
"Momentum masifnya penggunaan media sosial ini menjadi salah satu hal yang mempengaruhi bagaimana kemudian para anak muda, Gen Z, memiliki preferensi untuk menggunakan coffee shop itu tadi," jelasnya.
Bahkan, konsep coffee shop saat ini juga diadaptasi oleh sejumlah kantor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kantor yang tadinya berupa bilik-bilik dengan kursi putar, kini mulai diubah seperti coffee shop dengan bean bag lesehan.
"BUMN seperti yang saya kunjungi juga, misalnya PNM, PLN, itu bahkan mereka sudah menyediakan ruang-ruang kerja yang itu untuk Gen Z. Ada pantry-nya, sehingga mereka kalau misalnya bosan bisa bikin kopi, bisa bikin teh dan sebagainya," ucapnya. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo