Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ballet Sneakers Banyak Digandrungi Anak Muda dan Dicari Kalangan Ibu-Ibu

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 17 April 2026 | 20:41 WIB
Owner Just.Tip.Jogja Rayi Tinitah (Foto: dokumentasi pribadi)
Owner Just.Tip.Jogja Rayi Tinitah (Foto: dokumentasi pribadi)

JOGJA - Tren sepatu di kalangan anak muda Jogja terus berputar. Belakangan model ballet sneakers menjadi barang buruan. 

Meski bentuknya sekilas menyerupai sepatu tari, sentuhan sol ala sneakers membuatnya jadi primadona baru bagi anak skena hingga kalangan ibu-ibu di Kota Pelajar.

Owner Just.Tip.Jogja Rayi Tinitah mengatakan, fenomena ballet sneakers ini meledak bukan tanpa alasan.

Sebab, desain sepatu tersebut menyerupai slip-on dan dianggap sangat praktis bagi kaum hawa. 

Baca Juga: Tak Sekadar Tren, Pengguna Akui Ballet Sneakers Jadi Solusi Praktis dan Stylish untuk Dukung Mobilitas Harian

Para pemakainya, lanjut Rayi, tidak perlu repot menali sepatu, namun tetap terlihat modis untuk berbagai agenda.

Mulai kegiatan harian, nongkrong, hingga pergi ke kondangan.

"Itu yang cari biasanya anak-anak muda. Tapi ibu-ibu juga ada yang cari,"  jelasnya, Jumat (10/4/2026).

Bagi Rayi, untuk konteks ballet sneakers, merek Puma menjadi yang paling sulit didapatkan.

Sebab, menurutnya, toko setiap kali melakukan restock, mengingat untuk sepatu ini jumlah barang yang masuk sangat terbatas.

Baca Juga: Tumbang Tiga Kali Beruntun, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Permasalahan di Timnya: Seperi Memiliki Dua Wajah Berbeda

"Puma itu paling susah dicari. Sekalinya restock di toko di Jogja, biasanya cuma satu kelompok size 36 sampai 41.

Barang cuma ada satu-satu per ukuran. Jastiper jarang kebagian karena sudah diambil reseller duluan," lontarnya.

Meski merek Puma menjadi kasta tertinggi dalam perburuan ini, Rayi mengatakan tetap ada beberapa merek lain seperti Diadora, Airwalk, hingga merek lokal Volo juga mulai melirik pasar serupa.

Harganya lebih terjangkau di kisaran Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Tapi ya itu, kalau yang lain stoknya banyak tapi peminatnya kurang.

Baca Juga: Persiapan Pengisian Jabatan Sekda, Sleman Matangkan Sistem Talent Pool

Karena jarang diskon. Kalau Puma, harga normal pun tetap banyak yang cari," bebernya. 

Terkait keaslian barang, Rayi mengatakan para jastiper di Jogja biasanya mengandalkan nota pembelian resmi dari gerai di mal-mal besar sebagai bukti kepada pelanggan.

Sebab, sistem pindai barcode saat ini tidak selalu menampilkan visual produk secara detail seperti dulu.

Rayi mengaku jika tantangan terberat bagi Jastiper adalah ketika sebuah barang sedang berada di puncak popularitas.

Mereka sering kali harus berani berspekulasi dengan menyetok barang menggunakan modal sendiri sebelum ada pesanan masuk.

Baca Juga: Mardijiyono Karto Sentono, Calon Jemaah Haji Tertua di DIY dengan Usia 103 Tahun; Demi Wasiat sang Istri, Daftar dan Pelunasan dengan Jual Sapi

"Risikonya ya kalau tidak laku. Tapi kalau tidak gitu, kami tidak kebagian barang," bebernya.

Meski demikian, ia mengatakan jika tren ballet sneakers ini bersifat musiman.

Menurutnya, semua barang itu bersifat musiman. 

"Nanti kalau sudah banyak yang punya, orang mulai cari model lain lagi,"  tandasnya. (ayu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#ballet sneakers #Tren sepatu #liefestyle #Just.Tip.Jogja Rayi Tinitah #fenomena