Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perancang Mode Sebut Sepatu Sneakerina, Pilihan untuk Tampilkan Sisi Feminin tapi Tetap Merasa Nyaman

Delima Purnamasari • Jumat, 17 April 2026 | 20:48 WIB
Perancang mode, dosen Tata Busana, Fakultas Vokasi UNY, Kusminarko Warno. (Foto: dokumentasi pribadi)
Perancang mode, dosen Tata Busana, Fakultas Vokasi UNY, Kusminarko Warno. (Foto: dokumentasi pribadi)

JOGJA - Industri sepatu terus bergerak cepat.

Alas kaki ini kini tidak hanya soal pelindung, tetapi juga jadi simbol gaya hidup dan penunjang performa kegiatan sehari-hari.

Salah satu tren sepatu terkini adalah ballet sneakers atau akrab disebut sneakerina.

Perancang mode Kusminarko Warno menjelaskan, sepatu jenis ini memang gabungan dari sneakers dan balerina.

Kemunculannya berawal dari flatshoes sebagai alternatif karena orang-orang yang lelah menggunakan high heels.

Baca Juga: Ballet Sneakers Banyak Digandrungi Anak Muda dan Dicari Kalangan Ibu-Ibu

Sneakerina sebagai adaptasi dari sneakers juga membuatnya nyaman digunakan untuk bekerja maupun jalan-jalan.

"Sekarang orang itu pengen terlihat feminin gitu walau tetap pakai sneakers.

Jadi munculah sepatu sneakerina ini," katanya dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (10/4/2026).

Pria yang juga dosen Program Studi D4 Sarjana Terapan Tata Busana, Fakultas Vokasi Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menilai, tren sepatu banyak dipengaruhi oleh para influencer yang banyak menggunakannya.

Baca Juga: Tak Sekadar Tren, Pengguna Akui Ballet Sneakers Jadi Solusi Praktis dan Stylish untuk Dukung Mobilitas Harian

Termasuk digunakan pemain film Nawila yang baru-baru ini juga diperbincangkan.

Fenomena ini lalu dilirik oleh merek-merek besar seperti Adidas, Puma, hingga Onitsuka yang membuat produknya jadi semakin kekinian.

Secara desain dia menilai memang jadi tantangan tersendiri.

Apalagi mengingat sepatu balet yang identik digunakan untuk menari dan memiliki ujung datar. 

Hal terpenting adalah kreativitas desainer untuk membuat modifikasi sedemikian rupa.

Baca Juga: Tumbang Tiga Kali Beruntun, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Permasalahan di Timnya: Seperi Memiliki Dua Wajah Berbeda

Misalnya, tiga garis khas Adidas yang bisa ditransformasikan menjadi bentuk pita untuk menunjukkan sisi feminin dari sepatu balerina.

"Tantangan kami sebagai pelaku fesyen memang tidak hanya berkutik pada baju saja, tetapi aksesoris dan milinerisnya," tambahnya.

Sneakerina sebagai adaptasi dari sepatu pantofel ini memang lebih tersegmen bagi perempuan.

Walau demikian, Kusminarko juga menilai adanya pergeseran tren sneakers bagi para pria. 

Jika sebelumnya banyak yang menggunakan alas tebal karena dinilai empuk, kini tak sedikit yang beralih menggunakan alas lebih datar.

Baca Juga: Persiapan Pengisian Jabatan Sekda, Sleman Matangkan Sistem Talent Pool

Secara konsep mirip dengan sneakerina ini. 

Baginya kini orang-orang tidak lagi takut terlihat pendek.

"Sepatu ini sangat fleksibel. Kesannya chic, tapi tetap elegan dan simpel karena tidak meninggalkan unsur estetikanya," ujarnya.

Warna-warna dari sneakerina ini disebut mayoritas juga cenderung netral.

Jadi dia nilai menjadi cocok dan mudah untuk dipadu-padankan dengan baju apa pun.

"Saat ini sepatu itu sudah bagian dari lifestyle.

Harganya bahkan bisa lebih mahal dari baju dan memang berpengaruh pada kepercayaan diri," terangnya. (del/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Sneakerina #Kusminarko Warno #Gaya Hidup #high heels #Balerina Muda