Konsep ini menolak atau mengabaikan emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, cemas, atau frustrasi, dan menganggap perasaan tersebut sebagai kelemahan, kurangnya rasa syukur, atau bahkan dosa.
Berbeda dengan sikap positif yang sehat dan realistis, toxic positivity memaksa seseorang untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya dan berpura-pura baik-baik saja meskipun sedang terluka.
Hal ini menciptakan tekanan psikologis yang berat karena emosi yang ditekan tidak akan hilang begitu saja, melainkan menumpuk di dalam pikiran bawah sadar dan dapat meledak dalam bentuk masalah mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan, atau bahkan gangguan fisik akibat stres.
Sikap positif yang sehat mengakui bahwa emosi negatif adalah bagian normal dan penting dari kehidupan manusia.
Seseorang boleh dan bahkan perlu merasakan sedih, marah, atau kecewa sebagai respons terhadap situasi yang menyakitkan. Emosi-emosi ini memberikan informasi penting tentang kebutuhan dan batasan diri kita.
Sementara toxic positivity menolak keberadaan emosi negatif dan memaksa diri atau orang lain untuk langsung move on atau berpikir positif tanpa melalui proses penerimaan dan pemulihan yang diperlukan. Hasilnya, luka emosional tidak sembuh dengan sempurna dan dapat muncul kembali di kemudian hari.
Tekanan untuk selalu berpikir positif dapat menimbulkan berbagai dampak buruk pada kesehatan mental.
Seseorang akan merasa bersalah karena merasakan emosi negatif.
Mereka mulai berpikir ada yang salah dengan diri mereka sendiri karena tidak bisa bahagia atau bangkit secepat yang diharapkan orang lain.
Orang yang sedang tertekan akan menarik diri dan tidak mau berbagi perasaan karena takut dianggap lemah, terlalu dramatis, tidak bersyukur, atau membebani orang lain.
Akibatnya, mereka kehilangan dukungan sosial yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam masa sulit. Perasaan yang ditekan tidak hilang, melainkan terus menumpuk dan menggerogoti kesehatan mental dari dalam.
Lama-kelamaan, hal ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan bahkan depresi.
Jika merasa terjebak dalam pola toxic positivity, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, mulailah dengan mengakui bahwa semua emosi adalah valid dan memiliki fungsi.
Tidak ada yang salah dengan merasa sedih, marah, kecewa, atau cemas. Emosi-emosi ini adalah bagian dari proses penyembuhan dan pertumbuhan pribadi yang alamiah.
Belajarlah untuk duduk bersama emosi negatif tanpa langsung mencoba menghilangkannya.
Rasakan dan akui emosi tersebut. Proses ini disebut validasi emosi dan sangat penting untuk kesehatan mental.
Carilah teman yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi atau langsung memberikan nasihat.
Lingkungan suportif akan memberikan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan apa adanya.
Praktikkan self-compassion atau kasih sayang pada diri sendiri. Izinkan diri untuk tidak sempurna dan tidak selalu baik-baik saja.
Ingatlah bahwa kebahagiaan itu penting dan berharga, tetapi mengakui dan merasakan kesedihan juga bagian dari menjadi manusia yang utuh, sehat secara emosional, dan memiliki kedalaman jiwa.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.